Operasi selesai bukan berarti proses transplantasi berakhir. Justru, masa setelah operasi menjadi tahap yang sangat penting.
Tubuh manusia memiliki sistem kekebalan yang bertugas mengenali benda asing. Karena organ donor berasal dari orang lain, sistem imun penerima dapat menganggap organ tersebut sebagai sesuatu yang asing dan berusaha menyerangnya. Kondisi ini dikenal sebagai penolakan organ.
Untuk menekan risiko tersebut, pasien biasanya harus mengonsumsi obat imunosupresan dalam jangka panjang, bahkan sering kali seumur hidup. Obat ini membantu sistem kekebalan tubuh menerima organ baru, tetapi di sisi lain dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan komplikasi tertentu.
Karena itu, pasien transplantasi perlu menjalani pemeriksaan rutin, termasuk tes darah dan kontrol ke dokter. Dosis obat juga harus diminum sesuai anjuran dan tidak boleh dihentikan sembarangan.
Dalam menerima organ baru, ada rangkaian panjang di baliknya. Mulai dari proses seleksi dan pencocokan donor, operasi yang dilakukan dengan cepat dan presisi, hingga perawatan seumur hidup untuk menjaga organ tersebut tetap berfungsi.
Inilah yang membuat transplantasi organ bukan hanya menjadi prosedur medis yang kompleks, tetapi juga sebuah proses yang butuh kerja sama, ketelitian, dan sistem donasi yang aman serta beretika.
Referensi
Cleveland Clinic. Diakses pada Agustus 2026. "Organ Donation and Transplantation."
Everday Health. Diakses pada Agustus 2026. "How Long Do Organ Transplants Last? Plus 9 More Facts to Know About Transplantation."
OrganDonation. Diakses pada Agustus 2026. "How Does the Donor Surgery Work?"
Science Insights. Diakses pada Agustus 2026. "What Is an Organ Transplant? How the Process Works."
Sparsh Hospital. Diakses pada Agustus 2026. "Organ Transplant: Everything You Need to Know."