Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DBD Ancam Jiwa dan Ekonomi, Pemerintah Gencarkan Vaksinasi Nasional
Konferensi pers "ABCD Land—Ayo Bersama Cegah DBD!" di Jakarta, pada Jumat (19/06/2026) (IDN Times/Misrohatun)
  • DBD menimbulkan beban ekonomi hampir Rp9 triliun pada 2024 dengan lebih dari dua juta kasus rawat inap, menunjukkan dampak besar terhadap kesehatan dan produktivitas masyarakat Indonesia.
  • Pemerintah melalui Kemenkes memperkuat Strategi Nasional Penanggulangan Dengue 2021–2025 dan Rencana Aksi Nasional dengan fokus pada edukasi, 3M Plus, serta vaksinasi untuk menekan penyebaran DBD.
  • IDAI dan PAPDI merekomendasikan vaksinasi DBD bagi anak hingga dewasa, sementara Takeda mendukung kampanye ABCD Land guna meningkatkan kesadaran publik tentang pencegahan komprehensif penyakit ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Di Indonesia, DBD menjadi beban kesehatan dan ekonomi yang signifikan.

Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan total beban ekonomi penyakit ini mencapai hampir Rp9 triliun pada tahun 2024, dengan lebih dari 2 juta kasus rawat inap. Disebutkan juga bahwa BPJS Kesehatan menanggung sekitar Rp3 triliun untuk pembiayaan layanan kesehatan terkait DBD.

Sementara itu, pasien peserta BPJS dan keluarganya masih harus menanggung tambahan biaya sekitar Rp3,5 triliun untuk pengeluaran langsung maupun kehilangan pendapatan selama masa sakit, dan pasien non-BPJS beserta keluarganya menanggung beban sekitar Rp2,2 triliun.

Kasus yang cenderung meningkat

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Prima Yosephine, MKM, menegaskan bahwa beban DBD masih tinggi dan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan peningkatan. Perubahan iklim dan pola cuaca yang makin tidak menentu berpotensi meningkatkan risiko penyebaran DBD.

"Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah pencegahan sejak dini. Pemerintah telah merumuskan Strategi Nasional (Stranas) Penanggulangan Dengue 2021-2025 yang menjadi pedoman dalam memerangi DBD di Indonesia," ujarnya dalam konferensi pers "ABCD Land—Ayo Bersama Cegah DBD!" di Jakarta, pada Jumat (19/06/2026).

Upaya ini akan makin diperkuat dengan Rencana Aksi Nasional (RAN) yang saat ini sedang dikembangkan, dengan pendekatan komprehensif dan kolaboratif yang mencakup edukasi masyarakat, pemberantasan sarang nyamuk melalui "3M Plus", hingga pemanfaatan berbagai inovasi pencegahan yang tersedia, termasuk vaksinasi.

Rekomendasi vaksin pada anak dan dewasa

Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) (IDN Times/Misrohatun)

Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), memaparkan bahwa hingga saat ini masih banyak orang tua yang menganggap DBD sebagai penyakit musiman yang hanya perlu diwaspadai pada waktu-waktu tertentu. Padahal, risiko penularan dapat terjadi kapan saja.

"Risiko penularan dapat terjadi kapan saja, dan pada sebagian kasus berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa, termasuk syok dengue yang memerlukan penanganan segera. Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Menerapkan 3M Plus dan mengenali gejala DBD sejak dini tetap penting," jelasnya.

Selain itu, pendekatan yang komprehensif, termasuk perlindungan dari dalam melalui vaksinasi, juga dapat membantu mengurangi risiko rawat inap dan komplikasi akibat DBD. Karena itu, IDAI mendorong orang tua untuk aktif berkonsultasi dengan dokter anak dan memberikan rekomendasi vaksin dengue pada anak untuk perlindungan optimal dari DBD.

DBD sering kali identik dengan penyakit pada anak, padahal orang dewasa juga dapat terinfeksi dan mengalami komplikasi serius, menurut Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, Ketua Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).

Risiko ini makin besar pada individu dengan kondisi penyerta, seperti hipertensi yang berisiko komplikasi 2-3 kali lebih tinggi, diabetes melitus 3-5 kali lebih tinggi, penyakit ginjal hingga 7 kali lebih tinggi dan mereka yang memiliki asma atau penyakit paru kronis, bahkan 2-12 kali lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa komorbiditas.

Selain berdampak pada kesehatan, DBD juga memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup pasien dan keluarganya. Pencegahan yang komprehensif perlu menjadi perhatian seluruh kelompok usia. PAPDI telah merekomendasikan vaksinasi DBD bagi orang dewasa usia 18-60 tahun sebagai bagian dari upaya perlindungan yang komprehensif.

Aktivasi ABCD Land

Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya pencegahan DBD di Indonesia. Menurutnya, ini masih menjadi penyakit serius yang mengancam jiwa di seluruh Indonesia, dan bebannya terus bertumbuh.

"Rata-rata kasus dalam lima tahun terakhir hampir tiga kali lipat dibandingkan dua dekade sebelumnya, angka yang menunjukkan bahwa kita belum bisa berpuas diri dan tidak boleh lengah," Andreas mengatakan.

Takeda berkomitmen untuk terus mendukung upaya pencegahan DBD melalui edukasi yang menjangkau masyarakat luas, perluasan akses terhadap perlindungan yang inovatif, serta kemitraan yang erat dengan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan.

Aktivasi ABCD Land—Ayo Bersama Cegah DBD! hadir untuk mengajak masyarakat, khususnya keluarga, memahami pentingnya pencegahan DBD secara menyeluruh dan mengambil langkah perlindungan sejak dini.

Terlebih menjelang musim liburan sekolah, membekali diri dengan pemahaman yang tepat tentang pencegahan menjadi langkah penting agar keluarga dapat menikmati waktu liburan dengan tenang, bukan dibayangi kekhawatiran akan risiko DBD.

Melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan dapat dinikmati bersama seluruh anggota keluarga, kegiatan yang berlangsung pada 20–21 Juni 2026 di Urban Forest, Jakarta, ini menargetkan lebih dari 1.000 pengunjung selama dua hari penyelenggaraan.

Pengunjung dapat mengikuti berbagai aktivitas edukatif, konsultasi kesehatan, permainan interaktif untuk keluarga, serta sesi berbagi informasi bersama para ahli guna membantu masyarakat mengenali risiko DBD dan langkah pencegahannya secara praktis. Takeda berharap makin banyak keluarga Indonesia yang menjadikan perlindungan terhadap DBD sebagai bagian dari gaya hidup sehat sehari-hari.

Editorial Team

Related Article