Otak mengalami penuaan (magnific.com/Atlascompany)
Seiring bertambahnya usia, otak secara alami mengalami perubahan, dan mengalami penyusutan dalam ukuran dan volume ketika memasuki usia 30-an atau 40-an. Namun dalam beberapa kasus, otak mengalami penuaan yang lebih cepat dari yang seharusnya, yang bisa meningkatkan risiko kehilangan ingatan dini, penurunan fungsi kognitif, dan beberapa gangguan yang berhubungan dengan otak.
Perlu diketahui bahwa penuaan otak yang lebih cepat, dihubungkan dengan berbagai gangguan neurologis dan kejiwaan, serta beberapa penyakit neurodegeneratif. Akan tetapi, faktor-faktor yang memengaruhi kecepatan penuaan otak, belum dijelaskan secara jelas dan komprehensif.
Para peneliti di Jilin University dan Universitas Kedokteran China, baru-baru ini, menganalisis data neuroimaging, genomik, dan biologis, yang tersedia untuk lebih memahami kontribusi proses metabolisme (yaitu reaksi kimia yang mengubah makanan menjadi energi) terhadap penuaan otak. Hasil penemuan mereka yang dipublikasikan di Molecular Psychiatry, menunjukkan bahwa kadar glukosa yang lebih tinggi dalam darah, dihubungkan dengan percepatan penuaan otak.
Studi ini menawarkan bukti yang menunjukkan bahwa glukosa dalam darah, berkontribusi pada proses yang berkaitan dengan penuaan otak. Menariknya, para peneliti menemukan bahwa kadar glukosa darah yang lebih tinggi, juga dihubungkan dengan peningkatan risiko terkena tujuh kondisi berbeda, yang diketahui memengaruhi fungsi otak.
"Secara klinis, peningkatan kadar glukosa plasma, berhubungan positif dengan tujuh gangguan otak, termasuk demensia, penyakit Alzheimer, demensia vaskular, penyakit Parkinson, stroke, depresi, dan kecemasan, serta berhubungan negatif dengan kinerja kognitif, fungsi gerak, dan hasil kesehatan mental," tulis para penulis studi tersebut.
Selain itu, konsentrasi glukosa yang lebih tinggi, juga dihubungkan dengan penurunan volume otak regional di 80 wilayah kortikal, subkortikal, dan serebelum. Temuan ini menunjukkan bahwa metabolisme glukosa adalah jalur yang bisa dimodifikasi, dalam penuaan otak, dengan implikasi bagi strategi intervensi dini, yang bertujuan untuk menjaga kesehatan otak sepanjang hidup, mengutip laman Medical Xpress.
Meski mengonsumsi terlalu banyak gula tidak baik untuk kesehatan, terutama untuk otak, namun kamu tidak harus meninggalkan gula sepenuhnya, karena tubuh juga membutuhkan gula sebagai sumber energi. Sebaliknya, fokuslah pada pembatasan tambahan gula seperti membatasi konsumsi makanan atau minuman yang banyak mengandung gula tambahan, dan gantilah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung gula alami seperti buah-buahan.
Selain itu, prioritaskan untuk mengonsumsi makanan utuh yang kaya serat, rutin berolahraga, terhubung secara sosial, dan mendapatkan tidur malam yang berkualitas, untuk mendukung kesehatan otak maupun tubuh secara keseluruhan.
Referensi
Harvard Medical School. Diakses Juli 2026. "Sugar and the Brain".
Verywell Mind. Diakses Juli 2026. "5 Ways Sugar Negatively Impacts Your Brain and Cognitive Health".
EatingWell. Diakses Juli 2026. "What Happens to Your Brain When You Eat Too Much Sugar".
Psychology Today. Diakses Juli 2026. "What Eating Too Much Sugar Does to Your Brain".
HuffPost. Diakses Juli 2026. "This Is What Sugar Does To Your Brain - The Mental Health effects Of Eating Too Much Sugar".
Medical Xpress. Diakses Juli 2026. "Higher blood glucose levels linked to faster brain aging".
Prevention. Diakses Juli 2026. "Bananas Vs. Berries: Which Is Better for You? Dietitiens Explain".
My Nutrition & Me. Diakses Juli 2026. "Meet The Dietitian".
SimplyPsychology. Diakses Juli 2026. "Brain Reward System".
Psychology Today. Diakses Juli 2026. "How the Brain's Reward System Goes Awry".
Harvard Health Publishing. Diakses Juli 2026. "Medha Munshi, MD".