Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sudah Dioperasi, Kenapa Batu Ginjal Bisa Muncul Lagi?

Sudah Dioperasi, Kenapa Batu Ginjal Bisa Muncul Lagi?
ilustrasi batu ginjal (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
  • Operasi mengangkat batu yang sudah terbentuk, tetapi tidak selalu mengatasi kondisi yang memicu pembentukan batu.

  • Analisis komposisi batu, pemeriksaan darah, serta evaluasi urine dapat membantu menemukan penyebab dan menentukan pencegahan yang tepat.

  • Anjuran makan dan minum tidak bisa disamaratakan karena setiap jenis batu dapat memiliki faktor pemicu berbeda.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Setelah menjalani operasi, batu ginjal akhirnya berhasil dihancurkan atau diangkat, aliran urine kembali lancar, dan pasien bisa beraktivitas seperti biasa.

Beberapa tahun kemudian, pemeriksaan menunjukkan ada batu baru di ginjal. Kabar tersebut bisa membuat pasien sedih dan kecewa akan operasi yang telah dijalani sebelumnya. Namun, perlu diingat bahwa batu yang kembali muncul tidak selau berarti operasi sebelumnya gagal.

1. Operasi mengangkat batu, bukan menghilangkan penyebabnya

“Penyakit batu ginjal bersifat berulang. Sekitar setengah pasien yang pernah mengalami batu dapat membentuk batu lain dalam lima tahun,” kata Dr. Du Jingzeng, Konsultan Departemen Urologi, Singapore General Hospital (SGH).

Ia menekankan bahwa tujuan perawatan tidak berhenti saat batu dikeluarkan.

“Operasi menangani batu yang sudah ada, tetapi tidak selalu memperbaiki alasan mengapa batu tersebut terbentuk,” ujarnya.

Perkiraan tingkat kekambuhan berbeda-beda menurut karakteristik pasien dan definisi yang digunakan. Namun, pembaruan pedoman European Association of Urology (EAU) menyebut kekambuhan dapat mencapai sekitar 50 persen dalam lima tahun pada sejumlah kelompok pasien.

Pedoman tersebut juga menyebut bahwa pembedahan batu saluran kemih tidak dengan sendirinya mencegah penyakit tersebut kembali.

Batu terbentuk ketika zat tertentu dalam urine—seperti kalsium, oksalat, asam urat, atau sistin—menjadi terlalu pekat dan mulai mengkristal. Kondisi ini bisa dipengaruhi oleh kurang minum, asupan natrium tinggi, pola makan, infeksi saluran kemih, kelainan anatomi, penggunaan obat tertentu, serta gangguan metabolik atau genetik.

Apa yang dianggap sebagai kekambuhan juga tidak selalu merupakan batu yang sepenuhnya baru. Dalam beberapa kasus, serpihan kecil yang tertinggal setelah tindakan dapat bertahan, membesar, atau memicu masalah di kemudian hari.

Itulah alasan pemeriksaan pencitraan setelah operasi tetap penting, terutama pada pasien dengan batu besar atau kompleks. Kadang, tidak semua batu bisa dibersihkan dalam satu prosedur dan pasien mungkin perlu pemantauan atau tindakan berikutnya.

2. Pemilihan operasi berdasarkan kondisi batu dan pasien

Dr Du Jingzeng, Konsultan Departemen Urologi, Singapore General Hospital.
Dr Du Jingzeng, Konsultan Departemen Urologi, Singapore General Hospital. (Dok. SingHealth)

Pengobatan batu ginjal telah mengalami banyak kemajuan. Sebagian besar pasien sudah tidak lagi memerlukan sayatan besar. Prosedur dapat dilakukan menggunakan gelombang kejut, kamera fleksibel, laser, atau membuat lubang kecil dari punggung menuju ginjal.

“Prosedur yang direkomendasikan bergantung pada ukuran, lokasi, kekerasan dan komposisi batu, anatomi pasien, fungsi ginjal, serta ada atau tidaknya infeksi maupun penyumbatan,” jelas Dr. Jingzeng.

Departemen Urologi SGH menawarkan beberapa pilihan prosedur, antara lain:

  • Terapi gelombang kejut

Extracorporeal shockwave lithotripsy (ESWL) menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh untuk memecah batu menjadi fragmen kecil. Tidak ada sayatan dan pasien biasanya bisa pulang pada hari yang sama.

Kekurangannya, fragmen tidak langsung dikeluarkan. Pasien perlu mengeluarkannya bersama urine selama beberapa hari atau minggu.

ESWL juga kurang efektif untuk batu yang besar, sangat keras, atau berada di lokasi yang sulit dijangkau gelombang.

  • Ureteroskopi fleksibel dan laser

Dokter memasukkan kamera tipis melalui uretra, kandung kemih, ureter, hingga ke ginjal. Batu kemudian dihancurkan dengan laser dan sebagian fragmennya diambil menggunakan keranjang kecil.

Kelebihannya, tidak ada sayatan pada kulit dan dokter dapat mencapai banyak bagian di dalam ginjal. Namun, pasien biasanya memerlukan anestesi umum. Sebagian pasien juga dipasangi stent sementara yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sampai dilepas. Batu berukuran besar mungkin butuh lebih dari satu sesi.

Ada pula teknologi yang lebih baru dengan menggunakan teknologi irigasi dan penyedotan terkontrol dalam beberapa prosedur ureteroskopi. Sistem ini terus mengalirkan cairan agar pandangan dokter tetap jelas, sekaligus menyedot serpihan batu dan mengatur tekanan di dalam ginjal. Menjaga tekanan di dalam ginjal pada tingkat yang tepat dapat membantu mengeluarkan fragmen secara lebih efisien, mempersingkat operasi, dan mengurangi risiko infeksi.

  • Mini-PCNL

Untuk batu yang sangat besar atau kompleks, dokter dapat membuat saluran kecil melalui kulit punggung langsung menuju ginjal. Teknik mini-PCNL di SGH menggunakan jalur sekitar 6 milimeter, lebih kecil daripada PCNL konvensional yang dapat mencapai sekitar 9 milimeter.

Lubang yang lebih kecil dapat mengurangi cedera jaringan, perdarahan, nyeri, dan lama perawatan. Namun, prosedur ini tetap lebih invasif daripada ureteroskopi karena dokter harus membuat akses langsung ke ginjal. Risiko perdarahan, infeksi, dan kebutuhan rawat inap tetap perlu dipertimbangkan.

  • ECIRS untuk batu kompleks

Endoscopic combined intrarenal surgery (ECIRS) menggabungkan ureteroskopi fleksibel dari saluran kemih dengan akses kecil melalui punggung. Tim dokter bekerja dari dua arah sehingga bisa menjangkau batu di berbagai bagian ginjal.

Metode ini dapat meningkatkan kemungkinan membersihkan batu ginjal kompleks dalam satu sesi dan mengurangi kebutuhan akan beberapa operasi.

Apa pun pilihan prosedurnya, keputusan harus berdasarkan kondisi pasien.

“Keputusan harus didasarkan pada kondisi masing-masing pasien, bukan pada keinginan mencapai pembersihan total dengan mengorbankan keselamatan,” kata Dr. Jingzeng.

3. Batu yang dikeluarkan dapat menjadi petunjuk penting

Setelah batu dikeluarkan, analisis laboratorium dapat menunjukkan jenis batu. Apakah batu tersusun dari kalsium oksalat, kalsium fosfat, asam urat, struvit akibat infeksi, sistin, atau bahan lainnya.

Mengetahuinya membantu dokter memahami kemungkinan penyebabnya. Pencegahan batu asam urat, misalnya, tidak selalu sama dengan pencegahan batu kalsium oksalat atau batu akibat infeksi.

Pedoman EAU merekomendasikan analisis batu dan evaluasi metabolik dasar pada seluruh pasien yang memiliki batu. Pasien kemudian dikelompokkan berdasarkan risiko kekambuhan. Orang dengan risiko tinggi—misalnya batu berulang, muncul pada usia muda, memiliki riwayat keluarga, kelainan metabolik, atau satu ginjal yang berfungsi—dapat memerlukan pemeriksaan lebih mendalam.

Evaluasi setelah operasi dapat mencakup:

  • Analisis komposisi batu untuk mengetahui bahan pembentuknya.
  • Pemeriksaan darah untuk menilai fungsi ginjal, kalsium, asam urat, natrium, kalium, dan faktor lain sesuai kebutuhan.
  • Pemeriksaan urine biasa untuk melihat pH, darah, kristal, atau tanda infeksi.
  • Pengumpulan urine 24 jam untuk mengukur volume urine serta kadar kalsium, oksalat, asam urat, sitrat, dan natrium yang dikeluarkan tubuh.
  • Pencitraan lanjutan untuk memastikan tidak ada penyumbatan atau fragmen yang perlu dipantau.

Pemeriksaan urine 24 jam tidak otomatis diperlukan oleh semua orang. Menurut EAU, evaluasi metabolik khusus—umumnya dengan dua pengumpulan urine selama 24 jam—lebih ditujukan bagi pasien dengan risiko kekambuhan tinggi. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan ketika kondisi pasien sudah stabil, bebas infeksi, dan telah kembali pada kebiasaan makan serta minum sehari-hari agar hasilnya lebih mencerminkan kondisi sebenarnya.

“Analisis batu, tes darah, tes urine, evaluasi metabolik, dan pencitraan lanjutan dapat membantu menemukan faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan batu,” jelas Dr. Jingzeng.

“Mengobati batu hanyalah satu bagian dari perawatan. Mengidentifikasi dan menangani penyebab dasarnya mungkin lebih penting untuk mencegah operasi lagi.”

4. Apa yang perlu dilakukan setelah operasi?

Ilustrasi konsultasi dokter mengenai batu ginjal.
ilustrasi konsultasi dokter mengenai batu ginjal (IDN Times/NRF)

Langkah pencegahan sebaiknya tidak cuma berupa larangan mengonsumsi makanan tertentu, melainkan harus disesuaikan dengan jenis batu dan hasil pemeriksaan.

Misalnya, menghindari seluruh makanan berkalsium, bukan langkah yang tepat bagi semua pasien batu kalsium. Kalsium dari makanan dalam jumlah yang sesuai justru dapat mengikat oksalat di saluran pencernaan sehingga lebih sedikit oksalat yang masuk ke urine. Sementara itu, pembatasan natrium, oksalat, purin, atau protein hewani hanya perlu diperketat jika hasil evaluasi menunjukkan faktor tersebut berperan.

Saat kontrol, tanyakan kepada dokter mengenai:

  • Komposisi batu.
  • Apakah masih ada fragmen yang perlu dipantau?
  • Apakah pasien termasuk kelompok berisiko tinggi dan perlu tes urine 24 jam?
  • Berapa target cairan atau volume urine yang sesuai?
  • Apakah perlu perubahan pola makan atau obat tertentu?

Meningkatkan asupan air merupakan salah satu intervensi dengan bukti paling konsisten. Uji klinis selama lima tahun pada pasien dengan batu kalsium berulang menemukan bahwa meningkatkan volume urine melalui konsumsi air menurunkan kekambuhan dan memperpanjang waktu sebelum batu berikutnya terbentuk.

EAU menganjurkan asupan cairan yang cukup untuk menghasilkan lebih dari 2,5 liter urine per hari pada kebanyakan pasien. Jumlah air yang harus diminum untuk mencapainya bisa berbeda menurut cuaca, aktivitas, ukuran tubuh, dan jumlah keringat. Pasien dengan gagal jantung, penyakit ginjal tertentu, atau pembatasan cairan perlu berkonsultasi dengan dokter sebelum meningkatkan asupan secara drastis.

Selain hidrasi, rencana pencegahan dapat mencakup pengurangan natrium, pola makan seimbang, mengelola atau mencapai berat badan sehat, serta obat pada pada kelainan tertentu.

Segera cari pertolongan medis jika muncul nyeri hebat disertai demam atau menggigil, sulit buang air kecil, muntah-muntah, atau kondisi tubuh memburuk. Batu yang menyumbat aliran urine dan disertai infeksi dapat berkembang menjadi sepsis dan memerlukan penanganan darurat.

Referensi

Andreas Skolarikos et al., “Metabolic Evaluation and Recurrence Prevention for Urinary Stone Patients: An EAU Guidelines Update,” European Urology 86, no. 4 (2024): 343–63, https://doi.org/10.1016/j.eururo.2024.05.029.

Singapore General Hospital, “Urinary Stones,” diakses Juli 2026.

European Association of Urology, “Metabolic Evaluation and Recurrence Prevention,” in EAU Guidelines on Urolithiasis, diakses Juli 2026.

Loris Borghi et al., “Urinary Volume, Water and Recurrences in Idiopathic Calcium Nephrolithiasis: A 5-Year Randomized Prospective Study,” Journal of Urology 155, no. 3 (1996): 839–43, https://doi.org/10.1016/S0022-5347(01)66321-3.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More