- Lupus.
- Sindrom Sjogren.
- Skleroderma.
Apa Saja Tes untuk Mendeteksi Penyakit Autoimun?

- Penyakit autoimun terjadi saat sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri, dengan gejala samar seperti lelah, nyeri sendi, dan ruam yang sering disalahartikan sebagai penyakit ringan.
- Diagnosis autoimun memerlukan kombinasi tes darah seperti ANA, pemeriksaan antibodi spesifik, serta penilaian peradangan melalui ESR dan CRP untuk memastikan adanya proses inflamasi aktif.
- Dokter juga menilai fungsi organ dan riwayat kesehatan pasien karena hasil laboratorium harus diinterpretasikan bersama gejala klinis agar diagnosis autoimun lebih akurat.
Tubuh seharusnya punya sistem pertahanan yang bekerja melindungi dari virus, bakteri, dan ancaman penyakit. Namun, pada kondisi autoimun, sistem pertahanan ini justru salah sasaran dan menyerang jaringan tubuh sendiri.
Masalahnya, tanda-tanda autoimun sering datang diam-diam seperti mudah lelah, nyeri sendi, ruam, atau demam yang hilang timbul. Keluhan seperti ini sering disepelekan karena mirip penyakit biasa. Padahal, untuk mengetahui penyebab pastinya butuh pemeriksaan medis. Apa saja tes yang diperlukan untuk mendeteksi penyakit autoimun? Terus baca sampai habis, ya!
Table of Content
Rangkaian tes yang bisa dilakukan
Dokter biasanya membutuhkan serangkaian pemeriksaan untuk membantu memastikan diagnosis. Tes untuk penyakit ini bukan hanya satu jenis, melainkan kombinasi pemeriksaan darah, penilaian gejala, hingga evaluasi organ yang terdampak.
Salah satu pemeriksaan yang paling sering digunakan sebagai skrining awal adalah tes ANA (antinuclear antibody). Namun, ada juga tes lain yang disesuaikan dengan dugaan penyakit autoimun tertentu, seperti lupus, artritis reumatoid, atau gangguan tiroid autoimun.
1. Tes ANA

Tes ANA merupakan pemeriksaan darah untuk mendeteksi antibodi yang menyerang inti sel tubuh sendiri. Pemeriksaan ini sering menjadi langkah awal bila dokter mencurigai penyakit autoimun seperti:
Hasil ANA yang positif tidak selalu berarti seseorang mengidap penyakit autoimun, karena sebagian orang sehat juga bisa memiliki hasil positif.
2. Tes autoantibodi spesifik
Jika tes ANA positif atau gejala mengarah ke penyakit tertentu, dokter bisa meminta pemeriksaan lanjutan, seperti:
- Anti-dsDNA yang sering digunakan untuk membantu diagnosis lupus.
- Anti-Sm yang lebih spesifik untuk lupus.
- Anti-Ro/SSA dan Anti-La/SSB yang sering terkait sindrom Sjogren dan lupus.
- Rheumatoid factor (RF) dan Anti-CCP membantu mendeteksi artritis reumatoid.
- ANCA terkait beberapa jenis vaskulitis.
3. Tes peradangan ESR dan CRP
Pemeriksaan ESR (laju endap darah) dan CRP (C-reactive protein) digunakan untuk melihat ada tidaknya peradangan dalam tubuh. Nilai tinggi bisa menandakan proses inflamasi aktif, termasuk pada penyakit autoimun.
4. Tes hitung darah lengkap

Tes ini memeriksa sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Pada beberapa penyakit autoimun, seseorang bisa mengalami:
- Anemia.
- Penurunan trombosit.
- Gangguan sel darah putih.
5. Pemeriksaan fungsi organ
Karena penyakit autoimun dapat menyerang organ tertentu, dokter juga dapat meminta tes tambahan seperti:
- Fungsi ginjal.
- Fungsi hati.
- Urinalisis.
- Pemeriksaan hormon tiroid.
- Foto rontgen atau USG bila diperlukan.
Kapan harus melakukan pemeriksaan?
Segera buat janji temu dengan dokter jika mengalami:
- Kelelahan berkepanjangan.
- Nyeri sendi berulang.
- Ruam yang muncul terus-menerus.
- Rambut rontok berlebihan.
- Demam tanpa sebab jelas.
- Kesemutan atau mati rasa berulang.
- Keguguran berulang.
Tes untuk mendeteksi autoimun biasanya dimulai dari ANA, lalu dilanjutkan pemeriksaan antibodi spesifik dan tes peradangan sesuai gejala. Diagnosis tidak hanya bergantung pada hasil laboratorium, tetapi juga keluhan pasien, pemeriksaan fisik, serta riwayat kesehatan. Karena itu, interpretasi hasil tes sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis.
Referensi
Christine Castro and Mark Gourley, “Diagnostic Testing and Interpretation of Tests for Autoimmunity,” Journal of Allergy and Clinical Immunology 125, no. 2 (January 13, 2010): S238–47, https://doi.org/10.1016/j.jaci.2009.09.041.
Arthur Kavanaugh et al., “Guidelines for Clinical Use of the Antinuclear Antibody Test and Tests for Specific Autoantibodies to Nuclear Antigens,” Archives of Pathology & Laboratory Medicine 124, no. 1 (January 1, 2000): 71–81, https://doi.org/10.5858/2000-124-0071-gfcuot.
Ni Luh Putu Harta Wedari, Ni Nyoman Sri Budayanti, I Dewa Made Sukrama, and I Putu Bayu Mayura, “Implementation of Antinuclear Antibodies in Autoimmune Diagnostic Tests: A Literature Review From Immunological Aspects,” Journal of Clinical Microbiology and Infectious Diseases, December 8, 2022. https://doi.org/10.51559/jcmid.v2i2.33
![[QUIZ] Pilih Menu Ayam Favoritmu, Kami Tebak Kepribadianmu](https://image.idntimes.com/post/20260107/1000018277_1d2d966e-cff4-4b91-a355-ee3394d3e0c0.jpg)




![[QUIZ] Pilih Jenis Lari Favorit Kamu, Kami Tebak Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260327/side-view-man-training-outdoors_23-2150828873_09337711-e762-477c-bfeb-fef172d4355e.jpg)







![[QUIZ] Seberapa Tajam Matamu? Cek dengan Tebak Karakter Masha and the Bear Ini](https://image.idntimes.com/post/20260521/masha-172-masha-8_5fbf0864-911b-4ebc-967e-e6b937ac8e53.jpg)




![[QUIZ] Seberapa Jeli Matamu Menebak Member BTS? Buktikan Kamu ARMY Sejati](https://image.idntimes.com/post/20260114/upload_bf1ccd14bf630ef71b3b68dc4d2ef33b_2bdc04ad-d328-4154-a0e4-09a404cddd85.jpg)