Studi Global Burden of Disease terbaru yang terbit dalam jurnal Nature Medicine memperkirakan terdapat 18,9 juta kasus dan 115.000 kematian akibat pertusis pada tahun 2023. Analisis terhadap 204 negara dan wilayah itu juga mencatat kemajuan jangka panjang, bahwa sejak 1990, angka kejadian yang disesuaikan menurut usia turun 41,6 persen, sementara angka kematian turun 61,2 persen.
Namun, penurunan angka tersebut tidak berarti pertusis sudah terkendali di semua wilayah. Beban penyakit masih terkonsentrasi. Afrika sub-Sahara menyumbang sekitar 65 persen kematian global, dan bayi berusia di bawah 6 bulan menghadapi risiko kematian tertinggi.
Tercatat ada peningkatan setelah pandemi; jumlah kasus dan kematian pada tahun 2023 lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, ketika pandemi menekan penyebaran banyak penyakit. Namun, jika dibandingkan dengan tahun 2019, tingkat pertusis secara global sebenarnya sudah kembali mendekati kondisi sebelum pandemi, bukan menunjukkan lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perlindungan bayi menjadi bagian penting dari pencegahan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 85 persen bayi di dunia menerima tiga dosis vaksin yang mengandung DTP pada 2025. WHO juga menyatakan vaksinasi saat hamil dapat membantu melindungi bayi yang masih terlalu muda untuk divaksinasi; penerapannya bergantung pada program dan kondisi epidemiologi setempat.
Bagi keluarga, ikuti jadwal imunisasi anak dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ada dosis yang tertunda. Jika bayi tampak kesulitan bernapas atau napasnya berhenti sesaat, segera cari pertolongan medis.
Referensi
GBD 2023 Pertussis Collaborators, Jonathan F. Mosser, and Jue Liu, “Global, Regional and National Burden of Pertussis in 1990–2023: A Global Burden of Disease Study,” Nature Medicine, October 21, 2026, https://www.nature.com/articles/s41591-026-04660-8.
World Health Organization, “Pertussis,” diakses 29 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Whooping Cough,” diakses 29 Oktober 2026.