Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

3 Dampak Asap Karhutla pada Sistem Pernapasan Anak

4 min read
3 Dampak Asap Karhutla pada Sistem Pernapasan Anak
Seorang pelajar tingkat Taman Kanak-kanak memakai masker saat hendak berangkat sekolah di tengah paparan asap diduga dari kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), Rabu (14/10/2026). (IDN Times/Prayugo Utomo)
  • Partikel halus PM2.5 dapat masuk hingga ke bagian dalam paru dan memicu iritasi serta peradangan.

  • Asap dapat memperburuk asma dan berhubungan dengan meningkatnya gangguan pernapasan serta infeksi saluran napas.

  • Batuk setelah terpapar asap tidak otomatis berarti pneumonia. Napas cepat atau dada tertarik ke dalam perlu segera diperiksakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika kabut asap karhutla menyelimuti lingkungan, sebagian anak mulai mengalami batuk, tenggorokan perih, atau napas berbunyi. Ini terjadi karena asap dapat mengiritasi saluran pernapasan. Selain itu, partikel halus dalam asap juga dapat masuk hingga ke bagian paru yang lebih dalam dan mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi.

Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara. Paru-paru dan sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan. Di saat yang sama, anak bernapas lebih cepat daripada orang dewasa, sehingga mereka relatif menghirup lebih banyak udara dan partikel polusi dibandingkan ukuran tubuhnya.

  1. 1. Memicu iritasi dan peradangan saluran napas

    Asap kebakaran membawa campuran partikel dan gas. Partikel yang lebih besar, seperti PM10, umumnya tertahan di saluran napas bagian atas. Sementara itu, PM2.5 berukuran lebih kecil sehingga dapat masuk lebih jauh ke saluran napas bawah. Paparan ini dapat menimbulkan iritasi, batuk, hidung tersumbat, tenggorokan perih, atau sesak.

    Dalam seminar media Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang digelar secara daring pada Selasa (3/11), dr. Khairiyadi, M.Kes, Sp.A, Subsp.Respi(K), dokter anak konsultan respirologi dari Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Khairiyadi, M.Kes, Sp.A, Subsp.Respi(K), mengatakan, “Paparan asap karhutla akan melemahkan saluran napas dan itu bisa berlangsung lama.”

    Ia juga menjelaskan bahwa partikel asap dapat memicu stres oksidatif dan peradangan, serta mengganggu silia—rambut halus yang membantu membersihkan saluran napas dari lendir dan kotoran.

  2. 2. Memperburuk asma

    Ilustrasi seorang anak penderita asma menggunakan nebulizer untuk membantu pernapasan saat menjalani terapi.
    ilustrasi anak penderita asma sedang menggunakan nebulizer (pexels.com/cottonbro studio)

    Pada anak dengan asma, saluran napas lebih mudah menyempit saat terkena pemicu. Asap dapat memperberat batuk, mengi atau napas berbunyi, dan sesak. Anak yang sebelumnya memiliki penyakit paru juga dapat mengalami keluhan yang lebih berat.

    Tinjauan penelitian tentang asap kebakaran dan kesehatan paru anak menemukan bukti bahwa paparan jangka pendek berhubungan dengan meningkatnya gejala asma, penggunaan obat pereda, kunjungan ke layanan kesehatan, hingga rawat inap. Meski begitu, tingkat dampaknya dapat berbeda pada tiap anak.

  3. 3. Mengganggu pertahanan tubuh terhadap infeksi

    Saluran pernapasan memiliki lapisan pelindung dan rambut-rambut halus yang disebut silia untuk membantu menangkap serta mengeluarkan kuman. Paparan asap dapat mengganggu sistem pertahanan ini, termasuk sel-sel yang berperan melawan mikroorganisme. Akibatnya, tubuh bisa menjadi lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

    Meski begitu, terpapar asap tidak otomatis berarti seorang anak akan mengalami pneumonia. Pneumonia adalah infeksi paru, sedangkan gejala seperti batuk, sesak, atau napas berbunyi juga dapat muncul akibat iritasi karena asap atau kambuhnya asma.

    Sejumlah penelitian menemukan hubungan antara paparan asap dan meningkatnya gangguan pernapasan pada anak. Dalam sebuah studi yang melibatkan lebih dari 1.000 komunitas di tujuh negara dan wilayah, peningkatan partikel halus (PM2.5) dari kebakaran dikaitkan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat masalah pernapasan pada anak dan remaja. Namun, temuan ini tidak dapat memastikan bahwa asap menjadi penyebab setiap kasus pada individu.

    Penelitian lain di Palembang juga menemukan hubungan antara polusi udara dan meningkatnya kasus gangguan pernapasan pada anak. Namun, seperti penelitian berbasis populasi lainnya, hasil tersebut menunjukkan keterkaitan, bukan penyebab pasti.

  4. Bagaimana dengan dampak jangka panjang?

    Ilustrasi seorang anak perempuan mengenakan masker medis saat berada di luar ruangan untuk melindungi diri dari polusi udara.
    ilustrasi anak yang terpapar polusi udara (vecteezy.com/j_di_pm89557711)

    Dampak jangka pendek, seperti iritasi dan memburuknya asma, lebih banyak diteliti. Sejumlah penelitian memberi petunjuk bahwa paparan sejak dini mungkin berkaitan dengan fungsi paru pada masa berikutnya, tetapi bukti tentang dampak jangka panjang asap kebakaran pada anak masih terus berkembang.

    Orang tua sebaiknya segera mencari pertolongan medis jika anak bernapas cepat atau sulit bernapas, tampak sangat sesak, atau bagian bawah dadanya tertarik ke dalam saat menarik napas. Pada anak usia di bawah 5 tahun, napas cepat dan dada bagian bawah yang tertarik ke dalam merupakan tanda yang perlu dinilai oleh dokter.

    Ketua Umum IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) mengingatkan, “Udara bersih itu adalah hak asasi setiap warga negara Indonesia, termasuk anak-anak.” Pesan ini mengingatkan bahwa perlindungan anak dari dampak asap tidak cukup dilakukan di tingkat rumah tangga saja, tetapi juga memerlukan upaya bersama untuk mencegah dan menangani karhutla.

    Referensi

    Mary E. Crocker and Jonathan D. Cogen, “Wildfire Smoke and Pediatric Lung Health: What the Clinician Needs to Know,” Pediatric Pulmonology 61, no. 2 (2026): e71484, https://doi.org/10.1002/ppul.71484.

    Shuang Zhou et al., “Impact of Global Short-Term Landscape Fire Sourced PM2.5 Exposure on Child Cause-Specific Morbidity: A Study in Multiple Countries and Territories,” Nature Communications 16 (2025): 9347, https://doi.org/10.1038/s41467-025-64411-0.

    Budi Haryanto et al., “Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia,” Annals of Global Health 92, no. 1 (2026): 52, https://doi.org/10.5334/aogh.5211.

    World Health Organization, “Pneumonia in Children,” diakses 4 November 2026.

Related Articles

See More
3 Dampak Asap Karhutla pada Sistem Pernapasan Anak