Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
DSA Bisa Mencegah Stroke? Ini Penjelasannya
ilustrasi dokter sedang menjelaskan kondisi kesehatan otak pasien (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • DSA atau Digital Subtraction Angiography adalah prosedur pencitraan medis dengan sinar-X dan zat kontras untuk melihat pembuluh darah otak secara detail, membantu diagnosis berbagai kelainan vaskular.
  • Meski tidak mencegah stroke langsung, DSA memungkinkan dokter mendeteksi dini penyempitan, aneurisme, AVM, dan kelainan lain yang berpotensi menyebabkan stroke sehingga terapi bisa dilakukan lebih cepat.
  • Prosedur DSA bersifat invasif namun aman bila dilakukan oleh tim berpengalaman, dan kadang dapat dilanjutkan langsung ke tindakan intervensi seperti pemasangan coil atau embolisasi melalui kateter yang sama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
DSA menghadirkan kemajuan penting dalam dunia neurologi dengan kemampuannya memetakan pembuluh darah otak secara sangat rinci. Melalui visualisasi yang jelas, dokter dapat mengenali kelainan tersembunyi seperti aneurisme atau penyempitan arteri sebelum menimbulkan komplikasi serius. Prosedur ini juga memungkinkan tindakan intervensi langsung, menjadikannya sarana diagnostik sekaligus terapeutik yang efisien dan presisi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Stroke sering datang tanpa peringatan. Seseorang bisa tampak sehat, tetap bekerja, berolahraga, dan beraktivitas sehari-hari seperti biasa. Namun, di balik itu pembuluh darah di otak mungkin sudah mengalami penyempitan atau ada kelainan yang belum terdeteksi. Nah, di sinilah teknologi pencitraan berperan penting.

Dalam dunia neurologi dan bedah saraf, salah satu pemeriksaan yang sering disebut sebagai standar emas untuk melihat kondisi pembuluh darah otak adalah DSA.

Tidak sedikit pasien yang langsung mengaitkan DSA dengan operasi besar. Faktanya, DSA pada dasarnya adalah pemeriksaan yang bertujuan memberikan peta pembuluh darah yang sangat detail sehingga dokter dapat mendeteksi masalah yang mungkin luput dari pemeriksaan lain.

Apa itu DSA, bagaimana prosedurnya dilakukan, dan DSA bisa membantu mencegah stroke? Terus baca, ya!

Apa itu DSA?

Digital subtraction angiography atau DSA adalah prosedur pencitraan medis yang digunakan untuk melihat pembuluh darah secara detail menggunakan sinar-X dan zat kontras.

Kata "subtraction" mengacu pada teknologi komputer yang menghilangkan bayangan tulang dan jaringan lain dari gambar, sehingga pembuluh darah tampak lebih jelas. Hasilnya adalah visualisasi yang sangat rinci mengenai:

  • Arteri otak.

  • Vena otak.

  • Pembuluh darah leher.

  • Aliran darah ke otak.

Karena tingkat ketelitiannya sangat tinggi, DSA masih dianggap sebagai standar referensi untuk mengevaluasi berbagai penyakit pembuluh darah otak, meskipun saat ini tersedia teknologi lain seperti CT angiography (CTA) dan MR angiography (MRA).

Apakah DSA bisa mencegah stroke?

Perlu digarisbawahi bahwa DSA tidak mencegah stroke secara langsung. Yang dilakukan DSA adalah membantu dokter menemukan kelainan pembuluh darah yang berpotensi menyebabkan stroke di masa depan.

Dengan mengetahui masalah tersebut lebih awal, dokter dapat menentukan terapi yang tepat untuk menurunkan risiko stroke.

Ibaratnya, DSA merupakan alat yang membantu menemukan titik api sebelum kebakaran besar terjadi.

Kondisi apa saja yang bisa dideteksi dengan DSA?

Cerebral angiogram diperoleh menggunakan media kontras berbasis yodium. (commons.wikimedia.org/Glitzy queen00)

  • Penyempitan pembuluh darah otak

Penyempitan atau stenosis arteri dapat mengurangi aliran darah ke otak dan meningkatkan risiko stroke iskemik.

DSA memungkinkan dokter melihat lokasi penyempitan, tingkat keparahan penyempitan, karakteristik plak, dan pembuluh darah alternatif yang terbentuk

Informasi ini membantu menentukan apakah pasien cukup diterapi dengan obat atau memerlukan tindakan lain.

  • Aneurisme otak

Aneurisme adalah tonjolan pada dinding pembuluh darah yang dapat pecah dan menyebabkan stroke hemoragik atau perdarahan otak.

DSA mampu menunjukkan ukuran aneurisme, bentuk aneurisme, letak aneurisme, dan hubungan antara aneurisme dengan pembuluh darah sekitar. Data tersebut sangat penting untuk menentukan strategi pengobatan.

  • Malformasi arteriovenosa (AVM)

AVM adalah kelainan bawaan ketika arteri dan vena terhubung secara abnormal tanpa kapiler normal di antaranya. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko perdarahan otak.

DSA membantu memetakan struktur AVM secara rinci sebelum terapi dilakukan.

  • Fistula arteriovenosa dural

Kelainan ini terjadi ketika terdapat hubungan abnormal antara arteri dan vena pada lapisan pelindung otak.

DSA sering kali menjadi pemeriksaan utama untuk diagnosis dan perencanaan terapi.

  • Penyebab stroke yang tidak jelas

Pada beberapa kasus, penyebab stroke tidak dapat dipastikan melalui CT scan atau MRI. DSA dapat memberikan informasi tambahan yang membantu menemukan sumber masalah.

Bagaimana prosedur DSA dilakukan?

Banyak orang membayangkan DSA sebagai operasi otak, tetapi prosedur ini lebih sederhana daripada yang dibayangkan, meskipun tetap tergolong tindakan invasif.

Secara umum, langkah-langkahnya meliputi:

Persiapan

Sebelum prosedur, pasien biasanya menjalani:

  • Pemeriksaan darah.

  • Evaluasi fungsi ginjal.

  • Pemeriksaan alergi terhadap zat kontras.

  • Penilaian kondisi medis secara keseluruhan.

Pemasangan kateter

Dokter memasukkan kateter kecil melalui pembuluh darah di selangkangan (arteri femoralis), atau pergelangan tangan (arteri radialis). Kateter kemudian diarahkan menuju pembuluh darah yang memasok otak.

Penyuntikan zat kontras

Zat kontras disuntikkan melalui kateter. Pada saat yang sama, serangkaian gambar sinar-X diambil untuk memvisualisasikan aliran darah.

Analisis gambar

Komputer memproses gambar dan menghilangkan struktur yang tidak diperlukan sehingga pembuluh darah tampak sangat jelas.

Seluruh prosedur biasanya berlangsung sekitar 30 menit hingga beberapa jam tergantung kompleksitas kasus.¹

Apa yang akan dirasakan pasien?

Sebagian besar pasien tetap sadar selama prosedur. Saat zat kontras disuntikkan, beberapa orang merasakan:

  • Sensasi hangat sementara.

  • Rasa logam di mulut.

  • Sensasi seperti ingin buang air kecil.

Efek tersebut biasanya berlangsung singkat dan akan menghilang dengan cepat.

Mengapa tidak semua orang langsung menjalani DSA?

ilustrasi seorang pasien berkonsultasi dengan dokter (magnific.com/ijeab)

Walaupun akurat, tetapi DSA bukan pemeriksaan skrining untuk semua orang karena prosedur ini invasif.

Saat ini dokter biasanya mempertimbangkan pemeriksaan lain terlebih dahulu, seperti CTA, MRA, dan ultrasonografi Doppler.

DSA umumnya dilakukan ketika:

  • Hasil pemeriksaan lain belum jelas.

  • Diperlukan informasi yang lebih rinci.

  • Sedang merencanakan tindakan intervensi pada pembuluh darah.

Apa risiko DSA?

Tingkat keamanan DSA tinggi jika dilakukan oleh tim berpengalaman. Namun, seperti semua prosedur medis, tetap ada risiko yang perlu dipahami. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi meliputi:

  • Reaksi terhadap zat kontras, misalnya mual, gatal, dan reaksi alergi.

  • Gangguan fungsi ginjal. Risiko lebih tinggi pada pasien yang sudah memiliki penyakit ginjal sebelumnya.

  • Perdarahan atau memar. Biasanya terjadi di lokasi pemasangan kateter.

  • Stroke akibat prosedur. Komplikasi ini jarang terjadi. Penelitian menunjukkan risiko stroke terkait DSA diagnostik umumnya kurang dari 1 persen pada pusat layanan yang berpengalaman.

Dokter akan selalu mempertimbangkan manfaat dan risiko sebelum merekomendasikan pemeriksaan ini.

Siapa yang biasanya direkomendasikan menjalani DSA?

DSA dapat dipertimbangkan pada pasien yang memiliki:

  • Dugaan aneurisme otak.

  • Penyempitan pembuluh darah otak yang signifikan.

  • Riwayat stroke yang penyebabnya belum jelas.

  • AVM atau fistula arteriovenosa.

  • Kelainan pembuluh darah yang memerlukan tindakan intervensi.

Keputusan untuk menjalani DSA harus didasarkan pada evaluasi dokter spesialis saraf, bedah saraf, atau radiologi intervensi.

Bisakah DSA sekaligus menjadi terapi?

Menariknya, ya. Dalam beberapa kasus, setelah kelainan ditemukan, dokter dapat langsung melakukan tindakan intervensi melalui kateter yang sama.

Contohnya:

  • Pemasangan coil pada aneurisme.

  • Embolisasi AVM.

  • Tindakan tertentu pada pembuluh darah yang menyempit.

Pendekatan ini dikenal sebagai prosedur endovaskular dan menjadi salah satu perkembangan penting dalam penanganan penyakit pembuluh darah otak.

DSA merupakan pemeriksaan pembuluh darah yang sangat detail dan hingga kini masih dianggap sebagai standar emas untuk mengevaluasi berbagai kelainan pembuluh darah otak. DSA tidak mencegah stroke secara langsung, tetapi berperan penting dalam menemukan masalah seperti aneurisme, penyempitan pembuluh darah, AVM, dan kelainan lain yang dapat meningkatkan risiko stroke. Dengan diagnosis yang lebih akurat, dokter dapat menentukan strategi pengobatan yang tepat sebelum komplikasi serius terjadi.

Referensi

Timothy J. Kaufmann et al., “Complications of Diagnostic Cerebral Angiography: Evaluation of 19 826 Consecutive Patients1,” Radiology 243, no. 3 (June 1, 2007): 812–19, https://doi.org/10.1148/radiol.2433060536.

Harry J. Cloft, Gregory J. Joseph, and Jacques E. Dion, “Risk of Cerebral Angiography in Patients With Subarachnoid Hemorrhage, Cerebral Aneurysm, and Arteriovenous Malformation,” Stroke 30, no. 2 (February 1, 1999): 317–20, https://doi.org/10.1161/01.str.30.2.317.

Haris Kamal et al., “A History of the Path Towards Imaging of the Brain: From Skull Radiography Through Cerebral Angiography,” Current Journal of Neurology 19, no. 3 (February 17, 2021): 131–37, https://doi.org/10.18502/cjn.v19i3.5426.

S M Wolpert and L R Caplan, “Current Role of Cerebral Angiography in the Diagnosis of Cerebrovascular Diseases.,” American Journal of Roentgenology 159, no. 1 (July 1, 1992): 191–97, https://doi.org/10.2214/ajr.159.1.1609697.

Clemens Maria Schirmer et al., “Diagnostic Cerebral Angiography: A Report of the SNIS Standards and Guidelines Committee, Endorsed by ANZSNR and ESMINT,” Journal of NeuroInterventional Surgery, April 30, 2026, jnis-2026, https://doi.org/10.1136/jnis-2026-024980.

Camilla Giulia Calastra et al., “The Role of Angiographic Imaging in the Treatment of Spinal Vascular Malformations,” Medical Sciences 13, no. 4 (November 13, 2025): 266, https://doi.org/10.3390/medsci13040266.

Wijdicks, Eelco F. M. "The Practice of Emergency and Critical Care Neurology. 3rd ed." Oxford: Oxford University Press, 2022.

M. Wintermark et al., “Imaging Recommendations for Acute Stroke and Transient Ischemic Attack Patients: A Joint Statement by the American Society of Neuroradiology, the American College of Radiology, and the Society of NeuroInterventional Surgery,” American Journal of Neuroradiology 34, no. 11 (August 1, 2013): E117–27, https://doi.org/10.3174/ajnr.a3690.

Editorial Team

Related Article