Paul Heyman, Leopold Simons, dan Christel Cochez, “Were the English Sweating Sickness and the Picardy Sweat Caused by Hantaviruses?,” Viruses 6, no. 1 (2014): 151–71, https://doi.org/10.3390/v6010151.
Jonathan P. Rogers et al., “Encephalitis Lethargica: Clinical Features and Aetiology,” Brain Communications 6, no. 5 (2024): fcae347, https://doi.org/10.1093/braincomms/fcae347.
Leslie A. Hoffman dan Joel A. Vilensky, “Encephalitis Lethargica: 100 Years after the Epidemic,” Brain 140, no. 8 (2017): 2246–51, https://doi.org/10.1093/brain/awx177.
John C. Waller, “In a Spin: The Mysterious Dancing Epidemic of 1518,” Endeavour 32, no. 3 (2008): 117–21, https://doi.org/10.1016/j.endeavour.2008.05.001.
Peter Ratiu et al., “The Tale of Phineas Gage, Digitally Remastered,” Journal of Neurotrauma 21, no. 5 (2004): 637–43, https://doi.org/10.1089/089771504774129964.
4 Kasus Medis Misterius yang Masih Menyisakan Tanda Tanya

English sweating sickness mewabah lima kali di Inggris pada 1485–1551 lalu menghilang; hantavirus pernah diduga, tetapi penyebabnya belum terbukti.
Encephalitis lethargica yang muncul sekitar 1916–1917 menyebabkan kantuk berat, gangguan gerak mata, dan parkinsonisme pada sebagian penyintas, tanpa penyebab yang pasti.
Wabah menari Strasbourg 1518 masih diperdebatkan, sementara rekonstruksi 2004 membantu menjelaskan Phineas Gage selamat karena cedera tidak mengenai pembuluh darah penting atau ventrikel otak.
Sebagian kasus medis lama meninggalkan jejak berupa catatan gejala, bukan sampel biologis yang bisa diuji ulang. Karena itu, penjelasan yang muncul berabad-abad kemudian sering berupa hipotesis.
Empat kisah di bawah ini menunjukkan bagaimana misteri medis kadang bertahan, kadang mulai terurai saat bukti baru tersedia.
Table of Content
1. English sweating sickness: wabah yang menghilang
Inggris mengalami lima wabah penyakit yang dikenal sebagai English sweating sickness antara 1485 dan 1551. Catatan masa itu menggambarkan gejala yang datang mendadak, termasuk demam dan keringat berlebihan; penyakitnya dapat berkembang cepat. Setelah wabah terakhir, penyakit ini tak lagi tercatat dalam bentuk yang sama.
Penyebabnya belum diketahui. Hantavirus pernah diajukan sebagai kemungkinan, tetapi belum ada bukti yang memastikan bahwa virus itu menjadi penyebab wabah tersebut.
2. Encephalitis lethargica: penyakit yang membuat pasien sulit terjaga
Wabah penyakit saraf ini mulai dikenali sekitar 1916–1917. Gejalanya beragam, tetapi sebagian pasien mengalami kantuk berat atau gangguan gerak mata. Sebagian penyintas kemudian mengalami parkinsonisme, yaitu gangguan gerak yang menyerupai penyakit Parkinson.
Hingga kini, penyebab wabah tersebut belum dipastikan. Hubungannya dengan influenza pernah dipertimbangkan, begitu pula kemungkinan pemicu infeksi atau respons imun. Namun, belum ada penjelasan yang dapat memastikannya.
3. Wabah menari Strasbourg pada 1518

Warga Strasbourg tahun 1518 yang menderita gangguan psikogenik choreomania atau "wabah menari" sedang menari di antara makam-makam di halaman gereja. (commons.wikimedia.org/Unknown source) Pada musim panas 1518, sejumlah warga Strasbourg (saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci, tetapi kini berada di wilayah Prancis), dilaporkan menari tanpa henti hingga kelelahan.
Catatan sejarah menyebut jumlah yang terdampak bisa mencapai ratusan, meski angka pastinya sulit diverifikasi.
Keracunan ergot—jamur yang dapat tumbuh pada serealia—pernah diajukan sebagai penjelasan. Sejarawan medis John Waller menilai tekanan sosial dan kepercayaan masyarakat saat itu mungkin lebih sesuai dengan catatan yang ada.
Fenomena psikogenik massal juga menjadi salah satu hipotesis, tetapi tidak ada data klinis yang cukup untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
4. Phineas Gage yang selamat setelah batang besi menembus tengkorak
Pada 1848, pekerja konstruksi rel kereta Phineas Gage mengalami kecelakaan ketika batang besi menembus tengkoraknya. Ia bertahan hidup, dan kasusnya kemudian menjadi salah satu catatan cedera otak paling terkenal dalam sejarah kedokteran.
Rekonstruksi tiga dimensi tengkoraknya pada 2004 menunjukkan bahwa cedera kemungkinan terbatas pada bagian kiri lobus frontal dan tidak mengenai pembuluh darah penting atau sistem ventrikel otak. Temuan itu membantu menjelaskan bagaimana Gage bisa selamat, meski rekonstruksi tersebut tetap bergantung pada bukti sejarah yang tersedia.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Anxiety? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250920/arctic-qu-dtokmihuuqi-unsplash_8b1ef92d-ab4e-46ef-884b-123bdd4a932b.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)













