Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Anestesi Dalam Rahim Diuji untuk Nyeri Saat Pemasangan IUD

3 min read
Anestesi Dalam Rahim Diuji untuk Nyeri Saat Pemasangan IUD
ilustrasi kontrasepsi IUD (unsplash.com/Reproductive Health Supplies Coalition)
  • Studi terhadap 370 peserta menemukan mepivakain mengurangi skor nyeri pemasangan IUD dibandingkan larutan saline.

  • Obat diberikan melalui kateter tipis ke dalam rahim sekitar dua menit sebelum pemasangan, tanpa suntikan ke jaringan sekitar leher rahim.

  • Metode ini belum dibandingkan langsung dengan pilihan pereda nyeri lain dan belum tentu cocok untuk semua orang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi sebagian orang, kekhawatiran terhadap nyeri menjadi pertimbangan ketika memilih alat kontrasepsi dalam rahim atau IUD. Prosedur pemasangannya memang singkat, tetapi pengalaman nyeri setiap orang bisa berbeda.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di JAMA menguji cara baru untuk membantu mengurangi nyeri tersebut. Alih-alih menyuntikkan anestesi ke jaringan sekitar leher rahim, peneliti memasukkan obat bius lokal langsung ke dalam rahim melalui kateter yang sangat tipis.

  1. Diuji pada 370 peserta

    Penelitian ini merupakan uji klinis acak, tersamar ganda, dan terkontrol plasebo yang dilakukan di 11 klinik di Swedia pada 2021–2024. Pesertanya adalah 370 individu berusia 18–31 tahun yang belum pernah melahirkan dan akan menjalani pemasangan IUD dengan tabung pemasangan berdiameter kecil.

    Sebanyak 185 peserta menerima 10 mililiter mepivakain dengan konsentrasi 20 miligram per mililiter. Kelompok lainnya menerima larutan saline dengan volume yang sama. Cairan diberikan sekitar 2 menit sebelum IUD dipasang, dan peserta maupun tenaga kesehatan tidak mengetahui kelompok yang diterima.

    Metode ini tidak menggunakan jarum. Cairan dimasukkan melalui kateter tipis yang melewati leher rahim menuju rahim.

  2. Nyeri berkurang, tetapi tidak hilang

    Nyeri diukur dengan skala 0–100, dengan 0 berarti tidak nyeri dan 100 berarti nyeri terburuk. Rata-rata skor nyeri saat pemasangan mencapai 43,8 pada kelompok mepivakain dan 58,6 pada kelompok saline.

    Setelah memperhitungkan perbedaan antar klinisi, skor nyeri pada kelompok mepivakain rata-rata 14,2 poin lebih rendah. Peneliti menghitungnya sebagai penurunan sekitar 23,7 persen dibanding kelompok kontrol.

    Manfaat juga terlihat pada toleransi prosedur. Sebanyak 98,3 persen peserta yang menerima mepivakain menilai nyerinya masih dapat ditoleransi, dibandingkan 91,4 persen pada kelompok saline.

    Nyeri berat, yang didefinisikan sebagai skor minimal 70, dialami oleh 17,5 persen peserta dalam kelompok mepivakain dan 34,5 persen dalam kelompok kontrol.

    Namun, anestesi ini tidak membuat pemasangan IUD bebas nyeri. Rata-rata skor 43,8 menunjukkan bahwa sebagian peserta tetap merasakan nyeri, meski intensitasnya lebih rendah.

  3. Pengalaman pemasangan juga dinilai lebih baik

    Ilustrasi seorang perempuan sebagai gambar pendukung artikel digital, dengan kredit visual IDN Times dan NRF.
    ilustrasi perempuan (IDN Times/NRF)

    Lebih dari separuh peserta dalam kelompok mepivakain menilai prosedur lebih mudah daripada yang mereka perkirakan. Proporsinya mencapai 52,8 persen, dibandingkan 34,3 persen pada kelompok saline.

    Peserta yang menerima mepivakain juga lebih sedikit yang meminta obat pereda nyeri tambahan setelah prosedur. Tidak ada kejadian tidak diinginkan serius yang dilaporkan dalam penelitian, dan pemantauan tiga bulan tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam efek samping antara kedua kelompok.

    Pemberian mepivakain ke dalam rahim dapat menjadi pendekatan sederhana untuk meningkatkan toleransi pasien selama pemasangan IUD.

  4. Apakah mepivakain pilihan terbaik?

    Penelitian ini menunjukkan bahwa mepivakain lebih efektif daripada larutan saline dalam mengurangi nyeri. Namun, peneliti belum membandingkannya secara langsung dengan metode lain, seperti obat antinyeri oral, gel anestesi, suntikan pada leher rahim, atau blok paracervical.

    Peserta penelitian juga merupakan kelompok yang cukup spesifik, yaitu berusia muda, belum pernah melahirkan, menjalani pemasangan IUD dengan tabung berdiameter kecil, dan dirawat di klinik-klinik Swedia. Karena itu, hasilnya belum tentu sama pada orang yang pernah melahirkan, menggunakan jenis IUD lain, atau menjalani prosedur dengan kondisi berbeda.

    Mepivakain intrauterine merupakan metode yang menjanjikan untuk membantu mengurangi nyeri pemasangan IUD, tetapi penerapannya tetap perlu mengikuti penilaian tenaga kesehatan. Diskusikan pilihan pengendalian nyeri, termasuk manfaat, risiko, ketersediaan, dan kesesuaiannya dengan kondisi masing-masing.

    Referensi

    Karin Elgemark, Niklas Envall, and Helena Kopp Kallner, “Intrauterine Mepivacaine Instillation vs Placebo for Pain During IUD Placement: A Randomized Clinical Trial,” JAMA, published online September 17, 2026, https://doi.org/10.1001/jama.2026.14217.

    Karolinska Institutet, “Women Experienced Less Pain during IUD Insertion Using a New Method,” diakses September 2026.

    EurekAlert!, “Intrauterine Mepivacaine Instillation vs Placebo for Pain during IUD Placement,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More