Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Bahan Herbal untuk Membantu Menjaga Kesehatan Liver

6 Bahan Herbal untuk Membantu Menjaga Kesehatan Liver
ilustrasi bahan herbal yang bisa bantu menjaga kesehatan hati atau liver (unsplash.com/Conscious Design)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Sejumlah herbal seperti milk thistle, kunyit, dan artichoke memiliki bukti ilmiah mendukung kesehatan liver.

  • Efektivitas herbal bergantung pada dosis, bentuk sediaan, dan kondisi individu.

  • Tidak semua herbal aman, beberapa justru bisa memicu cedera hati bila digunakan tidak tepat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Liver bekerja tanpa henti—menyaring racun, memetabolisme obat, hingga mengatur keseimbangan nutrisi dalam tubuh. Namun, gaya hidup modern, paparan polutan, konsumsi alkohol, dan obat-obatan membuat organ ini semakin rentan mengalami gangguan. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang mulai melirik herbal sebagai cara alami untuk “menjaga” atau bahkan “memulihkan” fungsi hati.

Di sisi lain, klaim tentang herbal untuk liver sering kali bercampur antara fakta dan mitos. Tidak semua herbal memiliki bukti ilmiah yang kuat, dan tidak semuanya aman digunakan dalam jangka panjang. Artikel ini merangkum herbal yang telah diteliti secara ilmiah, lengkap dengan mekanisme kerja, dosis yang digunakan dalam studi, serta hal-hal penting yang perlu diperhatikan.

Table of Content

1. Milk Thistle (Silybum marianum)

1. Milk Thistle (Silybum marianum)

Milk thistle adalah salah satu herbal paling banyak diteliti untuk kesehatan liver. Senyawa aktif utamanya, silymarin, memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, dan antifibrotik. Silymarin bekerja dengan menstabilkan membran sel hati dan meningkatkan regenerasi hepatosit (sel hati).

Sejumlah studi klinis menunjukkan bahwa silymarin dapat membantu menurunkan kadar enzim hati (ALT, AST) pada pasien dengan penyakit hati kronis, termasuk non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Sebuah metaanalisis menemukan perbaikan signifikan pada parameter fungsi hati, meskipun efeknya bervariasi antarindividu.

Dosis yang umum digunakan dalam studi berkisar antara 420–600 mg silymarin per hari, dibagi dalam beberapa dosis. Milk thistle relatif aman, tetapi dapat berinteraksi dengan obat tertentu seperti statin atau antikoagulan. Efek samping yang dilaporkan umumnya ringan, seperti gangguan pencernaan.

2. Kunyit (Curcuma longa)

Bubuk kunyit berwarna oranye terang di atas sendok dan wadah kecil dengan potongan rimpang kunyit di meja kayu gelap.
ilustrasi kunyit yang dapat memberi manfaat buat liver (pexels.com/Karl Solano)

Kunyit mengandung kurkumin, senyawa bioaktif dengan sifat antiinflamasi dan antioksidan kuat. Kurkumin diketahui menghambat jalur inflamasi seperti NF-kB, yang berperan dalam kerusakan hati kronis.

Menurut temuan studi, suplementasi kurkumin dapat memperbaiki steatosis (penumpukan lemak di hati) pada pasien NAFLD. Selain itu, kurkumin juga membantu mengurangi stres oksidatif yang menjadi faktor utama kerusakan hati.

Dosis yang digunakan dalam studi berkisar antara 500–1.500 mg kurkumin per hari. Karena bioavailabilitasnya rendah, sering dikombinasikan dengan piperin (ekstrak lada hitam). Konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan lambung, dan perlu hati-hati pada orang dengan gangguan empedu.

3. Licorice (Glycyrrhiza glabra)

Licorice mengandung glycyrrhizin, senyawa yang memiliki efek antiinflamasi dan antivirus. Dalam konteks liver, glycyrrhizin telah digunakan dalam terapi tambahan untuk hepatitis, terutama di Jepang.

Menurut penelitian, glycyrrhizin dapat menurunkan kadar ALT pada pasien hepatitis kronis. Mekanismenya melibatkan pengurangan peradangan dan perlindungan terhadap kerusakan sel hati. (Catatan: Kadar ALT adalah ukuran enzim alanin aminotransferase dalam darah yang dipakai sebagai penanda kerusakan sel hati. Jika ALT naik, kemungkinan ada cedera atau peradangan hati; jika turun, misalnya setelah pengobatan, itu biasanya menandakan perbaikan)

Namun, penggunaan licorice harus hati-hati. Dosis tinggi atau penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek samping seperti hipertensi dan hipokalemia. Dosis yang digunakan dalam studi biasanya dalam bentuk ekstrak terstandarisasi, bukan akar mentah.

4. Artichoke (Cynara scolymus)

Dua buah artichoke segar di atas permukaan kayu, satu utuh dan satu dibelah memperlihatkan bagian dalam berwarna ungu dan hijau.
ilustrasi artichoke, dapat mendukung kesehatan liver (freepik.com/8photo)

Artichoke dikenal karena kemampuannya meningkatkan produksi empedu (choleretic effect), yang membantu proses detoksifikasi alami hati. Senyawa aktif seperti cynarin dan luteolin berperan dalam melindungi sel hati dari kerusakan oksidatif.

Studi menunjukkan bahwa ekstrak daun artichoke dapat menurunkan kadar enzim hati dan memperbaiki profil lipid pada pasien dengan gangguan hati ringan. Ini menjadikannya relevan untuk kondisi seperti dislipidemia yang berkaitan dengan kesehatan liver.

Dosis umum dalam penelitian berkisar antara 600–1.800 mg ekstrak per hari. Artichoke relatif aman, tetapi tidak dianjurkan untuk individu dengan obstruksi saluran empedu.

5. Teh hijau (Camellia sinensis)

Teh hijau kaya akan katekin, terutama epigallocatechin gallate (EGCG), yang memiliki efek antioksidan kuat. EGCG membantu mengurangi akumulasi lemak di hati dan menekan stres oksidatif.

Studi menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau dapat membantu memperbaiki profil enzim hati dan mengurangi perlemakan hati. Ini membuatnya relevan sebagai bagian dari strategi gaya hidup sehat untuk liver.

Namun, penting dicatat bahwa ekstrak teh hijau dosis tinggi justru dikaitkan dengan kasus cedera hati. Konsumsi aman biasanya sekitar 2–3 cangkir per hari, bukan dalam bentuk suplemen dosis tinggi tanpa pengawasan.

6. Schisandra (Schisandra chinensis)

Tandan buah schisandra merah bergelantungan di tanaman merambat dengan latar belakang dedaunan hijau dan seseorang di kejauhan.
ilustrasi schisandra atau magnolia vines (pexels.com/현덕 김)

Schisandra adalah herbal tradisional yang digunakan dalam pengobatan Tiongkok. Senyawa lignan di dalamnya memiliki efek hepatoprotektif dengan meningkatkan enzim detoksifikasi hati.

Penelitian menunjukkan bahwa schisandra dapat meningkatkan kapasitas detoksifikasi dan melindungi hati dari kerusakan akibat toksin. Efek ini menjadikannya menarik dalam konteks paparan lingkungan modern.

Dosis dalam studi bervariasi, tetapi biasanya dalam bentuk ekstrak terstandarisasi. Efek samping relatif jarang, tetapi tetap perlu pengawasan bila dikombinasikan dengan obat.

Herbal dapat menjadi bagian dari pendekatan komprehensif untuk menjaga kesehatan liver. Milk thistle, kunyit, artichoke, licorice, green tea, dan schisandra adalah beberapa yang paling banyak diteliti dan menunjukkan potensi manfaat nyata.

Namun, penting untuk memahami bahwa alami tidak selalu berarti aman. Dosis, interaksi obat, dan kondisi kesehatan individu sangat menentukan efeknya. Pendekatan terbaik tetap menggabungkan gaya hidup sehat, pola makan seimbang, dan konsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi herbal secara rutin.

Referensi

Ludovico Abenavoli et al., “Milk Thistle in Liver Diseases: Past, Present, Future,” Phytotherapy Research 24, no. 10 (June 7, 2010): 1423–32, https://doi.org/10.1002/ptr.3207.

L. Abenavoli and N. Milic, “Silymarin for Liver Disease,” in Elsevier eBooks, 2017, 621–31, https://doi.org/10.1016/b978-0-12-804274-8.00045-x.

Susan Hewlings and Douglas Kalman, “Curcumin: A Review of Its Effects on Human Health,” Foods 6, no. 10 (October 22, 2017): 92, https://doi.org/10.3390/foods6100092.

Yunes Panahi et al., “Efficacy and Safety of Phytosomal Curcumin in Non-Alcoholic Fatty Liver Disease: A Randomized Controlled Trial,” Drug Research 67, no. 04 (February 3, 2017): 244–51, https://doi.org/10.1055/s-0043-100019.

Rolf Gebhardt, “Antioxidative and Protective Properties of Extracts From Leaves of the Artichoke (Cynara Scolymus L.) Against Hydroperoxide-Induced Oxidative Stress in Cultured Rat Hepatocytes,” Toxicology and Applied Pharmacology 144, no. 2 (June 1, 1997): 279–86, https://doi.org/10.1006/taap.1997.8130.

Rafe Bundy et al., “Artichoke Leaf Extract (Cynara Scolymus) Reduces Plasma Cholesterol in Otherwise Healthy Hypercholesterolemic Adults: A Randomized, Double Blind Placebo Controlled Trial,” Phytomedicine 15, no. 9 (April 18, 2008): 668–75, https://doi.org/10.1016/j.phymed.2008.03.001.

Cristina Fiore et al., “Antiviral Effects of Glycyrrhiza Species,” Phytotherapy Research 22, no. 2 (September 20, 2007): 141–48, https://doi.org/10.1002/ptr.2295.

T. G. J. Van Rossum et al., “Glycyrrhizin as a Potential Treatment for Chronic Hepatitis C,” Alimentary Pharmacology & Therapeutics 12, no. 3 (March 1, 1998): 199–205, https://doi.org/10.1046/j.1365-2036.1998.00309.x.

Zheming Yu et al., “Effect of Green Tea Supplements on Liver Enzyme Elevation: Results From a Randomized Intervention Study in the United States,” Cancer Prevention Research 10, no. 10 (August 1, 2017): 571–79, https://doi.org/10.1158/1940-6207.capr-17-0160.

Ryuichiro Sakata et al., “Green Tea With High-density Catechins Improves Liver Function and Fat Infiltration in Non-alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) Patients: A Double-blind Placebo-controlled Study,” International Journal of Molecular Medicine 32, no. 5 (September 20, 2013): 989–94, https://doi.org/10.3892/ijmm.2013.1503.

Alexander Panossian and Georg Wikman, “Pharmacology of Schisandra Chinensis Bail.: An Overview of Russian Research and Uses in Medicine,” Journal of Ethnopharmacology 118, no. 2 (April 25, 2008): 183–212, https://doi.org/10.1016/j.jep.2008.04.020.

Agnieszka Szopa et al., “Bioreactor Type Affects the Accumulation of Phenolic Acids and Flavonoids in Microshoot Cultures of Schisandra Chinensis (Turcz.) Baill.,” Plant Cell Tissue and Organ Culture (PCTOC) 139, no. 1 (August 28, 2019): 199–206, https://doi.org/10.1007/s11240-019-01676-6.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
novita ayu
Mayang Ulfah Narimanda
3+
novita ayu
Editornovita ayu
Follow Us

Related Articles

See More