Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Penyakit dari Hewan Bisa Menular ke Manusia?

Kenapa Penyakit dari Hewan Bisa Menular ke Manusia?
ilustrasi kelelawar, salah satu hewan pembawa penyakit zoonosis (pexels.com/John Torcasio)
Intinya Sih
  • Penyakit zoonosis terjadi ketika patogen seperti virus, bakteri, atau parasit mampu menular dari hewan ke manusia karena adanya kesamaan biologis yang memungkinkan infeksi lintas spesies.
  • Penularan dapat berlangsung lewat kontak langsung, perantara seperti nyamuk atau kutu, hingga konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi, bahkan melalui udara di lingkungan padat hewan.
  • Aktivitas manusia seperti deforestasi, peternakan intensif, perdagangan satwa liar, dan perubahan iklim memperbesar peluang penyebaran penyakit zoonosis ke wilayah serta populasi baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu bertanya-tanya bagaimana penyakit yang awalnya menyerang hewan bisa berpindah dan menginfeksi manusia? Rabies, flu burung, hingga beberapa penyakit lain ternyata memiliki satu kesamaan: semuanya termasuk zoonosis.

Zoonosis adalah penyakit yang dapat menular secara alami dari hewan ke manusia. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari virus, bakteri, parasit, hingga jamur. Namun, bagaimana sebenarnya penyakit tersebut bisa melewati batas antara hewan dan manusia?

1. Beberapa patogen bisa menginfeksi lebih dari satu spesies?

Salah satu alasan utamanya adalah karena beberapa patogen tidak hanya cocok dengan satu jenis makhluk hidup. Virus, bakteri, atau parasit tertentu dapat menginfeksi lebih dari satu spesies apabila memiliki kondisi biologis yang sesuai.

Tubuh manusia dan hewan memang berbeda, tetapi pada tingkat tertentu terdapat kesamaan. Misalnya, sel-sel pada tubuh manusia dan hewan bisa memiliki reseptor yang bentuknya mirip. Reseptor ini dapat dimanfaatkan oleh virus untuk masuk ke dalam sel dan berkembang biak.

Contohnya virus influenza. Beberapa jenis virus flu dapat menginfeksi burung, tetapi kemudian mengalami perubahan atau mutasi tertentu sehingga mampu mengenali dan menginfeksi sel-sel pada saluran pernapasan manusia.

Hal serupa juga dapat terjadi pada patogen lainnya. Jadi, penyakit dari hewan tidak otomatis bisa menular ke manusia. Namun, jika patogen tersebut memiliki kecocokan biologis, peluang terjadinya penularan menjadi lebih besar.

2. Bagaimana penyakit dari hewan menular ke manusia?

Penularan zoonosis dapat terjadi melalui berbagai cara. Salah satunya adalah kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.

Sentuhan, gigitan, atau cakaran dapat menjadi jalan masuk bagi patogen ke tubuh manusia. Air liur, darah, urine, dan kotoran hewan juga dapat membawa mikroorganisme penyebab penyakit. Rabies, misalnya, paling sering menular melalui gigitan hewan yang terinfeksi.

Namun, manusia tidak harus selalu menyentuh hewan secara langsung untuk tertular. Kontak tidak langsung juga bisa menjadi sumber penularan. Seseorang dapat terpapar patogen ketika membersihkan kandang, menyentuh benda yang terkontaminasi, atau berada di lingkungan yang tercemar kotoran hewan.

Ada pula penyakit yang ditularkan melalui perantara. Nyamuk, kutu, dan caplak dapat membawa patogen dari hewan ke manusia. Dalam kondisi ini, manusia mungkin tidak pernah melakukan kontak langsung dengan hewan yang menjadi sumber awal penyakit.

Makanan dan air juga dapat menjadi jalur penularan. Mengonsumsi daging yang tidak dimasak hingga matang, produk susu yang tidak dipasteurisasi, atau air yang tercemar kotoran hewan dapat meningkatkan risiko infeksi.

Beberapa patogen bahkan dapat menular melalui udara. Droplet atau partikel kecil yang berasal dari hewan yang terinfeksi bisa terhirup oleh manusia, terutama di lingkungan peternakan atau tempat dengan kepadatan hewan yang tinggi.

3. Aktivitas manusia bisa meningkatkan risiko penularan

Seorang pekerja sedang membersihkan kandang ayam petelur.
Seorang pekerja sedang membersihkan kandang ayam petelur. (IDN Times/Alfi Ramadana)

Aktivitas manusia juga memiliki peran besar dalam kemunculan penyakit zoonosis.

Ketika hutan ditebang dan habitat satwa liar makin menyempit, manusia dan hewan liar menjadi lebih sering bertemu. Interaksi yang sebelumnya jarang terjadi dapat membuka peluang bagi patogen untuk berpindah ke manusia.

Peternakan intensif juga dapat meningkatkan risiko. Lingkungan yang padat dan memiliki banyak hewan dalam satu tempat dapat mempermudah penyebaran patogen. Dalam kondisi tertentu, patogen juga dapat mengalami perubahan sehingga lebih mudah beradaptasi dengan inang baru.

Perdagangan satwa liar menjadi faktor lain. Hewan dari berbagai wilayah dan ekosistem dapat ditempatkan berdekatan, padahal sebelumnya tidak pernah berinteraksi. Kondisi ini memberikan kesempatan bagi patogen untuk berpindah dan berkembang.

Perubahan iklim juga ikut memengaruhi penyebaran penyakit. Suhu yang makin hangat dapat membuat nyamuk dan caplak hidup di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Akibatnya, penyakit yang dibawa oleh hewan atau serangga tersebut dapat muncul di wilayah baru.

4. Contoh penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia

Ada banyak zoonosis yang dikenal di dunia. Rabies merupakan salah satu contohnya dan dapat menular melalui gigitan hewan yang terinfeksi. Flu burung juga dapat menular kepada manusia melalui kontak dengan unggas yang terinfeksi atau lingkungan yang telah tercemar virus.

Selain itu, antraks disebabkan oleh bakteri yang dapat hidup di tanah. Penyakit ini bisa menginfeksi hewan pemakan tumbuhan dan kemudian menular kepada manusia melalui kontak dengan hewan atau konsumsi produk hewan yang terkontaminasi.

COVID-19 juga termasuk dalam pembahasan tentang zoonosis. Para ilmuwan meyakini virus penyebabnya memiliki asal-usul yang berkaitan dengan hewan, meskipun rincian mengenai bagaimana virus tersebut pertama kali menular ke manusia masih terus diteliti.

5. Bisakah penularan penyakit dari hewan dicegah?

Risiko penyakit zoonosis tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya karena manusia dan hewan memang hidup dalam ekosistem yang sama. Namun, peluang penularannya dapat dikurangi.

Caranya antara lain dengan menjaga kebersihan saat berinteraksi dengan hewan, memasak daging hingga matang, mengonsumsi produk susu yang aman, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Perlindungan habitat alami juga tidak kalah penting. Makin sedikit interaksi berisiko antara manusia dan satwa liar, makin kecil pula peluang patogen baru untuk berpindah ke manusia.

Pada akhirnya, munculnya penyakit dari hewan ke manusia merupakan hasil dari pertemuan berbagai faktor. Ada patogen yang mampu beradaptasi, hewan yang menjadi inang, lingkungan yang mendukung, dan aktivitas manusia yang memperbesar peluang terjadinya penularan.

Memahami hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi penting. Sebab, menjaga kesehatan manusia ternyata juga berarti menjaga kesehatan hewan dan ekosistem tempat keduanya hidup.

Referensi

Cleveland Clinic. Diakses pada Juli 2026. "Zoonotic Diseases."

Smithsonian Science Education Center. Diakses pada Juli 2026. "How Does a Disease Transfer from an Animal to a Human and Back?"

The Humane League. Diakses pada Juli 2026. "Zoonotic Diseases: How Diseases Spread From Animals to Human."

World Health Organization. Diakses pada Juli 2026. "Why Do Some Animal Infections Spill Over to Humans?"

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More