Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Dampak Bahaya Kelebihan Gula terhadap Otak, Memengaruhi Kesehatan Mental?

5 Dampak Bahaya Kelebihan Gula terhadap Otak, Memengaruhi Kesehatan Mental?
Perempuan makan makanan manis (magnific.com/wayhomestudio)
Intinya Sih
  • Kelebihan gula dapat menurunkan daya ingat, mengganggu metabolisme otak, serta meningkatkan risiko demensia dan Alzheimer akibat resistensi insulin serta penurunan produksi faktor BDNF.
  • Asupan gula tinggi memengaruhi suasana hati dengan meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan gangguan emosi karena ketidakseimbangan neurotransmitter serta peradangan ringan di otak.
  • Kadar glukosa berlebih mengacaukan sistem penghargaan dan hipotalamus, mempercepat penyusutan serta penuaan otak, yang berdampak pada fungsi kognitif dan kesehatan mental jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Otak menggunakan lebih banyak energi daripada organ lain di tubuh manusia. Perlu diketahui bahwa sel-sel otak memerlukan energi dua kali lipat dari yang dibutuhkan oleh semua sel lain di tubuh, yaitu sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi harian kita, mengutip laman Psychology Today.

Energi ini berasal dari glukosa (gula darah), yang merupakan sumber utama bahan bakar otak. Perlu diketahui bahwa otak sangat membutuhkan glukosa sehingga menggunakan antara 20 persen hingga 25 persen glukosa tubuh, agar tetap berfungsi dengan baik.

Akan tetapi, terlalu banyak gula bisa berdampak buruk pada otak maupun kesehatan tubuh secara keseluruhan. Gula bukanlah musuh otak, melainkan gula tambahan yang terdapat pada makanan maupun minuman. Perlu diketahui bahwa terlalu banyak gula tambahan, bisa mengakibatkan konsekuensi yang serius bagi otak, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Berikut ini beberapa dampak negatif dari kelebihan gula terhadap otak. Yuk, pahami dengan baik!

1. Penurunan daya ingat

Perempuan menderita demensia
Perempuan menderita demensia (magnific.com/stockking)

Mengonsumsi makanan manis seperti cookies atau jenis kue lainnya sesekali kemungkinan tidak akan menjadi masalah. Namun, jika mengonsumsi makanan manis atau minuman manis terlalu banyak secara kronis dalam jangka waktu yang panjang, bisa secara perlahan merusak kesehatan kognitif.

"Gula berlebih bisa berdampak negatif pada otak, dengan mengganggu daya ingat melalui mekanisme seperti resistensi insulin, yang mempersulit sel-sel otak, untuk mendapatkan glukosa (bahan bakar), yang mereka butuhkan untuk berfungsi, dan melalui neuroinflamasi, " kata Juliana Vocca, MS, RD, seorang ahli diet terdaftar dan pemilik Prime Women Nutrition.

Perlu diketahui bahwa gangguan ketersediaan glukosa dan metabolisme ini, bisa mengakibatkan serangkaian reaksi yang menyebabkan peningkatan produksi plak amiloid, yang menyebabkan kematian neuron, yang menjadi ciri khas demensia Alzheimer. Penelitian dalam skala besar mendukung hubungan ini.

Penelitian tambahan juga menunjukkan bahwa diet tinggi gula tambahan, mengurangi produksi faktor neutropik turunan otak (BDNF), yaitu zat kimia otak yang penting untuk pembentukan memori baru dan pembelajaran. Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Diabetelogia, kadar BDNF yang lebih rendah, juga dihubungkan dengan demensia dan penyakit Alzheimer.

Selain itu, sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2013, menemukan bahwa resistensi insulin dan kadar glukosa darah, yang merupakan ciri khas dari diabetes, berkaitan dengan peningkatan risiko terkena gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer. "Penelitian tersebut memberikan lebih banyak bukti bahwa otak merupakan organ target kerusakan karena gula darah tinggi," kata Dr. Medha Munshi, MD, Profesor Madya Kedokteran di Harvard Medical School, yang merupakan ahli getriatri dan endrokrinologi, ketika diwawancarai oleh New York Times.

Bahkan beberapa peneliti menyebut penyakit Alzheimer sebagai "Diabetes Tipe 3", yang menunjukkan bahwa pola makan kemungkinan berperan dalam risiko seseorang terkena penyakit tersebut.

2. Memengaruhi suasana hati dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental

Laki-laki mengalami depresi
Laki-laki mengalami depresi (magnific.com/freepik)

Selain penurunan daya ingat, dampak serius lainnya akibat kelebihan gula terhadap otak yaitu memengaruhi suasana hati. Ini bisa meliputi:

  • Gangguan pemrosesan emosi: Pada individu muda yang sehat, kemampuan untuk memproses emosi terganggu dengan peningkatan kadar glukosa darah, menurut sebuah studi pencitraan otak.
  • Peningkatan kecemasan: Studi lain yang diterbitkan di Diabetes Care, menemukan bahwa penderita diabetes tipe 2, melaporkan peningkatan kesedihan dan kecemasan selama hiperglisemia akut (kadar gula darah tinggi).
  • Risiko depresi yang lebih tinggi: Salah satu studi terbesar yang menghubungkan gula dengan depresi - analisis konsumsi makanan dan suasana hati dari 23.345 individu yang terdaftar dalam studi Whitehall II, menemukan bahwa tingkat konsumsi gula yang lebih tinggi, dikaitkan dengan peningkatan kasus depresi.

Selain itu, sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2017 di jurnal Scientific Report, menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah tertinggi, memiliki kemungkinan sekitar 23 persen lebih besar untuk didiagnosis gangguan kesehatan mental, dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi gula dalam jumlah yang terendah.

Perlu diketahui bahwa makanan yang kaya gula dan juga karbohidrat, bisa mengganggu neurotransmitter, yang menjaga suasana hati kita tetap stabil. Ini karena mengonsumsi gula, merangsang pelepasan neurotransmitter serotonin, yang meningkatkan suasana hati. "Terus-menerus mengaktifkan jalur serotonin secara berlebihan, bisa mengurangi persediaan neurotransmitter kita yang terbatas, yang bisa berkontribusi terhadap gejala depresi," kata Dr. Datis Kharrazian, pakar pengobatan fungsional dan penulis buku "Why Isn't My Brain Working?".

"Gula berlebih, terutama dalam jumlah yang tinggi dan sering, bisa memicu peradangan ringan dan stres metabolik, yang bisa mengganggu fungsi otak dan keseimbangan neurotransmitter, yang berpotensi merusak pengaturan suasana hati," kata Karoline Saweres, MS, RDN, LD, seorang ahli gizi terdaftar dan pendiri My Nutrition & Me.

Penelitian juga menemukan bahwa orang yang mengonsumsi makanan standar Amerika, yang tinggi makanan olahan, yang biasanya mengandung lemak jenuh, gula dan garam dalam jumlah yang tinggi, memiliki risiko yang lebih tinggi terkena depresi, daripada mereka yang mengonsumsi makanan utuh dan rendah gula, mengutip laman HuffPost.

3. Memengaruhi cara kerja hipotalamus dan sistem penghargaan di otak

Perempuan makan makanan manis
Perempuan makan makanan manis (magnific.com/wayhomestudio)

Makanan dengan Indeks glikemik yang tinggi, yang bisa dengan cepat meningkatkan kadar gula darah, bisa mengaktifkan area otak, yang berkaitan dengan respons penghargaan. Aktivasi ini, bisa menyebabkan keinginan makan yang lebih kuat, dibandingkan dengan makanan dengan Indeks glikemik yang rendah. Perlu diketahui bahwa makanan yang menyebabkan peningkatan gula darah secara cepat, lebih cenderung memicu hasrat yang lebih tinggi untuk makan.

Perlu diketahui juga bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung banyak gula, juga mengganggu cara kerja hipotalamus, yang merupakan bagian otak yang bertugas untuk mengatur nafsu makan dan energi. Pusat kendali ini mendapatkan banyak isyarat lapar dan kenyang dari hormon, seperti leptin dan insulin. Ketika kamu sudah cukup makan, maka leptin dan insulin akan meningkat, dan kemudian mengirim sinyal ke otak untuk memberi tahu bahwa kamu sudah tidak membutuhkan makan lagi.

Dengan mengonsumsi terlalu banyak gula, maka bisa mengganggu sistem komunikasi ini. Seiring waktu, mengonsumsi terlalu banyak secara kronis bisa menyebabkan resistensi insulin di otak, sehingga membuat hipotalamus kurang responsif terhadap insulin. Selain itu, resistensi insulin juga bisa membuat otak menjadi kurang sensitif terhadap leptin. Akibatnya, otak memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengirim sinyal kenyal, sehingga membuat kamu cenderung terus ingin makan dan melewati titik di mana sebenarnya sudah merasa cukup untuk makan.

Sementara itu, studi tambahan tentang aktivitas otak, mendukung gagasan bahwa makan secara berlebihan, bisa mengubah sistem perhargaan di otak, yang berpotensi menyebabkan lebih banyak makan yang berlebihan. Proses ini mirip dengan toleransi yang terlihat pada kecanduan, di mana lebih dibutuhkan banyak zat, untuk mencapai tingkat kepuasan yang sama.

Faktanya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa makan secara berlebihan, bisa menyebabkan penurunan respons penghargaan, yang bisa memburuk seiring waktu. Jika sistem penghargaan otak ini mengalami penurunan, maka bisa memicu depresi. Dilansir Psychology Today, orang yang mengalami depresi, sangat sering menunjukkan penurunan minat untuk mengalami atau mendapatkan kesenangan. Ini merupakan sebuah gejala yang disebut dengan anhedonia, yang menurut penelitian disebabkan oleh disfungsi pada sistem penghargaan otak.

Sistem penghargaan di otak adalah jaringan wilayah dan jalur yang mendorong bagaimana kita merasakan kesenangan, membentuk kebiasaan, dan memotivasi perilaku. Cara kerjanya yaitu dengan melepaskan zat kimia (seperti dopamin), sebagai respons terhadap aktivitas yang memberikan kepuasan, baik itu makan, bersosialisasi, atau mencapai suatu tujuan. Mekanisme yang berevolusi ini, memperkuat perilaku yang bermanfaat atau menyenangkan, dengan membuat kita merasa senang ketika melakukannya.

4. Peningkatan risiko penyusutan otak

Otak yang mengalami penyusutan
Otak yang mengalami penyusutan (magnific.com/kjpargeter)

Pengaruh glukosa dan bentuk gula lainnya pada otak, kemungkinan besar paling berkaitan dengan diabetes, suatu kondisi medis yang terjadi dimana kadar glukosa darah yang tinggi dan bertahan dalam jangka waktu yang panjang. "Diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2, memiliki banyak konsekuensi bagi otak dan neuron di otak, " kata Dr. Vera Novak, MD, PhD, Profesor Kedokteran di HMS, Beth Israel Deaconess Medical Center.

Kadar glukosa darah yang tinggi, bisa memengaruhi konektivitas fungsional otak, yang menghubungkan wilayah otak yang memiliki sifat fungsional yang sama, dan materi otak. Hal ini bisa mengakibatkan otak mengalami atrofi atau penyusutan. Selain itu, juga bisa menyebabkan penyakit pembuluh darah kecil, yang membatasi aliran darah di otak, menyebabkan kesulitan kognitif, dan jika cukup parah, memicu perkembangan demensia vaskular, seperti yang dilansir pada Harvard Medical School.

Selain itu, paparan berulang terhadap kadar glukosa darah yang tinggi, mengurangi kapasitas mental. Ini karena kadar HbA1c yang lebih tinggi, telah dihubungkan dengan tingkat penyusutan otak yang lebih besar, mengutip laman Verywell Mind.

5. Penuaan otak yang lebih cepat

Otak mengalami penuaan
Otak mengalami penuaan (magnific.com/Atlascompany)

Seiring bertambahnya usia, otak secara alami mengalami perubahan, dan mengalami penyusutan dalam ukuran dan volume ketika memasuki usia 30-an atau 40-an. Namun dalam beberapa kasus, otak mengalami penuaan yang lebih cepat dari yang seharusnya, yang bisa meningkatkan risiko kehilangan ingatan dini, penurunan fungsi kognitif, dan beberapa gangguan yang berhubungan dengan otak.

Perlu diketahui bahwa penuaan otak yang lebih cepat, dihubungkan dengan berbagai gangguan neurologis dan kejiwaan, serta beberapa penyakit neurodegeneratif. Akan tetapi, faktor-faktor yang memengaruhi kecepatan penuaan otak, belum dijelaskan secara jelas dan komprehensif.

Para peneliti di Jilin University dan Universitas Kedokteran China, baru-baru ini, menganalisis data neuroimaging, genomik, dan biologis, yang tersedia untuk lebih memahami kontribusi proses metabolisme (yaitu reaksi kimia yang mengubah makanan menjadi energi) terhadap penuaan otak. Hasil penemuan mereka yang dipublikasikan di Molecular Psychiatry, menunjukkan bahwa kadar glukosa yang lebih tinggi dalam darah, dihubungkan dengan percepatan penuaan otak.

Studi ini menawarkan bukti yang menunjukkan bahwa glukosa dalam darah, berkontribusi pada proses yang berkaitan dengan penuaan otak. Menariknya, para peneliti menemukan bahwa kadar glukosa darah yang lebih tinggi, juga dihubungkan dengan peningkatan risiko terkena tujuh kondisi berbeda, yang diketahui memengaruhi fungsi otak.

"Secara klinis, peningkatan kadar glukosa plasma, berhubungan positif dengan tujuh gangguan otak, termasuk demensia, penyakit Alzheimer, demensia vaskular, penyakit Parkinson, stroke, depresi, dan kecemasan, serta berhubungan negatif dengan kinerja kognitif, fungsi gerak, dan hasil kesehatan mental," tulis para penulis studi tersebut.

Selain itu, konsentrasi glukosa yang lebih tinggi, juga dihubungkan dengan penurunan volume otak regional di 80 wilayah kortikal, subkortikal, dan serebelum. Temuan ini menunjukkan bahwa metabolisme glukosa adalah jalur yang bisa dimodifikasi, dalam penuaan otak, dengan implikasi bagi strategi intervensi dini, yang bertujuan untuk menjaga kesehatan otak sepanjang hidup, mengutip laman Medical Xpress.

Meski mengonsumsi terlalu banyak gula tidak baik untuk kesehatan, terutama untuk otak, namun kamu tidak harus meninggalkan gula sepenuhnya, karena tubuh juga membutuhkan gula sebagai sumber energi. Sebaliknya, fokuslah pada pembatasan tambahan gula seperti membatasi konsumsi makanan atau minuman yang banyak mengandung gula tambahan, dan gantilah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung gula alami seperti buah-buahan.

Selain itu, prioritaskan untuk mengonsumsi makanan utuh yang kaya serat, rutin berolahraga, terhubung secara sosial, dan mendapatkan tidur malam yang berkualitas, untuk mendukung kesehatan otak maupun tubuh secara keseluruhan.

Referensi

Harvard Medical School. Diakses Juli 2026. "Sugar and the Brain".

Verywell Mind. Diakses Juli 2026. "5 Ways Sugar Negatively Impacts Your Brain and Cognitive Health".

EatingWell. Diakses Juli 2026. "What Happens to Your Brain When You Eat Too Much Sugar".

Psychology Today. Diakses Juli 2026. "What Eating Too Much Sugar Does to Your Brain".

HuffPost. Diakses Juli 2026. "This Is What Sugar Does To Your Brain - The Mental Health effects Of Eating Too Much Sugar".

Medical Xpress. Diakses Juli 2026. "Higher blood glucose levels linked to faster brain aging".

Prevention. Diakses Juli 2026. "Bananas Vs. Berries: Which Is Better for You? Dietitiens Explain".

My Nutrition & Me. Diakses Juli 2026. "Meet The Dietitian".

SimplyPsychology. Diakses Juli 2026. "Brain Reward System".

Psychology Today. Diakses Juli 2026. "How the Brain's Reward System Goes Awry".

Harvard Health Publishing. Diakses Juli 2026. "Medha Munshi, MD".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More