Referensi
GBD 2023 Pertussis Collaborators, Jonathan F. Mosser, and Jue Liu, “Global, Regional and National Burden of Pertussis in 1990–2023: A Global Burden of Disease Study,” Nature Medicine, October 21, 2026, https://www.nature.com/articles/s41591-026-04660-8.
World Health Organization, “Pertussis,” diakses 29 Oktober 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Symptoms of Whooping Cough,” diakses 29 Oktober 2026.
18,9 Juta Kasus Pertusis, Bayi Muda Paling Berisiko

Studi Global Burden of Disease memperkirakan 18,9 juta kasus dan 115.000 kematian akibat pertusis pada 2023, meski angka kejadian dan kematian telah menurun sejak 1990.
Beban kematian pertusis terkonsentrasi di Afrika sub-Sahara sekitar 65 persen, sementara bayi usia di bawah 6 bulan menghadapi risiko kematian tertinggi dan dapat mengalami henti napas.
WHO mencatat 85 persen bayi menerima tiga dosis vaksin DTP pada 2025; vaksinasi saat hamil dan kepatuhan jadwal imunisasi membantu melindungi bayi.
Pertusis, yang dikenal sebagai batuk rejan, sering kali diawali dengan gejala ringan mirip pilek, seperti hidung berair, demam ringan, dan batuk sesekali. Namun, dalam satu hingga dua minggu, batuk bisa makin parah dan muncul berulang kali dalam serangan yang kuat.
Gejala pada bayi tidak selalu berupa batuk. Sebagian bayi justru dapat mengalami henti napas sesaat atau kesulitan bernapas, sehingga tanda penyakit ini sering kali lebih sulit dikenali.
Pertusis masih menjadi ancaman bagi bayi
Studi Global Burden of Disease terbaru yang terbit dalam jurnal Nature Medicine memperkirakan terdapat 18,9 juta kasus dan 115.000 kematian akibat pertusis pada tahun 2023. Analisis terhadap 204 negara dan wilayah itu juga mencatat kemajuan jangka panjang, bahwa sejak 1990, angka kejadian yang disesuaikan menurut usia turun 41,6 persen, sementara angka kematian turun 61,2 persen.
Namun, penurunan angka tersebut tidak berarti pertusis sudah terkendali di semua wilayah. Beban penyakit masih terkonsentrasi. Afrika sub-Sahara menyumbang sekitar 65 persen kematian global, dan bayi berusia di bawah 6 bulan menghadapi risiko kematian tertinggi.
Tercatat ada peningkatan setelah pandemi; jumlah kasus dan kematian pada tahun 2023 lebih tinggi dibandingkan tahun 2020, ketika pandemi menekan penyebaran banyak penyakit. Namun, jika dibandingkan dengan tahun 2019, tingkat pertusis secara global sebenarnya sudah kembali mendekati kondisi sebelum pandemi, bukan menunjukkan lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perlindungan bayi menjadi bagian penting dari pencegahan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut 85 persen bayi di dunia menerima tiga dosis vaksin yang mengandung DTP pada 2025. WHO juga menyatakan vaksinasi saat hamil dapat membantu melindungi bayi yang masih terlalu muda untuk divaksinasi; penerapannya bergantung pada program dan kondisi epidemiologi setempat.
Bagi keluarga, ikuti jadwal imunisasi anak dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ada dosis yang tertunda. Jika bayi tampak kesulitan bernapas atau napasnya berhenti sesaat, segera cari pertolongan medis.










![[QUIZ] Gaya Larimu Bisa Ungkap Cara Kamu Menghadapi Hidup](https://image.idntimes.com/post/20260804/mwuep2hrca5w9qlbdxkci8rch_0a3c7963-22c0-42a8-afa2-de6c989c3307.png)





![[QUIZ] Playlist Sebelum Tidur Kamu Bisa Cerminkan Kondisi Mentalmu](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)


![[QUIZ] Dari Warna Sepatu Olahragamu, Kami Tebak Cara Kamu Hadapi Tantangan](https://image.idntimes.com/post/20260718/upload_81eef7479c8aeb23b53726edf15fecd4_1085b833-0382-4947-ba19-8d7bad3edfd5.png)


