Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cara Melindungi Diri dari Ebola saat Bepergian ke Luar Negeri
ilustrasi cara melindungi diri dari Ebola saat bepergian ke luar negeri (pexels.com/Asad Photo Maldives)
  • Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh orang terinfeksi, bukan lewat udara, sehingga risiko bagi wisatawan umum tergolong rendah.
  • Sebelum bepergian ke wilayah berisiko, penting memeriksa informasi kesehatan terbaru dari WHO atau CDC dan mengetahui fasilitas medis terdekat.
  • Pencegahan utama meliputi menjaga kebersihan tangan, menghindari kontak dengan orang sakit, darah, cairan tubuh, hewan liar, serta praktik pemakaman tradisional yang melibatkan sentuhan jenazah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perjalanan internasional membawa banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit menular lintas negara.

Salah satu penyakit yang memicu kekhawatiran adalah Ebola. Nama penyakit ini kerap muncul dalam pemberitaan ketika terjadi wabah di beberapa negara Afrika. Angka kematiannya yang tinggi membuat Ebola sering dianggap sebagai salah satu penyakit menular paling mematikan.

Meski demikian, risiko bagi wisatawan biasa sebenarnya relatif rendah. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar kasus Ebola terjadi melalui kontak langsung dengan penderita atau jenazah yang terinfeksi, bukan melalui interaksi sehari-hari seperti berjalan di jalan, duduk di restoran, atau berada di pesawat yang sama.

Karena itu, memahami cara penularan Ebola penting untuk melindungi diri saat bepergian.

Cara Ebola menular

Ebola disebabkan oleh virus dari genus Orthoebolavirus. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius yang dikenal sebagai Ebola virus disease (EVD).

Beda dengan penyakit pernapasan seperti influenza atau COVID-19, Ebola tidak menyebar melalui udara dalam situasi normal. Penularan terjadi ketika seseorang bersentuhan langsung dengan darah, muntahan, feses, air liur, urine, ASI, cairan reproduksi, atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi.

Virus juga dapat menular melalui benda yang terkontaminasi cairan tubuh tersebut, seperti jarum suntik, pakaian, tempat tidur, atau peralatan medis yang tidak disterilkan dengan baik.

Penelitian menunjukkan bahwa risiko penularan meningkat ketika seseorang merawat pasien Ebola tanpa alat pelindung diri yang memadai atau terlibat dalam ritual pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah.

Jadi, aktivitas wisata biasa umumnya bukan faktor risiko utama.

Cek informasi kesehatan sebelum berangkat

Sebelum bepergian ke luar negeri, terutama ke wilayah Afrika Tengah atau Afrika Barat, periksa informasi kesehatan terbaru dari WHO, CDC, atau otoritas kesehatan setempat. Wabah Ebola biasanya terkonsentrasi di wilayah tertentu dan tidak selalu melibatkan seluruh negara.

Informasi ini penting karena situasi wabah dapat berubah dari waktu ke waktu. Sebuah negara yang aman bulan lalu belum tentu memiliki status yang sama beberapa minggu kemudian.

Selain itu, pahami lokasi fasilitas kesehatan terdekat di destinasi tujuan. Mengetahui ke mana harus mencari bantuan medis dapat mempercepat respons jika terjadi keadaan darurat kesehatan selama perjalanan.

Hindari kontak dengan orang yang sedang sakit

ilustrasi suasana bandara keberangkatan internasional (pexels.com/Zheng Xia)

Jika berada di wilayah yang sedang mengalami wabah Ebola, hindari kontak fisik dengan siapa pun yang menunjukkan gejala seperti demam tinggi, muntah, diare berat, perdarahan, atau kondisi sakit yang tidak diketahui penyebabnya.

Tidak perlu takut terhadap semua orang karena Ebola tidak menyebar hanya karena berada di ruangan yang sama atau melewati seseorang di jalan.

Namun, jika ada anggota keluarga, teman perjalanan, atau orang lain yang menunjukkan gejala mencurigakan, penting untuk menjaga jarak fisik dan segera menghubungi layanan kesehatan setempat.

Makin sedikit kontak langsung dengan cairan tubuh orang sakit, makin rendah risiko penularan.

Rajin membersihkan tangan

Mencuci tangan merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif.

Kamu direkomendasikan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara teratur, terutama setelah berada di tempat umum, menggunakan toilet, atau sebelum makan.

Ketika fasilitas cuci tangan tidak tersedia, pembersih tangan berbasis alkohol dapat menjadi alternatif.

Meski Ebola tidak menyebar semudah virus pernapasan, menjaga kebersihan tangan membantu mengurangi risiko berbagai infeksi lain yang juga sering mengintai pelancong, termasuk diare infeksius dan penyakit pernapasan.

Jangan menyentuh darah atau cairan tubuh orang lain

Banyak kasus Ebola pada wabah sebelumnya terjadi akibat paparan langsung terhadap cairan tubuh. Jadi, jika melihat seseorang terluka atau mengalami perdarahan, hindari kontak langsung tanpa alat pelindung yang sesuai. Prinsip ini berlaku di mana pun, tidak hanya di daerah dengan risiko Ebola.

Petugas kesehatan menggunakan sarung tangan, masker, pelindung mata, dan perlengkapan khusus bukan tanpa alasan. Peralatan tersebut membantu menciptakan penghalang antara tubuh mereka dan sumber infeksi.

Bagi wisatawan, aturan sederhananya adalah tidak menyentuh darah atau cairan tubuh orang lain dalam keadaan apa pun kecuali memiliki pelatihan dan perlindungan yang memadai.

Hindari konsumsi daging hewan liar yang diburu untuk dimakan dan kontak dengan satwa liar

ilustrasi sajian dari daging buruan (pexels.com/Julia Filirovska)

Virus Ebola diyakini berasal dari hewan dan dapat berpindah ke manusia melalui proses yang disebut spillover.

Rekomendasi umum bagi wisatawan adalah untuk menghindari kontak dengan kelelawar buah, primata nonmanusia seperti monyet dan simpanse, serta hewan liar yang ditemukan mati atau sakit.

Risiko juga dapat meningkat melalui konsumsi bushmeat, yaitu daging hewan liar yang diburu dari alam.

Rekomendasi tersebut penting terutama bagi pelancong petualangan, pekerja lapangan, atau individu yang tinggal lebih lama di wilayah pedesaan.

Waspadai praktik pemakaman tradisional

Salah satu karakteristik wabah Ebola adalah tingginya risiko penularan dari jenazah yang terinfeksi.

Penelitian menunjukkan, virus dapat tetap berada dalam tubuh setelah kematian. Karena itu, ritual pemakaman yang melibatkan menyentuh, memandikan, atau mencium jenazah berisiko menyebabkan penularan.

WHO mengidentifikasi praktik pemakaman tidak aman sebagai salah satu faktor utama yang mempercepat penyebaran wabah Ebola di masa lalu.

Bagi wisatawan, menghindari keterlibatan dalam ritual semacam ini merupakan langkah pencegahan yang sangat penting.

Gejala infeksi Ebola

ilustrasi virus Ebola (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Meskipun risiko tertular rendah, mengenali gejala tetap penting.

Gejala Ebola biasanya muncul 2–21 hari setelah paparan virus. Keluhan awal dapat berupa:

  • Demam.

  • Sakit kepala berat.

  • Nyeri otot.

  • Kelelahan ekstrem.

  • Nyeri tenggorokan.

Gejala kemudian dapat berkembang menjadi:

  • Muntah.

  • Diare.

  • Nyeri perut.

  • Ruam.

  • Perdarahan pada beberapa kasus.

Karena gejala awal mirip dengan banyak penyakit lain, riwayat perjalanan menjadi informasi penting bagi tenaga kesehatan.

Apa yang harus dilakukan jika sakit setelah pulang?

Banyak orang mengira gejala harus muncul saat masih berada di luar negeri, padahal masa inkubasi Ebola dapat berlangsung hingga 21 hari.

Jika mengalami demam atau gejala mencurigakan dalam tiga minggu setelah kembali dari wilayah yang mengalami wabah, segera cari pertolongan medis.

Sampaikan riwayat perjalanan secara lengkap kepada dokter. Informasi ini membantu tenaga kesehatan mempertimbangkan kemungkinan penyakit tertentu dan mengambil langkah pencegahan yang diperlukan.

Diagnosis dan isolasi dini sangat penting untuk mencegah penularan lebih lanjut sekaligus meningkatkan peluang penanganan yang tepat.

Risiko infeksi Ebola bagi wisatawan umum sangat rendah karena penyakit ini memerlukan kontak langsung dengan sumber infeksi. Berjalan-jalan, mengunjungi objek wisata, menginap di hotel, atau menggunakan transportasi umum biasanya tidak menyebabkan penularan.

Namun, risiko rendah bukan berarti nol. Tetap ikuti informasi kesehatan terbaru, memahami cara penularan, menjaga kebersihan tangan, dan menghindari paparan yang berisiko merupakan langkah terbaik untuk melindungi diri.

Referensi

World Health Organization (WHO). "Ebola Virus Disease." Diakses Juni 2026.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "About Ebola Disease." Diakses Juni 2026.

CDC. "Travelers' Health: Ebola." Diakses Juni 2026.

WHO. "Travel and Transport Risk Assessment: Guidance for Ebola Virus Disease." Diakses Juni 2026.

Heinz Feldmann and Thomas W Geisbert, “Ebola Haemorrhagic Fever,” The Lancet 377, no. 9768 (November 16, 2010): 849–62, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(10)60667-8.

Shevin T. Jacob et al., “Ebola Virus Disease,” Nature Reviews Disease Primers 6, no. 1 (February 20, 2020): 13, https://doi.org/10.1038/s41572-020-0147-3.

Julii Brainard et al., “Risk Factors for Transmission of Ebola or Marburg Virus Disease: A Systematic Review and Meta-analysis,” International Journal of Epidemiology 45, no. 1 (November 20, 2015): 102–16, https://doi.org/10.1093/ije/dyv307.

CDC. "Infection Prevention and Control Recommendations for Ebola." Diakses Juni 2026.

WHO. "Clinical Management of Patients with Viral Haemorrhagic Fever." Geneva: WHO. https://www.who.int

William A Fischer et al., “Ebola Virus Disease: An Update on Post-exposure Prophylaxis,” The Lancet Infectious Diseases 18, no. 6 (November 15, 2017): e183–92, https://doi.org/10.1016/s1473-3099(17)30677-1.

Editorial Team

Related Article