Menunggu batu keluar aman bila tidak ada komplikasi. Segera periksa ke fasilitas kesehatan apabila muncul:
Demam atau menggigil.
Tidak dapat buang air kecil atau urine keluar sangat sedikit.
Nyeri tetap berat meskipun sudah minum obat.
Muntah terus-menerus hingga sulit minum.
Tubuh terasa sangat lemas atau menunjukkan tanda dehidrasi.
Hanya memiliki satu ginjal atau mempunyai gangguan fungsi ginjal.
Kombinasi antara batu yang menyumbat dan infeksi dapat menjadi keadaan darurat karena urine yang terinfeksi terperangkap di atas lokasi sumbatan. Kondisi ini mungkin membutuhkan antibiotik dan tindakan untuk segera mengalirkan urine.
Jadi, batu berukuran 5 mm atau lebih kecil memiliki peluang paling baik untuk bisa keluar sendiri. Batu 6 mm masih mungkin keluar, tetapi peluangnya mulai turun. Pada ukuran 7–10 mm, keputusan untuk menunggu harus makin individual, sedangkan batu yang lebih besar biasanya lebih sulit keluar tanpa bantuan medis.
Meski demikian, lokasi batu, tingkat sumbatan, adanya infeksi, fungsi ginjal, dan kemampuan mengendalikan nyeri jauh lebih penting daripada ukuran batu.
Referensi
Johan Jendeberg et al., “Size Matters: The Width and Location of a Ureteral Stone Accurately Predict the Chance of Spontaneous Passage,” European Radiology 27, no. 11 (2017): 4775–85, https://doi.org/10.1007/s00330-017-4852-6.
European Association of Urology, “EAU Guidelines on Urolithiasis,” diakses Juli 2026.
Thijs Campschroer et al., “Alpha-Blockers as Medical Expulsive Therapy for Ureteral Stones,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 4 (2018): CD008509, https://doi.org/10.1002/14651858.CD008509.pub3.
Andrew S. Worster and Wendy Bhanich Supapol, “Fluids and Diuretics for Acute Ureteric Colic,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 11 (2021): CD004926, https://doi.org/10.1002/14651858.CD004926.pub3.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, “Symptoms & Causes of Kidney Stones,” diakses Juli 2026.