Dampak banjir biasa dirasakan oleh siapa pun yang terdampak, tak terkecuali perempuan. Tempat tinggal tergenang atau bahkan rusak parah, aktivitas harian terhenti, hingga kebutuhan dasar sulit diakses. Dalam pencarian tempat aman, tubuh sering bekerja lebih keras untuk beradaptasi, termasuk sistem reproduksi yang sangat sensitif terhadap stres dan perubahan lingkungan.
Bagi banyak perempuan, menstruasi bulanan adalah tanda tubuh berjalan sebagaimana mestinya. Namun selama bencana, ritme ini dapat berubah. Stres ekstrem, tidur tidak teratur, konsumsi makanan seadanya, serta sanitasi minim—semuanya bisa membuat tubuh kehilangan keseimbangannya. Di lapangan, para relawan kesehatan kerap mendengar keluhan “telat haid”, “perdarahan bercak”, hingga menstruasi yang tiba-tiba berhenti.
Fenomena ini bukan hal baru. Studi dari American College of Obstetricians and Gynecologists mencatat bahwa stres berat dapat mengganggu hipotalamus, yang pusat kendali hormon, yang mengatur ovulasi. Jika mekanisme ini terganggu, menstruasi bisa berhenti sementara atau menjadi kacau.
