Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Ikan Asin Bisa Memicu Kanker Nasofaring?

Benarkah Ikan Asin Bisa Memicu Kanker Nasofaring?
ilustrasi ikan asin jambal roti (id.m.wikipedia.org/Wibowo Djatmiko (Wie146))
Intinya Sih
  • Ikan asin ala Tiongkok dikategorikan karsinogenik karena proses fermentasi tradisionalnya menghasilkan senyawa nitrosamin yang dapat memicu kanker nasofaring.

  • Bukti ilmiah spesifik tentang ikan asin Indonesia masih terbatas, sehingga risikonya belum bisa disamakan dengan ikan asin gaya Tiongkok Selatan.

  • Kanker nasofaring dipengaruhi banyak faktor seperti infeksi virus Epstein-Barr, genetik, lingkungan, dan pola makan; konsumsi ikan asin sebaiknya dilakukan secara bijak dan tidak berlebihan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Di banyak rumah, ikan asin sering menjadi pelengkap nasi hangat, sambal, dan sayur sederhana. Harganya relatif terjangkau, mudah disimpan, dan sudah menjadi bagian dari tradisi kuliner. Namun, ada satu pertanyaan yang terus muncul di media sosial maupun pembicaraan sehari-hari, yaitu apakah ikan asin dapat menyebabkan kanker nasofaring?

Jawaban singkatnya adalah ya, tetapi konteksnya kompleks.

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2022, tercatat 18.835 kasus baru kanker nasofaring pada 2022, dengan 14.497 kasus pada laki-laki dan 4.338 pada perempuan (ASR 2.8/100.000); kanker ini menempati peringkat ke‑6 berdasarkan jumlah kasus di Indonesia pada 2022.

Menurut World Cancer Research Fund, China, Indonesia, dan India memiliki jumlah kasus kanker nasofaring tertinggi pada tahun 2022.

Untuk memahami kaitan antara ikan asing dan kanker nasofaring, terus baca artikel ini, ya!

Table of Content

Apa itu kanker nasofaring?

Apa itu kanker nasofaring?

Kanker nasofaring adalah kanker yang muncul di nasofaring, bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang rongga hidung.

Menarik untuk diketahui bahwa jenis kanker ini distribusinya tidak merata di seluruh dunia. Angka kejadiannya relatif rendah di sebagian besar negara Barat, tetapi jauh lebih tinggi di wilayah tertentu seperti:

  • Tiongkok bagian selatan.
  • Hong Kong.
  • Taiwan.
  • Beberapa negara Asia Tenggara.
  • Sebagian Afrika Utara.

Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), kanker nasofaring merupakan salah satu kanker yang paling kuat hubungannya dengan kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan infeksi virus Epstein-Barr (EBV)—hampir tidak pernah disebabkan oleh faktor tunggal.

Dari mana muncul dugaan ikan asin menyebabkan kanker?

Ikan asin goreng disajikan di piring bermotif bunga dengan potongan jeruk nipis, bawang merah, dan cabai di atas meja kayu.
ilustrasi ikan asin (vecteezy.com/iqydoank592128)

Hubungan ini mulai menarik perhatian ilmuwan pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Para peneliti memperhatikan bahwa masyarakat di Guangdong dan Hong Kong memiliki angka kanker nasofaring yang tinggi. Saat pola makan mereka diteliti, salah satu faktor yang berulang muncul adalah konsumsi ikan asin tradisional dalam jumlah besar sejak usia dini.

Berbagai studi kasus-kontrol kemudian menemukan pola yang konsisten, bahwa makin sering seseorang mengonsumsi ikan asin tradisional gaya Tiongkok, terutama sejak masa kanak-kanak, makin tinggi risiko kanker nasofaring saat dewasa. Temuan ini akhirnya mendorong IARC mengkaji seluruh bukti yang ada.

Pada tahun 2009, IARC menyimpulkan bahwa ikan asin ala Tiongkok (Chinese-style salted fish) bersifat karsinogenik bagi manusia (karsinogen Grup 1) berdasarkan bukti yang cukup kuat terkait kanker nasofaring.

Namun, ada satu detail penting yang kerap terlewat. Yang dinilai karsinogenik bukan semua ikan asin di dunia, melainkan ikan asin ala Tiongkok yang dibuat dengan metode tertentu.

Ikan asin jenis apa yang diteliti?

Ikan asin yang menjadi fokus penelitian klasik bukan ikan yang diberi garam lalu dikeringkan.

Dalam banyak studi epidemiologi, produk yang diteliti adalah ikan asin tradisional khas Tiongkok Selatan yang dibuat melalui proses pengawetan yang memungkinkan terjadinya fermentasi parsial dan pembusukan ringan sebelum atau selama pengeringan. Metode tradisional ini menghasilkan berbagai senyawa kimia, termasuk:

  • Nitrosamin.
  • Senyawa N-nitroso lainnya.
  • Produk degradasi protein tertentu.

Nitrosamin sudah lama dikenal sebagai senyawa yang dapat menyebabkan kanker pada berbagai model hewan percobaan.

Beberapa penelitian laboratorium juga menemukan bahwa ekstrak ikan asin tradisional tersebut dapat menyebabkan perubahan biologis yang mendukung karsinogenesis (proses menghasilkan zat karsinogen).

Karena itu, para ilmuwan menduga bahwa risiko kanker tidak hanya berasal dari kandungan garam, melainkan juga dari senyawa karsinogenik yang terbentuk selama proses pengawetan tradisional.

Apakah ini juga berlaku untuk jenis ikan asin yang dikonsumsi di Indonesia?

Istilah "ikan asin" mencakup sangat banyak produk dengan metode pembuatan yang berbeda-beda.

Di Indonesia, ikan asin dapat dibuat melalui:

  • Penggaraman kering.
  • Penggaraman basah.
  • Penjemuran langsung.
  • Kombinasi penggaraman dan pengeringan.
  • Pengasapan.

Sementara itu, produk yang diteliti dalam studi klasik kanker nasofaring umumnya berasal dari metode tradisional tertentu yang khas di wilayah Tiongkok Selatan.

Hingga saat ini, bukti ilmiah yang secara spesifik mengevaluasi hubungan antara ikan asin Indonesia dan kanker nasofaring masih sangat terbatas dibanding data yang tersedia untuk ikan asin ala Tiongkok.

Jadi, tidak bisa disimpulkan bahwa jenis ikan asin Indonesia memiliki tingkat risiko yang sama dengan produk yang diteliti dalam studi-studi tersebut. Akan tetapi, bukan berarti risiko bisa diabaikan sepenuhnya.

Garam dan pengawetan tetap menjadi perhatian

Beberapa ikan asin berwarna cokelat tergantung dengan tali merah di area luar ruangan dengan latar belakang buram.
ilustrasi ikan asin (pexels.com/cottonbro studio)

Walaupun tidak semua ikan asin identik, tetapi makanan yang diawetkan dengan garam dalam jumlah tinggi tetap menjadi perhatian dalam hal kesehatan.

Konsumsi garam berlebihan diketahui berhubungan dengan hipertensi, penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal.

Selain itu, proses pengawetan tertentu dapat meningkatkan pembentukan senyawa N-nitroso yang berpotensi bersifat karsinogenik.

Karena itu, banyak organisasi kesehatan menyarankan konsumsi makanan awetan dan makanan sangat asin secara bijak, walaupun tingkat risikonya bisa berbeda antarproduk.

Ikan asin bukan satu-satunya risiko kanker nasofaring

Salah satu kesalahan terbesar dalam memahami kanker nasofaring adalah menganggap penyakit ini cuma disebabkan oleh makanan.

Faktanya, faktor yang paling konsisten ditemukan pada kanker nasofaring adalah infeksi oleh virus Epstein-Barr. Hampir semua kasus kanker nasofaring non-keratinisasi di daerah endemik menunjukkan keterlibatan EBV.

Selain itu, risiko juga dipengaruhi oleh:

  • Faktor genetik tertentu.
  • Riwayat keluarga.
  • Paparan asap rokok.
  • Paparan debu kayu.
  • Polusi udara.
  • Pola makan.

Karena itu, orang yang sesekali makan ikan asin tidak otomatis akan terkena kanker nasofaring. Risiko muncul dari interaksi berbagai faktor yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Jadi, bolehkah tetap menikmati ikan asin?

Pendekatan yang paling bijak bagi banyak orang adalah moderasi. Bukti ilmiah yang ada tidak mendukung anggapan bahwa satu atau dua kali makan ikan asin akan langsung menyebabkan kanker.

Yang menjadi perhatian dalam penelitian adalah:

  • Konsumsi rutin dalam jangka panjang.
  • Paparan sejak masa kanak-kanak.
  • Jenis ikan asin tertentu.
  • Kombinasi dengan faktor risiko lain.

Karena itu, beberapa langkah aman yang bisa kamu terapkan di antaranya:

  • Membatasi konsumsi makanan yang sangat asin.
  • Perbanyak konsumsi buah dan sayur.
  • Tidak merokok.
  • Jaga berat badan sehat.
  • Periksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan seperti mimisan berulang, benjolan di leher, gangguan pendengaran satu sisi, atau hidung tersumbat yang tidak membaik.

Hubungan antara ikan asin dan kanker nasofaring didukung oleh bukti ilmiah yang cukup kuat, tetapi memahami konteksnya sangat penting.

Sebagian besar penelitian yang menjadi dasar kesimpulan tersebut dilakukan pada ikan asin ala Tiongkok tradisional yang diproduksi dengan metode pengawetan khas di Tiongkok Selatan.

Sampai saat ini belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa jenis ikan asin yang dikonsumsi di Indonesia memiliki tingkat risiko yang sama. Namun, karena beberapa metode pengawetan dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi karsinogenik dan makanan sangat asin juga memiliki dampak kesehatan lain, konsumsilah secara bijak.

Kanker nasofaring bukan penyakit yang disebabkan oleh satu makanan. Faktor genetik, infeksi virus Epstein-Barr, lingkungan, dan pola makan secara keseluruhan berperan bersama dalam menentukan risiko seseorang.

Referensi

IARC Working Group on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans. "Personal Habits and Indoor Combustions. Lyon (FR): International Agency for Research on Cancer; 2012. (IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans, No. 100E.) CHINESE-STYLE SALTED FISH." Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK304384/.

World Health Organization (WHO). "Nasopharyngeal Cancer." Diakses Juni 2026.

Ellen T. Chang and Hans-Olov Adami, “The Enigmatic Epidemiology of Nasopharyngeal Carcinoma,” Cancer Epidemiology Biomarkers & Prevention 15, no. 10 (October 1, 2006): 1765–77, https://doi.org/10.1158/1055-9965.epi-06-0353.

IARC Working Group. "Carcinogenicity of Chinese-style Salted Fish." Diakses Juni 2026.

Mimi C. Yu and Jian-Min Yuan, “Epidemiology of Nasopharyngeal Carcinoma,” Seminars in Cancer Biology 12, no. 6 (December 1, 2002): 421–29, https://doi.org/10.1016/s1044579x02000858.

Yet Hua Loh et al., “N-nitroso Compounds and Cancer Incidence: The European Prospective Investigation Into Cancer and Nutrition (EPIC)–Norfolk Study,” American Journal of Clinical Nutrition 93, no. 5 (March 24, 2011): 1053–61, https://doi.org/10.3945/ajcn.111.012377.

National Cancer Institute (NCI). "N-Nitroso Compounds and Cancer." Diakses Juni 2026.

“Nasopharyngeal Carcinoma in Malaysian Chinese: Salted Fish and Other Dietary Exposures,” PubMed, July 17, 1998, https://doi.org/10.1002/(sici)1097-0215(19980717)77:2.

World Cancer Research Fund International. "Diet, Nutrition, Physical Activity and Cancer: a Global Perspective A summary of the Third Expert Report." Diakses Juni 2026.

IARC. WHO. "Indonesia." GLOBOCAN 2022. Diakses Juni 2026.

NCI. "Nasopharyngeal Cancer Treatment." Diakses Juni 2026.

Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Delvia Y Oktaviani
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More