Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Tips Menyusun Menu Buka Puasa agar Gak Cepat Ngantuk saat Tarawih

7 Tips Menyusun Menu Buka Puasa agar Gak Cepat Ngantuk saat Tarawih
ilustrasi tips menyusun menu buka puasa agar tidak cepat mengantuk saat tarawih (pexels.com/RDNE Stock project)

Pernahkah kamu merasa semangat ibadah di bulan Ramadan tiba-tiba menguap sesaat setelah menyantap hidangan buka puasa? Faktanya, banyak yang berakhir "tumbang" dan merasa sangat lemas atau mengantuk berat tepat saat muazin mengumandangkan azan Isya untuk memulai salat berjamaah. Fenomena ini biasanya terjadi karena kesalahan dalam memilih jenis makanan. Itulah mengapa kamu perlu tahu tips menyusun menu buka puasa agar tidak cepat mengantuk saat salat Tarawih.

Kondisi mengantuk setelah makan, atau yang sering disebut dengan istilah food coma, sebenarnya bisa dihindari jika kamu memahami cara kerja tubuh dalam mengolah nutrisi. Mungkin kamu merasa perlu "balas dendam" dengan mengonsumsi segala jenis gorengan dan minuman manis secara berlebihan dalam satu waktu. Padahal, lonjakan gula darah yang tiba-tiba diikuti dengan penurunan drastis jadi penyebab utama rasa kantuk yang tak tertahankan di tengah rakaat salat malam, lho. Jadi, simak tips menyusun buka puasa yang tepat, ya!

1. Pilih karbohidrat kompleks

ilustrasi ubi kukus
ilustrasi ubi kukus (freepix.com/Freepix)

Salah satu rahasia utama agar tubuh tetap bertenaga tanpa rasa kantuk adalah mengganti karbohidrat sederhana dengan karbohidrat kompleks. Berdasarkan panduan nutrisi dari Harvard Health, karbohidrat kompleks seperti nasi merah, gandum, atau ubi jalar memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih atau tepung-tepungan. Hal ini membuat proses pelepasan energi ke dalam darah terjadi secara bertahap, sehingga kamu tidak akan mengalami lonjakan insulin yang memicu rasa kantuk.

Kamu bisa mulai menyusun menu dengan menyisipkan sumber serat ini ke dalam piring makan malammu setelah membatalkan puasa dengan air putih. Selain memberikan rasa kenyang yang lebih lama, karbohidrat kompleks juga menjaga stabilitas emosi dan fokus saat kamu mendengarkan bacaan imam di masjid. Pastikan porsinya seimbang dan tidak berlebihan agar perut tak terasa penuh secara mendadak yang justru mengganggu kenyamanan bernapas saat kamu melakukan gerakan rukuk dan sujud.

2. Utamakan protein dan serat

ilustrasi mengonsumsi hidangan yang kaya serat (pexels.com/MART PRODUCTION)
ilustrasi mengonsumsi hidangan yang kaya serat (pexels.com/MART PRODUCTION)

Menambahkan protein berkualitas dan serat melimpah menjadi langkah krusial dalam menyusun strategi makan yang sehat selama Ramadan. Protein dari dada ayam, ikan, atau kacang-kacangan berfungsi untuk memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah. Jika kamu hanya makan gorengan yang kaya lemak, tubuh akan bekerja ekstra keras untuk mencerna makanan tersebut, sehingga aliran darah justru terpusat di perut dan mengurangi suplai oksigen ke otak.

Sayuran hijau seperti bayam atau brokoli juga wajib ada di atas meja makanmu karena kandungan seratnya yang sangat tinggi, lho. Serat berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan agar perut tidak terasa kembung saat kamu melakukan gerakan salat yang dinamis. Cobalah untuk mengolah protein dengan cara dikukus, dipanggang, atau dibuat sup bening yang menyegarkan agar tubuh tetap terasa ringan dan bertenaga sepanjang malam selama menjalankan ibadah.

3. Hindari gula berlebih

ilustrasi memilih buah segar (pexels.com/Alex P)
ilustrasi memilih buah segar (pexels.com/Alex P)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) selalu mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, terutama saat berbuka puasa. Meskipun minuman manis seperti es campur atau sirup terasa sangat menggoda setelah seharian menahan haus, gula sederhana di dalamnya justru menjadi musuh utama bagi kamu. Gula akan memberikan energi instan yang sangat singkat, namun setelah itu tubuh akan merasa sangat lemas atau mengalami fenomena sugar crash.

Sebagai alternatif yang lebih sehat, kamu disarankan untuk mengonsumsi buah-buahan segar yang mengandung gula alami serta serat. Buah seperti semangka, melon, atau pir tidak hanya memberikan rasa manis yang menyegarkan, tetapi juga membantu menghidrasi sel-sel tubuh secara alami. Dengan mengikuti anjuran ini, kamu bisa terhindar dari rasa kantuk akibat sugar spike yang sering terjadi jika terlalu banyak mengonsumsi takjil dengan kandungan pemanis buatan yang tinggi.

4. Batasi makanan berlemak dan gorengan

ilustrasi batasi makanan berlemak dan gorengan saat buka puasa
ilustrasi batasi makanan berlemak dan gorengan saat buka puasa (pexels.com/MART PRODUCTION)

Mengonsumsi gorengan saat berbuka memang sudah menjadi tradisi, namun lemak jenuh dapat memperlambat proses pencernaan secara signifikan, lho. Lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dipecah oleh sistem pencernaan dibandingkan dengan protein atau karbohidrat. Hal inilah yang membuat kamu merasa begah, malas bergerak, dan akhirnya mengantuk karena seluruh energi tubuh difokuskan untuk mengolah lemak yang berat di lambung.

Kamu gak harus menghilangkan gorengan sepenuhnya, namun cobalah membatasi jumlahnya menjadi satu atau dua buah saja. Sebagai pengganti, pilihlah sumber lemak sehat seperti alpukat atau kacang-kacangan yang dipanggang untuk memberikan rasa gurih yang tetap aman bagi tubuh. Mengurangi asupan minyak berlebih akan membuat tubuhmu terasa jauh lebih enteng saat harus berjalan menuju masjid atau berdiri lama dalam rakaat Tarawih yang panjang, lho.

5. Berbuka dengan kurma

ilustrasi berbuka puasa dengan kurma (pexels.com/Anna Tarazevich)
ilustrasi berbuka puasa dengan kurma (pexels.com/Anna Tarazevich)

Kurma mengandung kombinasi gula alami seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa yang dapat memulihkan energi tubuh dengan cepat tanpa membebani pankreas secara berlebihan. Selain itu, kandungan kalium dalam kurma membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan fungsi saraf agar otak tetap waspada dan tak mudah merasa lelah. Kamu cukup mengonsumsi tiga butir kurma dan segelas air putih saat azan Magrib berkumandang sebagai langkah awal membatalkan puasa. 

Cara ini memberikan sinyal pada otak bahwa tubuh sudah mendapatkan asupan energi, sehingga kamu tak akan merasa lapar mata saat melihat hidangan utama nantinya. Nutrisi dalam kurma juga membantu menstabilkan metabolisme tubuh yang sempat melambat selama belasan jam berpuasa agar siap menghadapi aktivitas ibadah di malam hari.

6. Perhatikan porsi makan dan aturan jeda

ilustrasi memperhatikan porsi makan saat berbuka
ilustrasi memperhatikan porsi makan saat berbuka (pexels.com/Michael Burrows)

Sebaiknya hindari makan besar dalam porsi jumbo sesaat setelah perut kosong seharian. Mengonsumsi makanan dalam jumlah besar sekaligus akan membuat lambung meregang secara berlebihan dan memicu pelepasan hormon serotonin yang menyebabkan rasa tenang berlebih hingga mengantuk. Sebaiknya, makanlah dengan porsi kecil namun bergizi seimbang untuk menjaga agar sistem metabolisme tetap bekerja secara optimal tanpa beban berlebih, ya.

Strategi jeda waktu antara takjil dan makan berat juga sangat efektif untuk menjaga tingkat kesadaran kamu tetap stabil. Kamu bisa melaksanakan salat Magrib terlebih dahulu sebelum beralih ke menu utama agar lambung memiliki waktu untuk beradaptasi dengan makanan yang masuk. Dengan mengatur porsi dan waktu makan secara bijak, kamu akan merasa jauh lebih sigap dan terhindar dari rasa malas yang sering muncul akibat perut yang terlalu kenyang.

7. Hidrasi yang cukup tanpa efek samping

ilustrasi hidrasi yang cukup sebelum berpuasa
ilustrasi hidrasi yang cukup sebelum berpuasa (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Hidrasi adalah kunci, namun jenis cairan yang kamu pilih sangat menentukan tingkat kesiagaanmu di malam hari setelah berbuka. Kekurangan cairan atau dehidrasi ringan dapat menyebabkan otak terasa berkabut dan memicu rasa lelah yang luar biasa. Pastikan kamu memenuhi kebutuhan air putih minimal 8 gelas sehari dengan pola 2-4-2, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur.

Sangat disarankan untuk menghindari minuman berkafein seperti kopi atau teh pekat sesaat setelah berbuka puasa jika kamu sensitif terhadap efeknya. Kafein bersifat diuretik yang dapat membuatmu lebih sering buang air kecil dan berisiko menyebabkan dehidrasi jika tak diimbangi dengan air putih yang cukup, lho. Selain itu, hindari minuman yang terlalu dingin karena dapat mengagetkan sistem pencernaan dan menyebabkan kontraksi lambung yang membuat perut terasa tidak nyaman saat beribadah, ya.

Ibadah Ramadan yang berkualitas sangat bergantung pada bagaimana kamu memperlakukan tubuhmu saat waktu berbuka tiba. Dengan menerapkan tujuh tips menyusun menu buka puasa agar tidak cepat mengantuk saat Tarawih di atas, kamu tidak hanya menjaga kesehatan fisik tetapi juga memastikan kualitas ibadah tetap maksimal hingga akhir bulan suci. Mari mulai lebih selektif dalam memilih menu makanan, agar setiap rakaat salat yang kamu jalani terasa lebih ringan, khusyuk, dan penuh energi tanpa gangguan rasa kantuk, ya.

Referensi

“How to have a heart-healthy Ramadan when you’re fasting”. British Heart Foundation. Diakses Februari 2026.

“How to Diet While Fasting Without Feeling Weak and Still Have Energy”. SVRG. Diakses Februari 2026.

“Effects of Time-Restricted Feeding during Ramadan on Dietary Intake, Body Composition and Metabolic Outcomes”. Journal of Nutrients. Diakses Februari 2026. 

“Bulan Puasa Bukan Menambah Porsi Makan, Ingat GGL”. Kemenkes RI. Diakses Februari 2026.

“A good guide to good carbs: The glycemic index”. Harvard Health. Diakses Februari 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Latest in Health

See More

Retatrutide: Obat Obesitas yang Masih Dalam Uji Klinis

03 Mar 2026, 10:02 WIBHealth
Apakah Donor Darah Sakit?

Apakah Donor Darah Sakit?

03 Mar 2026, 03:06 WIBHealth