“Secara global, hanya sekitar 1 dari setiap 70 pasien yang butuh transplantasi kornea dapat menerimanya. Kekurangannya lebih parah di Asia,” kata Prof. Marcus Ang Han Nian, Head & Senior Consultant, Cornea & External Eye Disease Department, Singapore National Eye Centre (SNEC).
Satu Kornea Donor Bisa Membantu Dua Pasien

Transplantasi selektif memungkinkan lapisan depan dan belakang dari satu kornea donor digunakan untuk dua pasien dengan penyakit berbeda.
Teknik ini tidak dapat dilakukan pada semua jaringan donor atau pasien karena membutuhkan kecocokan kondisi, keahlian bedah, fasilitas bank mata, dan pengawasan ketat.
Memaksimalkan penggunaan jaringan donor dapat membantu mengurangi kesenjangan transplantasi, tetapi tetap harus disertai peningkatan donor kornea.
Bagi orang yang korneanya rusak permanen, jaringan transparan dari seorang donor dapat menjadi solusi untuk mengembalikan penglihatan. Sayangnya, jumlah kornea donor masih jauh dari cukup.
Menurut survei global dalam JAMA Ophthalmology pada 2016, para peneliti memperkirakan sekitar 12,7 juta orang butuh transplantasi kornea. Namun, secara global hanya tersedia 1 kornea untuk setiap 70 kebutuhan transplantasi. Lebih dari separuh populasi dunia juga dinilai tidak memiliki akses terhadap prosedur tersebut.
Di tengah kelangkaan inilah lahir pendekatan inovatif, yaitu menggunakan satu kornea donor untuk membantu dua pasien.
“Transplantasi selektif memungkinkan satu kornea donor dibagi untuk dua pasien. Lapisan luarnya dapat digunakan untuk pasien yang memerlukan transplantasi lamelar anterior (mengganti lapisan depan kornea yang rusak dengan jaringan donor, sambil mempertahankan lapisan dalam kornea pasien yang masih sehat), sedangkan lapisan dalamnya diberikan kepada pasien lain yang membutuhkan transplantasi endotel (operasi mata untuk mengganti lapisan bagian dalam kornea yang rusak),” jelas Prof. Ang kepada awak media di Singapura, Rabu (22/7/2026).
Bagaimana satu kornea bisa untuk dua pasien?

Kornea merupakan lapisan bening di bagian depan mata yang bekerja seperti jendela. Cahaya harus bisa melewatinya dengan baik agar seseorang bisa melihat dengan jelas.
“Ketika kornea jernih, cahaya dapat masuk ke dalam mata dan pasien bisa melihat. Ketika kornea menjadi keruh atau memiliki jaringan parut permanen, penglihatan akan terganggu,” Prof. Ang menjelaskan.
Kornea tersusun dari beberapa lapisan dengan fungsi berbeda. Pada masa lalu, banyak penyakit kornea ditangani dengan penetrating keratoplasty, yaitu mengangkat seluruh ketebalan kornea pasien dan menggantinya dengan kornea donor. Sekarang, inovasi medis memungkinkan dokter menggunakan transplantasi selektif untuk mengganti bagian yang rusak saja.
Apabila penyakit berada di lapisan depan atau stroma, prosedur deep anterior lamellar keratoplasty (DALK) bisa dipilih. Dokter mengganti lapisan depan yang rusak namun mempertahankan lapisan endotel sehat milik pasien.
Sementara itu, pasien yang mengalami kerusakan pada lapisan paling belakang dapat menjalani Descemet membrane endothelial keratoplasty (DMEK). Prosedur ini hanya mengganti membran Descemet dan sel endotel yang membantu menjaga kornea tetap jernih.
Dari satu kornea donor, jaringan bagian depan dapat dipersiapkan untuk DALK pada pasien pertama. Lapisan belakangnya kemudian digunakan dalam DMEK untuk pasien kedua.
Dalam studi terhadap 100 pasien yang diterbitkan dalam American Journal of Ophthalmology, satu kornea donor berhasil digunakan untuk dua penerima dalam 47 dari 50 pasangan prosedur atau 94 persen. Para peneliti menggabungkan DALK dan DMEK yang dilakukan dalam kurun waktu maksimal 72 jam.
Namun, angka tersebut tidak berarti teknik ini akan berhasil pada 94 persen kasus di semua rumah sakit. Penelitian dilakukan di pusat khusus dengan dokter berpengalaman dan pasien yang telah dipilih berdasarkan kondisi korneanya.
Tidak semua pasien butuh lapisan yang sama. Dalam praktiknya, jumlah pasien yang butuh jaringan belakang kornea juga bisa lebih banyak daripada pasien yang membutuhkan bagian depan. Jadwal operasi kedua penerima pun harus dikoordinasikan dengan baik agar jaringan tetap aman digunakan.
Tidak semua kornea donor dapat dibagi
Untuk pembagian kornea, jaringan donor tentu saja harus memenuhi standar kualitas, bebas dari risiko penyakit tertentu, dipersiapkan dengan teknik yang tepat, dan dapat dilacak penggunaannya pada setiap penerima.
“Pendekatan ini memerlukan pengawasan, pelacakan, dan persetujuan regulator yang ketat karena ada risiko kecil bahwa infeksi dari satu donor dapat ditularkan kepada lebih dari satu penerima,” kata Prof. Ang.
Dikatakan oleh Prof. Ang, SNEC mengantongi persetujuan pada 2026 untuk mulai menggunakan satu kornea donor pada lebih dari satu pasien dalam kondisi yang sesuai. Teknik serupa juga telah diterapkan di sejumlah negara Asia lain.
Sebuah survei terhadap dokter bedah kornea di Inggris menunjukkan mayoritas responden mendukung pembagian jaringan donor. Namun, praktiknya belum banyak dilakukan. Hambatan yang paling sering dilaporkan adalah persoalan logistik, kurangnya dukungan regulasi, serta kekhawatiran mengenai risiko infeksi.
Itulah kenapa peran bank mata menjadi sangat penting. Tidak cuma mengumpulkan kornea donor, bank mata juga melakukan penilaian, pemrosesan, penyimpanan, pengujian, dan distribusi jaringan.
“Kemampuan untuk mengimpor, menyiapkan, dan memproses jaringan donor melalui layanan bank mata merupakan bagian penting dari keberhasilan program transplantasi kornea di SNEC,” ujar Prof. Ang.
Corneal & External Eye Disease Department di SNEC menyediakan pelayanan transplantasi kornea ketebalan penuh maupun sebagian, serta penanganan untuk penyakit kornea kompleks. SNEC juga bekerja sama dengan Bank Mata Singapura untuk menyediakan dan mempersiapkan jaringan donor. Lebih dari 60 persen transplantasi kornea di Singapura dilakukan di SNEC.
“Di SNEC, waktu tunggu dapat sesingkat satu minggu untuk prosedur darurat dan sekitar 1–3 bulan untuk transplantasi elektif,” kata Prof. Ang.
Pembagian kornea merupakan salah satu cara untuk memperluas manfaat dari jaringan yang sangat terbatas. Cara lainnya adalah memilih teknik transplantasi yang lebih awet sehingga pasien tidak cepat membutuhkan donor kedua.
Menurut Prof. Ang, transplantasi selektif umumnya memiliki risiko penolakan dan komplikasi lebih rendah daripada transplantasi ketebalan penuh pada pasien yang sesuai. Dengan mempertahankan sebanyak mungkin jaringan sehat milik pasien, operasi juga dapat dilakukan melalui sayatan yang lebih kecil serta pemulihan penglihatan cenderung lebih cepat.
Walaupun menjanjikan, tetapi teknik pembagian kornea bukan pengganti upaya meningkatkan donor kornea. Jumlah donor tetap perlu ditambah, sistem bank mata harus diperkuat, dan lebih banyak dokter perlu mendapatkan pelatihan transplantasi selektif.
Yang penting bagi pasien adalah lapisan kornea mana yang rusak dan prosedur yang paling aman. Tidak semua kondisi cocok untuk transplantasi sebagian. Dokter mata harus memeriksa menyeluruh untuk menentukan prosedur terbaik. Satu kornea donor memang bisa membantu dua orang, tetapi itu memerlukan keputusan medis cermat, koordinasi dua operasi, keahlian bedah, dan sistem bank mata yang aman.
Referensi
Philippe Gain et al., “Global Survey of Corneal Transplantation and Eye Banking,” JAMA Ophthalmology 134, no. 2 (2016): 167–173, https://doi.org/10.1001/jamaophthalmol.2015.4776.
Ludwig M. Heindl et al., “Split Cornea Transplantation for 2 Recipients—Review of the First 100 Consecutive Patients,” American Journal of Ophthalmology 152, no. 4 (2011): 523–532.e2, https://doi.org/10.1016/j.ajo.2011.03.021.
Jamie A. Yule et al., “UK Corneal Surgeons’ Attitudes towards Splitting Donor Corneas between Multiple Recipients,” Eye 39 (2025): 397–399, https://doi.org/10.1038/s41433-024-03556-6.
Singapore National Eye Centre, “Corneal & External Eye Disease,” diakses Juli 2026.












![[QUIZ] Berdasarkan Karaktermu, Waspadai Gangguan Kepribadian Ini](https://image.idntimes.com/post/20230317/sander-sammy-q7zlbwbdnyo-unsplash-f1d208cb27300b62f3a0b646799bdfdb.jpg)



![[QUIZ] Pilih Waktu Larimu, Kami Tebak Kebiasaan Sehat yang Perlu Kamu Pertahankan](https://image.idntimes.com/post/20260709/upload_8acff9f1de8b26c968870d3b35b3e89b_70dfa521-21d0-4420-a20f-ca9b889bb18c.jpg)




