Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Waspada Kamar Kos Pengap dan Lembap, Ini Dampaknya bagi Kesehatan

3 min read
Waspada Kamar Kos Pengap dan Lembap, Ini Dampaknya bagi Kesehatan
ilustrasi membersihkan kamar kos (pexels.com/SHVETS Production)
  • Kamar lembap dapat mendukung pertumbuhan jamur. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain bercak jamur, bau apek, rembesan, dan embun di permukaan.

  • Paparan lingkungan lembap atau berjamur dapat memicu hidung tersumbat, batuk, mengi, iritasi mata, ruam, atau memperburuk asma. Dampaknya berbeda pada tiap orang.

  • Membuka ventilasi saat udara luar cukup bersih, mengeringkan area basah, dan melaporkan kebocoran kepada pemilik kos membantu mengatasi sumber masalah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sepulang kuliah atau bekerja, kamar kos menjadi tempat untuk beristirahat. Namun, udara yang terasa berat, bau apek, dinding yang basah, atau bercak jamur dapat menjadi tanda bahwa kamar kurang mendapat aliran udara atau memiliki masalah kelembapan. Kalau kamar kos kamu seperti ini, jangan dibiarkan.

Embun pada permukaan, jamur yang terlihat, bau apek, serta riwayat kebocoran atau kerusakan air sebagai indikator kelembapan di dalam bangunan. Kelembapan berlebih dapat mendukung pertumbuhan jamur dan mikroorganisme lain.

  1. Batuk, hidung tersumbat, dan iritasi

    Pada beberapa orang, paparan lingkungan lembap atau berjamur dapat memicu hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, mengi, mata terasa perih atau gatal, hingga ruam kulit. Ada pula orang yang tidak merasakan gejala apa pun. Reaksi bisa dirasakan lebih berat pada orang yang memiliki asma atau alergi terhadap jamur.

    Tinjauan sistematis pada 2024 menelaah 94 penelitian tentang polutan dalam ruangan. Sebanyak 48 penelitian membahas kelembapan atau jamur. Para penulis menyimpulkan bahwa paparan tersebut kemungkinan meningkatkan risiko asma baru, tetapi bukti tentang dampaknya terhadap gejala asma pada orang yang sudah mengalaminya masih belum pasti. Artinya, kamar berjamur dapat menjadi salah satu faktor risiko.

    Hubungan kelembapan dengan infeksi saluran napas juga perlu dibaca hati-hati. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis pada 2023 menemukan hubungan lemah hingga sedang antara jamur atau kelembapan di rumah dan infeksi saluran napas pada anak. Namun, sebagian besar penelitian yang dianalisis bersifat observasional, sehingga belum membuktikan bahwa kamar lembap sendirilah yang menyebabkan infeksi.

    Ventilasi juga penting di kamar yang ditempati bersama. Partikel virus pernapasan bisa lebih mudah menyebar di dalam ruangan dibandingkan di luar ruangan. Memperbaiki ventilasi dapat mengurangi jumlah partikel di udara dan menurunkan paparan terhadap kontaminan di udara.

  2. Yang bisa dilakukan penghuni kos

    Ilustrasi aktivitas membersihkan kamar kos menggunakan peralatan kebersihan dari Cottonbro Studio di Pexels.
    ilustrasi membersihkan kamar kos (pexels.com/cottonbro studio)

    Mulailah dengan mencari sumber lembap. Apakah ada pipa bocor, rembesan dinding, pakaian basah yang lama tergantung, atau kamar mandi yang tidak memiliki ventilasi memadai.

    Jika memungkinkan, buka jendela atau pintu untuk memperlancar aliran udara saat kualitas udara luar cukup baik.

    Kipas ventilasi, AC, atau dehumidifier dapat membantu mengurangi kelembapan. Saran umumnya jaga kelembapan dalam ruangan sekitar 30–60 persen untuk membantu menekan pertumbuhan jamur.

    Jika ada kebocoran atau jamur yang kembali muncul, laporkan kepada pemilik atau pengelola kos. Membersihkan permukaan saja tidak menyelesaikan masalah jika sumber airnya masih ada. Masalah kelembapan dan pertumbuhan mikroba perlu dicegah atau diperbaiki. Pemilik bangunan bertanggung jawab atas pemeliharaan yang mencegah kelembapan berlebih.

    Jika jamur terlihat atau tercium, fokusnya adalah membersihkannya dengan aman dan memperbaiki sumber kelembapannya. Jangan mencampur pemutih dengan amonia atau cairan pembersih lain karena dapat menghasilkan gas beracun.

    Jika mengalami batuk, mengi, atau iritasi mata berulang, terutama saat berada di kamar, catat polanya dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Sesak napas berat perlu pertolongan segera.

    Referensi

    World Health Organization, "WHO Guidelines for Indoor Air Quality: Dampness and Mould," diakses 27 Oktober 2026.

    U.S. Environmental Protection Agency, “Care for Your Air: A Guide to Indoor Air Quality,” diakses 27 Oktober 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Mold,” diakses 27 Oktober 2026.

    Ioana Agache et al., “The Impact of Indoor Pollution on Asthma-Related Outcomes: A Systematic Review for the EAACI Guidelines on Environmental Science for Allergic Diseases and Asthma,” Allergy 79 (2024): 1761–88, https://doi.org/10.1111/all.16051.

    Jonathan Groot et al., “Exposure to Residential Mold and Dampness and the Associations with Respiratory Tract Infections and Symptoms Thereof in Children in High Income Countries: A Systematic Review and Meta-Analyses of Epidemiological Studies,” Paediatric Respiratory Reviews 48 (2023): 47–64, https://doi.org/10.1016/j.prrv.2023.06.003.

    National Institute for Occupational Safety and Health, “Ventilation and Respiratory Viruses,” diakses 27 Oktober 2026.

    U.S. Environmental Protection Agency, “Ten Things You Should Know about Mold,” diakses 27 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More