Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Studi: Vitamin Ini Mungkin Bisa Cegah Prediabetes Jadi Diabetes

Studi: Vitamin Ini Mungkin Bisa Cegah Prediabetes Jadi Diabetes
ilustrasi manfaat vitamin D untuk mencegah prediabetes menjadi diabetes (unsplash.com/Kristīne Kozaka)
Intinya Sih
  • Penelitian dalam jurnal JAMA Network Open menemukan vitamin D dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 pada sebagian orang dengan prediabetes, meski efeknya berbeda tergantung faktor genetik individu.

  • Variasi gen reseptor vitamin D tertentu membuat peserta studi memiliki risiko 19 persen lebih rendah terkena diabetes saat mengonsumsi vitamin D dosis tinggi dibanding plasebo.

  • Meski menjanjikan, peneliti menegaskan konsumsi vitamin D dosis tinggi harus diawasi dokter, dan gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama pencegahan diabetes tipe 2.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Prediabetes (kondisi ketika kadar gula darah lebih tinggi dari normal, tetapi belum mencapai ambang diabetes) sering datang tanpa gejala yang jelas. Banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja, tetapi kadar gula darahnya sudah lebih tinggi dari normal dan perlahan bergerak menuju diabetes tipe 2.

Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena diabetes tipe 2 berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, kerusakan saraf, hingga masalah penglihatan. Karena itu, para peneliti terus mencari cara untuk memperlambat atau bahkan mencegah perkembangan prediabetes menjadi diabetes.

Salah satu yang menarik perhatian adalah vitamin D. Studi terbaru dalam jurnal JAMA Network Open menemukan bahwa vitamin D mungkin membantu menurunkan risiko diabetes pada sebagian orang dengan prediabetes, walaupun manfaatnya tidak sama pada semua orang.

Table of Content

Bagaimana vitamin D bisa berhubungan dengan diabetes?

Bagaimana vitamin D bisa berhubungan dengan diabetes?

Dikenal karena perannya untuk kesehatan tulang, ternyata tak banyak yang tahu vitamin D juga terlibat dalam banyak proses lain dalam tubuh, termasuk sistem imun dan metabolisme gula darah.

Tubuh menggunakan vitamin D melalui reseptor khusus yang disebut vitamin D receptor (VDR). Reseptor ini membantu sel “membaca” dan merespons vitamin D.

Menariknya, sel pankreas yang memproduksi insulin juga memiliki reseptor vitamin D. Karena insulin berperan mengatur kadar gula darah, para peneliti mulai mempertanyakan apakah vitamin D dapat memengaruhi risiko diabetes.

Dalam studi ini, tim peneliti menganalisis data dari penelitian besar bernama D2d (Vitamin D and Type 2 Diabetes Study) yang melibatkan lebih dari 2.000 orang dewasa di Amerika Serikat (AS) dengan prediabetes.

Peserta mendapat 4.000 IU vitamin D setiap hari atau plasebo.

Awalnya, hasil utama studi D2d tidak menemukan penurunan risiko diabetes yang signifikan pada seluruh peserta. Namun, para peneliti merasa ada sesuatu yang menarik. Sebagian peserta tampak mendapatkan manfaat lebih besar dibanding yang lain.

Peran faktor genetik

Para peneliti melihat faktor genetik peserta, khususnya variasi gen reseptor vitamin D.

Hasilnya, orang dengan variasi gen tertentu—disebut AC atau CC pada gen ApaI reseptor vitamin D—memiliki risiko 19 persen lebih rendah mengalami diabetes saat mengonsumsi vitamin D dosis tinggi dibanding plasebo. Sebaliknya, peserta dengan variasi AA tampaknya tidak mendapatkan manfaat yang sama.

Temuan ini menunjukkan bahwa tubuh setiap orang bisa merespons vitamin D secara berbeda.

Menurut peneliti senior studi, Anastassios Pittas, hasil ini dapat membuka jalan menuju pendekatan pencegahan diabetes yang lebih personal. Jadi, suatu hari nanti dokter mungkin bisa tahu siapa yang paling mungkin mendapat manfaat dari suplementasi vitamin D berdasarkan tes genetik sederhana.

Kenapa ini penting untuk prediabetes?

Ilustrasi perempuan berambut panjang mengenakan baju merah sedang memeriksa kadar gula darah menggunakan alat tes glukosa.
ilustrasi seorang perempuan dengan prediabetes tes gula darah (IDN Times/Novaya Siantita)

Prediabetes adalah kondisi yang umum terjadi.

Masalahnya, diabetes tipe 2 biasanya berkembang perlahan selama bertahun-tahun. Makin lama seseorang hidup dengan diabetes, makin besar risiko komplikasi jangka panjangnya.

Karena itu, memperlambat perkembangan penyakit beberapa tahun saja bisa memberi dampak besar terhadap kesehatan.

Peneliti utama studi, Bess Dawson-Hughes, menjelaskan bahwa menunda seseorang masuk ke fase diabetes dapat membantu mengurangi atau memperlambat komplikasi yang muncul.

Tetap saja, vitamin D bukan obat ajaib

Meski hasil penelitian ini menjanjikan, tetapi para peneliti menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh langsung mengonsumsi vitamin D dosis tinggi tanpa pengawasan dokter.

Dalam studi ini, peserta mengonsumsi 4.000 IU vitamin D per hari, yang mana jumlah ini jauh lebih tinggi dari rekomendasi umum harian. Kebutuhan harian vitamin D orang dewasa umumnya sekitar 600–800 IU per hari. Terlalu banyak vitamin D dapat menyebabkan:

  • Kadar kalsium berlebihan.
  • Mual.
  • Gangguan ginjal.
  • Meningkatkan risiko jatuh dan patah tulang pada lansia.

Karena itu, suplementasi dosis tinggi tetap harus dipantau oleh dokter atau ahli gizi.

Gaya hidup tetap menjadi faktor terbesar

Dua perempuan berolahraga bersama di gym, mengenakan pakaian olahraga dan berbincang sambil bersepeda statis di dalam ruangan.
ilustrasi olahraga bersama teman (magnific.com/freepik)

Vitamin D mungkin membantu sebagian orang, tetapi pencegahan diabetes tetap sangat bergantung pada gaya hidup sehari-hari.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menjaga berat badan, rutin bergerak, rutin berolahraga, tidur cukup, dan menerapkan pola makan sehat tetap menjadi strategi utama untuk menurunkan risiko diabetes tipe 2. Vitamin D hanyalah satu bagian kecil dari gambaran yang jauh lebih besar.

Selama ini, banyak pendekatan kesehatan menggunakan rekomendasi yang sama untuk semua orang. Namun penelitian seperti ini menunjukkan bahwa respons tubuh ternyata sangat individual. Dua orang bisa memiliki kondisi prediabetes yang sama, tetapi tubuh mereka merespons nutrisi dan pengobatan dengan cara berbeda karena faktor genetik. Itulah sebabnya para peneliti mulai melihat masa depan pengobatan dan pencegahan penyakit ke arah yang lebih personal.

Nantinya, diharapkan dokter tidak cuma meresepkan semua pasiennya untuk minum vitamin yang sama, tetapi juga mempertimbangkan siapa yang benar-benar membutuhkan, siapa yang kemungkinan paling mendapat manfaat, dan siapa yang justru berisiko jika mengonsumsinya berlebihan.

Referensi

Bess Dawson-Hughes et al., “Vitamin D Receptor Polymorphisms and the Effect of Vitamin D Supplementation on Diabetes Risk Among Adults With Prediabetes,” JAMA Network Open 9, no. 4 (April 23, 2026): e267332, https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2026.7332.

"This Common Vitamin May Help Stop Prediabetes From Turning Into Diabetes." SciTechDaily. Diakses Mei 2026.

Anastassios G. Pittas et al., “Vitamin D Supplementation and Prevention of Type 2 Diabetes,” New England Journal of Medicine 381, no. 6 (June 7, 2019): 520–30, https://doi.org/10.1056/nejmoa1900906.

National Institutes of Health Office of Dietary Supplements. “Vitamin D Fact Sheet for Consumers.” Diakses Mei 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Prediabetes – Your Chance to Prevent Type 2 Diabetes.” Diakses Mei 2026.

Michael F. Holick, “Vitamin D Deficiency,” New England Journal of Medicine 357, no. 3 (July 18, 2007): 266–81, https://doi.org/10.1056/nejmra070553.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More