- Faktor genetik: Sebagian orang memiliki reseptor TRPV1 yang lebih sensitif terhadap kapsaisin. Akibatnya, sensasi pedas terasa lebih kuat sehingga tubuh juga memberikan respons yang lebih besar.
- Sudah terbiasa makan pedas: Orang yang rutin mengonsumsi makanan pedas biasanya mengalami toleransi terhadap kapsaisin. Seiring waktu, sistem saraf menjadi lebih terbiasa sehingga sensasi panas maupun jumlah keringat yang muncul cenderung berkurang.
- Respons sistem saraf yang berbeda: Setiap orang memiliki aktivitas sistem saraf otonom yang berbeda-beda. Ada yang memang secara alami lebih mudah berkeringat dibandingkan orang lain, baik saat berolahraga, cuaca panas, maupun ketika makan pedas.
Kenapa Makanan Pedas Bisa Membuat Tubuh Berkeringat?

Kapsaisin pada cabai mengaktifkan reseptor TRPV1, sehingga sistem saraf mengirim sinyal seolah mulut dan tenggorokan terkena panas ekstrem meski suhu makanan tidak berubah.
Hipotalamus menafsirkan sinyal tersebut sebagai kenaikan suhu tubuh lalu memicu keringat untuk mendinginkan tubuh; respons lain dapat berupa wajah memerah, hidung berair, dan mata berair.
Intensitas keringat berbeda karena sensitivitas genetik, kebiasaan makan pedas, dan respons saraf otonom; susu, yoghurt, nasi, roti, atau kentang dapat membantu meredakan sensasi pedas.
Bagi pencinta makanan pedas, sensasi dahi yang mulai berkeringat setelah menyantap sambal atau cabai mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Menariknya, keringat yang muncul bukan karena makanan tersebut benar-benar panas saat dimakan. Bahkan, cabai yang sudah dingin sekalipun tetap bisa membuat tubuh terasa seperti terbakar.
Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tubuh? Jawabannya ada pada senyawa bernama kapsaisin, zat alami yang memberikan rasa pedas pada cabai. Senyawa ini mampu menipu sistem saraf sehingga tubuh mengira sedang kepanasan dan langsung mengaktifkan mekanisme pendinginan, yaitu berkeringat. Yuk, ketahui prosesnya!
Table of Content
1. Kapsaisin menipu sensor panas di tubuh
Rasa pedas sebenarnya bukan termasuk rasa dasar seperti manis, asin, atau asam. Pedas adalah sensasi nyeri dan panas yang dirasakan oleh sistem saraf.
Ketika kamu menggigit cabai, kapsaisin akan menempel pada reseptor saraf bernama TRPV1 (transient receptor potential vanilloid 1). Reseptor ini biasanya bertugas mendeteksi suhu tinggi atau benda yang berpotensi membakar jaringan tubuh.
Karena kapsaisin mengaktifkan reseptor tersebut, otak menerima sinyal seolah-olah mulut dan tenggorokan sedang terkena panas yang ekstrem, padahal suhu makanan sebenarnya tidak berubah.
2. Otak mengira tubuh sedang kepanasan
Setelah menerima sinyal palsu dari reseptor TRPV1, informasi diteruskan ke hipotalamus, yaitu bagian otak yang berfungsi mengatur suhu tubuh. Hipotalamus kemudian menyimpulkan bahwa suhu tubuh sedang meningkat.
Agar tubuh tidak benar-benar mengalami panas berlebih, sistem pendingin alami langsung diaktifkan. Salah satu respons tercepatnya adalah meningkatkan produksi keringat melalui kelenjar keringat.
3. Mengapa tubuh berkeringat saat makan pedas?

ilustrasi berkeringat (pexels.com/cottonbro studio) Keringat yang keluar memiliki fungsi utama untuk membantu menurunkan suhu tubuh. Saat menguap dari permukaan kulit, keringat akan membawa sebagian panas sehingga tubuh terasa lebih sejuk. Fenomena berkeringat akibat makan atau minum ini dikenal sebagai gustatory sweating atau berkeringat karena rangsangan makanan.
Biasanya, keringat paling banyak muncul di area dahi, wajah, kulit kepala, leher, dan bagian atas tubuh. Selain berkeringat, beberapa orang juga mengalami hidung berair, wajah memerah, mata berair, bahkan detak jantung yang sedikit lebih cepat. Semua respons tersebut merupakan bagian dari mekanisme tubuh untuk menghadapi sensasi panas dari makanan pedas.
4. Kenapa ada orang yang lebih mudah berkeringat?
Tidak semua orang berkeringat dengan intensitas yang sama setelah makan pedas. Ada beberapa faktor yang memengaruhinya.
5. Cara mengurangi sensasi pedas dan berkeringat
Kalau kamu ingin tetap menikmati makanan pedas tanpa terlalu banyak berkeringat, ada beberapa cara yang bisa dicoba:
- Pilih cabai atau sambal dengan tingkat kepedasan yang lebih rendah.
- Konsumsi susu, yoghurt, atau produk olahan susu karena kandungan kaseinnya membantu melarutkan kapsaisin.
- Makan nasi, roti, atau kentang sebagai pendamping untuk mengurangi sensasi pedas.
- Minum air putih agar cairan tubuh yang hilang melalui keringat tetap tergantikan.
Perlu diketahui, air putih memang membantu menjaga hidrasi, tetapi tidak menghilangkan rasa pedas secara langsung karena capsaicin tidak larut dalam air.
Jadi, alasan makanan pedas membuat tubuh berkeringat bukan karena suhunya panas, melainkan karena kapsaisin mengelabui reseptor panas di mulut. Otak kemudian mengira tubuh sedang mengalami kenaikan suhu dan segera mengaktifkan mekanisme pendinginan dengan memproduksi keringat.
Meski terkadang membuat dahi bercucuran dan wajah memerah, reaksi ini sebenarnya merupakan proses alami yang menunjukkan sistem pengatur suhu tubuh bekerja dengan baik.
Referensi
Cookist. Diakses pada Juli 2026. "Why Do We Sweat and Blush When We Eat Spicy Food?
Health Digest. Diakses pada Juli 2026. "Why Does Eating Spicy Food Make You Sweat?"
Inverse. Diakses pada Juli 2026. "Why Does Spicy Food Make You Sweat? A Neuroscientist Breaks It Down."
The Wellness Corner. Diakses pada Juli 2026. "Why Do Some People Sweat More When Eating Spicy Food?"






![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok CrossFit atau HYROX? Cek di Sini!](https://image.idntimes.com/post/20251217/1000005207_e2b3719c-9ff4-4462-9e88-b9845a2f868d.jpg)







![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok Lari Sendiri atau Bareng?](https://image.idntimes.com/post/20260811/gambar-artikel-88_a0d2c204-98d6-41f0-954e-b4f448a7c9b1.png)






