- Membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah makan.
- Menjadi pilihan gerak ringan bagi orang yang sulit berjalan atau tidak dapat berolahraga intens.
- Membantu memutus waktu duduk terlalu lama.
- Mengaktifkan otot tanpa memberi beban besar pada sendi.
Gerakan Betis Sederhana untuk Kendalikan Gula Darah

Studi kecil menemukan kontraksi otot soleus dapat mengurangi lonjakan gula darah setelah konsumsi glukosa.
Gerakannya berupa mengangkat tumit sambil duduk, sehingga relatif ringan dan bisa dilakukan saat banyak duduk.
Bukti ini belum cukup untuk menjadikannya terapi diabetes atau pengganti obat dan olahraga rutin.
Bagi orang dengan diabetes, menjaga gula darah setelah makan tetap terkendali merupakan bagian penting dari perawatan. Otot punya andil dalam proses ini karena glukosa dalam darah dapat digunakan sebagai energi oleh jaringan otot.
Salah satu otot yang kini mendapat perhatian adalah soleus. Soleus adalah otot yang berada di bagian dalam betis dan berperan penting saat berdiri serta berjalan. Otot ini dirancang untuk bekerja dalam waktu lama tanpa cepat lelah, sehingga aktif hampir terus-menerus selama beraktivitas.
Table of Content
Gerakan soleus push-up diteliti
Sebuah penelitian menguji aktivitas dominan soleus yang dilakukan sambil duduk. Gerakannya menyerupai mengangkat tumit berulang kali, sementara bagian depan telapak kaki tetap menapak. Gerakan tersebut dalam penelitian dikenal soleus push-up.
Hasilnya, saat peserta melakukan kontraksi soleus setelah mengonsumsi larutan glukosa, kenaikan paparan gula darah setelah konsumsi glukosa tercatat sekitar 52 persen lebih rendah dibandingkan ketika peserta hanya duduk diam. Respons insulin berlebihan juga berkurang hingga sekitar 60 persen.
Apa manfaatnya bagi orang dengan diabetes?
Secara teori, latihan soleus dapat memberi beberapa manfaat, seperti:
Meski demikian, studi utama tersebut melibatkan relawan yang tidak bugar dan bukan uji terapi jangka panjang pada pasien diabetes. Peneliti tidak mengukur apakah latihan ini dapat menurunkan HbA1c, mencegah komplikasi, atau menggantikan pengobatan.
Jadi, anggap latihan soleus sebagai pelengkap, bukan terapi diabetes yang telah terbukti.
Cara melakukan soleus push-up

ilustrasi latihan mengangkat tumit di kursi atau soleus push-up (pexels.com/MART PRODUCTION) Gerakan sederhananya dapat dilakukan dengan posisi duduk tegak:
- Letakkan kedua telapak kaki di lantai dan tekuk lutut dengan nyaman.
- Pertahankan bagian depan telapak kaki tetap menapak.
- Angkat kedua tumit perlahan, lalu turunkan kembali secara terkendali.
- Ulangi tanpa memaksakan kecepatan atau rentang gerak.
Bukan pengganti aktivitas fisik atau obat
Aktivitas fisik teratur, pola makan sehat, pengobatan sesuai kebutuhan, dan pemantauan komplikasi adalah bagian penting dalam penanganan diabetes. Para ahli merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu untuk membantu mencegah atau menunda diabetes tipe 2 dan komplikasinya.
Latihan soleus dapat dipandang sebagai tambahan, terutama saat kamu sedang duduk bekerja, bepergian, atau beristirahat. Gerakan ini tidak menggantikan manfaat latihan aerobik, latihan kekuatan, berjalan, maupun rencana perawatan yang telah diberikan dokter.
Perhatikan risiko gula darah terlalu rendah
Aktivitas fisik dapat menurunkan gula darah. Risiko hipoglikemia lebih perlu diperhatikan pada orang yang menggunakan insulin atau obat diabetes tertentu. Orang dengan diabetes perlu mengikuti rencana pemantauan gula darah dari dokter dan tidak mengubah dosis obat tanpa arahan.
Orang dengan neuropati diabetes, luka pada kaki, gangguan aliran darah, nyeri, atau gangguan keseimbangan juga sebaiknya berkonsultasi sebelum memulai latihan baru. Hentikan latihan jika muncul pusing, gemetar, keringat dingin, nyeri, mati rasa, atau keluhan lain yang tidak biasa.
Kesimpulannya, melatih soleus melalui gerakan mengangkat tumit sambil duduk memiliki dasar fisiologis dan didukung temuan awal dari studi laboratorium. Manfaat paling mungkin adalah membantu respons gula darah setelah konsumsi glukosa. Namun, bukti pada pasien diabetes dan manfaat jangka panjangnya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Referensi
Marc T. Hamilton, Deborah G. Hamilton, and Theodore W. Zderic, “A Potent Physiological Method to Magnify and Sustain Soleus Oxidative Metabolism Improves Glucose and Lipid Regulation,” iScience 25, no. 9 (2022): 104869, https://doi.org/10.1016/j.isci.2022.104869.
World Health Organization, “Diabetes,” diakses September 2026.
National Health Service, “Low Blood Sugar (Hypoglycaemia),” diakses September 2026.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






![[QUIZ] Apakah Kamu Punya Kecenderungan Anxiety? Cek di Sini](https://image.idntimes.com/post/20250920/arctic-qu-dtokmihuuqi-unsplash_8b1ef92d-ab4e-46ef-884b-123bdd4a932b.jpg)


![[QUIZ] Apakah Kamu Perlu Detoks Media Sosial? Cek dari Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20250528/screenshot-2025-05-28-082018-729cf6c4f291ffce1d7960e8c2669322-14379681e8b0768ac8adbcb2187d5670.png)













