Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Cedera Kepala Bisa Menyebabkan Tumor Otak?

Apakah Cedera Kepala Bisa Menyebabkan Tumor Otak?
ilustrasi cedera kepala (pexels.com/Karolina Grabowska)
Intinya Sih
  • Penelitian menunjukkan belum ada bukti pasti bahwa cedera kepala menyebabkan tumor otak, meski cedera berat bisa sedikit meningkatkan risiko munculnya glioma.
  • Cedera kepala diduga memicu perubahan pada sel astrocyte yang sudah memiliki mutasi genetik, menciptakan kondisi yang memungkinkan perkembangan tumor otak tertentu.
  • Risiko meningkat terutama pada cedera otak sedang hingga berat atau berulang, namun peluang seseorang mengalami tumor otak setelah cedera tetap sangat rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak orang khawatir bahwa benturan keras di kepala akibat kecelakaan, jatuh, atau cedera saat berolahraga dapat memicu munculnya tumor otak di kemudian hari. Kekhawatiran ini cukup wajar, terutama jika cedera tersebut tergolong serius. Akan tetapi, benarkah cedera kepala bisa menyebabkan tumor otak?

Hingga saat ini, para ilmuwan belum menemukan bukti yang benar-benar memastikan bahwa cedera kepala merupakan penyebab langsung tumor otak. Namun, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa cedera kepala berat mungkin dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami jenis tumor otak tertentu. Meski begitu, peningkatan risikonya tetap tergolong kecil. 

Table of Content

1. Studi tentang cedera kepala dan tumor otak

1. Studi tentang cedera kepala dan tumor otak

Hubungan antara cedera kepala dan tumor otak telah menjadi bahan penelitian selama puluhan tahun. Sayangnya, hasil yang diperoleh masih belum sepenuhnya konsisten.

Salah satu penelitian besar yang diterbitkan pada tahun 1979 mengikuti 2.953 orang selama hampir 30 tahun setelah mengalami cedera kepala. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah kasus tumor otak pada kelompok tersebut tidak berbeda secara signifikan dibandingkan populasi umum. Peneliti menyimpulkan bahwa jika memang ada peningkatan risiko, angkanya sangat kecil. (Neurosurgery, 1978)

Namun, pada tahun 2023, tim peneliti dari University College London (UCL) menemukan bahwa orang yang pernah mengalami cedera kepala memiliki kemungkinan hampir empat kali lebih besar mengalami glioma, yaitu salah satu jenis tumor otak ganas yang cukup agresif. Temuan tersebut diperoleh setelah peneliti menganalisis data kesehatan lebih dari 20.000 pasien yang pernah mengalami cedera kepala. Meskipun hasilnya menarik, para peneliti menegaskan bahwa hubungan ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan apakah cedera benar-benar menjadi penyebab atau hanya salah satu faktor yang meningkatkan risiko. (Current Biology, 2023)

2. Bagaimana cedera kepala diduga memengaruhi risiko tumor otak

Para ilmuwan mulai memahami mekanisme biologis yang mungkin menjelaskan hubungan tersebut. Ketika otak mengalami benturan, jaringan otak akan mengalami peradangan sebagai bagian dari proses penyembuhan. Penelitian dari UCL menemukan bahwa kondisi ini dapat memengaruhi sel astrocyte, yaitu sel pendukung yang berfungsi menjaga kesehatan neuron.  (Current Biology, 2023)

Dalam keadaan tertentu, terutama jika sel tersebut telah memiliki mutasi genetik sebelumnya, cedera dapat membuat astrocyte kembali bersifat seperti sel punca (stem cell). Sel yang kembali aktif membelah ini berpotensi mengalami perubahan yang akhirnya berkembang menjadi glioma.

Dengan kata lain, cedera kepala bukanlah penyebab tunggal tumor otak. Cedera diduga hanya menciptakan lingkungan yang memungkinkan mutasi yang sudah ada berkembang menjadi kanker pada sebagian kecil orang.

3. Apakah semua cedera kepala memiliki risiko yang sama

ilustrasi cedera kepala (freepik.com/wayhomestudio)
ilustrasi cedera kepala (freepik.com/wayhomestudio)

Tidak. Tingkat keparahan cedera ternyata sangat memengaruhi risikonya. Penelitian menemukan bahwa orang dewasa yang mengalami cedera otak traumatis sedang hingga berat (moderate to severe traumatic brain injury/TBI) memiliki risiko sekitar 50% lebih tinggi mengalami tumor otak ganas dibandingkan mereka yang tidak mengalami cedera.

Sebaliknya, penelitian tersebut tidak menemukan peningkatan risiko pada orang yang hanya mengalami cedera kepala ringan, seperti gegar otak ringan atau benturan yang tidak menyebabkan kerusakan otak serius. (JAMA Network Open, 2025)

Namun, cedera kepala yang terjadi berulang kali kemungkinan memberikan risiko lebih besar dibandingkan satu kali benturan saja. Akan tetapi, bukti ilmiahnya masih terus dikaji.

4. Seberapa besar risiko sebenarnya

Meskipun beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko, penting untuk memahami bahwa risiko absolutnya tetap sangat rendah. Secara umum, kemungkinan seseorang mengalami kanker otak sepanjang hidupnya kurang dari 1%. Jadi, meskipun cedera kepala berat dapat meningkatkan risiko secara relatif, peluang seseorang benar-benar mengalami tumor otak tetap kecil. (Current Biology, 2023)

Karena itu, seseorang yang pernah mengalami benturan kepala tidak perlu langsung khawatir akan terkena tumor otak. Sebagian besar orang yang mengalami cedera kepala tidak akan pernah mengalami kondisi tersebut.

5. Kapan harus memeriksakan diri ke dokter

Setelah mengalami cedera kepala, sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila muncul gejala, seperti:

  • Sakit kepala yang terus-menerus atau semakin berat
  • Mual dan muntah berulang
  • Gangguan penglihatan
  • Tubuh terasa lemah atau sulit menggerakkan salah satu sisi tubuh
  • Sulit berbicara atau memahami pembicaraan
  • Kejang
  • Kebingungan, mengantuk berlebihan, atau penurunan kesadaran

Gejala-gejala tersebut belum tentu menandakan adanya tumor otak, tetapi dapat menunjukkan adanya cedera otak serius yang memerlukan penanganan segera.

Pada akhirnya, bukti ilmiah saat ini menunjukkan bahwa cedera kepala bukan penyebab langsung tumor otak. Namun, cedera otak sedang hingga berat diduga dapat menjadi salah satu faktor yang sedikit meningkatkan risiko berkembangnya beberapa jenis tumor otak, terutama glioma. Meski demikian, peluang terjadinya tumor otak setelah cedera tetap sangat rendah, sehingga tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Yang terpenting adalah mendapatkan penanganan yang tepat setelah cedera kepala dan segera memeriksakan diri jika muncul gejala yang mengkhawatirkan.

Referensi

Annegers, J. F., Laws, E. R., Kurland, L. T., & Grabow, J. D. (1979). Head trauma and subsequent brain tumors. Neurosurgery, 4(3), 203–206. https://doi.org/10.1227/00006123-197903000-00001
Marini, S., Alwakeal, A. R., Mills, H., Bernstock, J. D., Mashlah, A., Hassan, M. T., Gerstl, J., Radmanesh, F., Schenk, G., Israni, S., Grashow, R., Chiocca, E. A., Halabi, C., DiGiorgio, A., Magill, S. T., Manley, G. T., Izzy, S., & Zafonte, R. (2025). Traumatic brain injury and risk of malignant brain tumors in civilian populations. JAMA Network Open, 8(8), e2528850. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2025.28850
MedShun. Diakses pada Juni 2026. The Connection Between Head Trauma And Brain Cancer: What You Need To Know
Ragdale, H. S., Clements, M., Tang, W., Deltcheva, E., Andreassi, C., Lai, A. G., Chang, W. H., Pandrea, M., Andrew, I., Game, L., Uddin, I., Ellis, M., Enver, T., Riccio, A., Marguerat, S., & Parrinello, S. (2023). Injury primes mutation-bearing astrocytes for dedifferentiation in later life. Current Biology, 33(6), 1082-1098.e8. https://doi.org/10.1016/j.cub.2023.02.013
UCL Cancer Institute. Diakses pada Juni 2026. Head Injuries Could be a Risk Factor for Developing Brain Cancer
University of Missouri. Diakses pada Juni 2026. Brain Injury Increases Risk of Developing Brain Tumor

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More