Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Anak Jadi Korban Kekerasan, Orang Tua Juga Perlu Dukungan Psikolog

Anak Jadi Korban Kekerasan, Orang Tua Juga Perlu Dukungan Psikolog
ilustrasi kekerasan terhadap anak (IDN Times/Aditya Pratama)
Intinya Sih
  • Orang tua yang mengetahui anaknya menjadi korban kekerasan disarankan mendapat pendampingan psikologis agar mampu mengelola emosi seperti marah, sedih, atau rasa bersalah dengan lebih sehat.
  • Pendampingan psikologis membantu orang tua memahami kebutuhan anak, membangun respons suportif, dan menciptakan lingkungan rumah yang aman sehingga proses pemulihan anak berjalan optimal.
  • Psikolog klinis anak berperan menilai kondisi emosional anak, memberi arahan kepada orang tua, serta menentukan langkah intervensi lanjutan untuk mencegah dampak jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mengetahui anak menjadi korban kekerasan adalah pengalaman yang bisa mengguncang kondisi emosional orang tua. Perasaan marah, sedih, bersalah, hingga trauma kerap muncul bersamaan setelah kejadian terungkap. Dalam situasi seperti ini, fokus perhatian biasanya tertuju pada pemulihan anak, padahal kesehatan mental orang tua juga perlu diperhatikan.

Kondisi emosional yang tidak tertangani dapat memengaruhi kemampuan mereka mendampingi anak selama proses pemulihan. Lalu, apakah orang tua juga perlu mendapatkan pendampingan psikologis setelah mengetahui anak mengalami kekerasan?

Table of Content

Orang tua disarankan menerima pendampingan

Orang tua disarankan menerima pendampingan

Orang tua dari anak yang menjadi korban kekerasan sangat disarankan untuk menerima pendampingan psikologis ketika anak mengalami situasi seperti ini.

"Ketika mengetahui anak mengalami kekerasan, orang tua bisa merasakan berbagai emosi, seperti rasa marah, bersalah, sedih, malu, atau bahkan merasa gagal melindungi anak. Orang tua perlu memahami bahwa kondisi emosional seperti demikian sangatlah wajar dan valid," kata Ratih Ibrahim, senior clinical psychologist, Direktur Personal Growth, Tim Ahli Pokja Keswa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kepada IDN Times.

Kondisi emosional yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi bagaimana cara orang tua dalam berinteraksi dengan anak. Pendampingan psikologis dapat membantu orang tua dalam mengelola emosi yang muncul, memahami kebutuhan anak dengan lebih tepat, serta membangun pola respons yang suportif dan konsisten.

Proses pemulihan luka psikologis anak akan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan terdekatnya. Ketika orang tua juga merasa lebih stabil secara emosional, mereka akan lebih mampu menjadi sumber rasa aman bagi anak.

Lakukan komunikasi yang tepat dengan anak

Ilustrasi seorang anak menangis dan meringkuk ketakutan dikelilingi tangan orang dewasa yang menunjuk, mengepal, dan mengancam.
ilustrasi kekerasan terhadap anak (IDN Times/Sukma Shakti)

Orang tua perlu memberikan bahasa yang sederhana dan sesuai usia pada anak yang diduga mengalami kekerasan. Penting untuk tidak memaksa anak bercerita serta memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan dirinya dengan kata, permainan atau gambar.

"Pendekatan yang paling efektif untuk dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan menciptakan suasana rumah yang aman dan tidak menghakimi. Sebisa mungkin, hindari juga pertanyaan yang menekan atau bernada menyudutkan," ujar Ratih.

Pertanyaan yang harus dihindari meliputi: "Kamu tadi diapain?" atau "Kamu kenapa diam saja?". Gunakan pertanyaan terbuka seperti "Hari ini aktivitasnya apa?" atau "Adakah hal yang tadi membuat kamu kurang nyaman?".

Selain itu, penting pula untuk memperhatikan cara orang tua merespons cerita anak. Berikan validasi dan tidak langsung mengambil kesimpulan sendiri ketika anak sudah mulai bercerita. Respons yang tenang dan suportif akan membantu anak dalam merasa aman untuk terbuka, tanpa merasa takut atau bersalah.

Pentingnya pendampingan pada anak

Pendampingan dari psikolog klinis anak dapat menjadi sangat penting, dan idealnya memang harus dilakukan sedini mungkin. Tujuannya untuk membantu anak memproses pengalaman yang mungkin belum dapat dipahami.

"Kita perlu memperhatikan perubahan pada perilaku, emosi, pola tidur atau makan serta interaksi sosialnya. Namun, bukan berarti semua anak harus langsung menjalani terapi intensif. Dalam beberapa kasus, orang tua bisa terlebih dahulu membangun kembali rasa aman anak di rumah," imbuh Ratih.

Peran dari para psikolog klinis anak adalah untuk membantu asesmen kondisi anak, memberikan arahan kepada orang tua, serta menentukan apakah intervensi lanjutan diperlukan. Dengan pendekatan yang tepat, risiko dampak jangka panjang dapat diminimalkan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More