- Penyakit jantung bawaan: persoalan utamanya sudah terbentuk sejak perkembangan janin.
- Penyakit jantung yang didapat: muncul atau berkembang setelah lahir akibat proses penyakit, paparan, penuaan, atau gabungan faktor genetik dan lingkungan.
Bedanya Penyakit Jantung Bawaan Anak dan Penyakit Jantung Orang Dewasa

Penyakit jantung bawaan terbentuk ketika jantung berkembang di dalam kandungan, sedangkan banyak penyakit jantung pada orang dewasa berkembang bertahap sepanjang hidup.
Gejala pada bayi lebih sering terlihat saat bernapas, menyusu, dan tumbuh. Pada orang dewasa, keluhannya dapat berupa nyeri dada, sesak, berdebar, atau cepat lelah.
Operasi saat kecil tidak selalu berarti penyakit jantung bawaan telah sembuh total. Sebagian pasien tetap butuh pemantauan hingga dewasa.
Penyakit jantung bawaan pada anak dan penyakit jantung yang muncul saat dewasa sama-sama merupakan masalah jantung. Namun, titik awal penyakit, tanda yang muncul, hingga pengobatannya bisa sangat berbeda.
Satu hal perlu diluruskan sejak awal: penyakit jantung pada anak tidak selalu bawaan, dan penyakit jantung pada orang dewasa tidak selalu baru muncul setelah dewasa. Anak dapat mengalami penyakit jantung yang didapat, sedangkan seseorang dengan kelainan jantung sejak lahir dapat terus hidup dengan kondisi tersebut sampai usia dewasa.
Table of Content
1. Penyakitnya berawal dari perjalanan yang berbeda
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan struktur atau fungsi jantung yang sudah ada sejak lahir. Kondisi ini terbentuk ketika perkembangan jantung terganggu pada awal kehamilan, umumnya dalam dua bulan pertama saat organ tersebut mulai terbentuk. Tingkat keparahannya beragam, mulai dari lubang kecil di antara ruang jantung hingga kelainan kompleks pada bilik, katup, atau pembuluh darah utama.
"Bawaan" tidak otomatis berarti penyakit tersebut diwariskan dari orang tua. Faktor genetik dapat berperan, tetapi pada banyak kasus penyebab pastinya tidak diketahui.
Pada orang dewasa, istilah penyakit jantung mencakup kelompok kondisi yang lebih luas. Salah satu yang paling umum adalah penyakit arteri koroner (penyakit jantung koroner), yaitu penyempitan pembuluh darah yang memasok otot jantung akibat penumpukan plak. Prosesnya dapat berlangsung perlahan selama bertahun-tahun dan dipengaruhi tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, merokok, obesitas, usia, serta riwayat keluarga.
Namun, tidak semua penyakit jantung saat dewasa muncul karena gaya hidup. Orang dewasa juga dapat mengalami gangguan irama jantung, penyakit katup, kardiomiopati, penyakit jantung rematik, infeksi, maupun kelainan yang dipengaruhi oleh faktor genetik.
Perbedaan paling sederhananya:
Batasnya tidak selalu tegas. Kelainan bawaan yang ringan kadang baru ditemukan ketika pasien sudah dewasa. Sebaliknya, proses penyempitan pembuluh darah yang menimbulkan serangan jantung saat dewasa dapat mulai berkembang sejak usia muda.
2. Tubuh anak dan orang dewasa memberi tanda yang berbeda

Karena belum mampu berkomunikasi, tanda penyakit jantung bawaan sering terlihat melalui bernapas, menyusu, dan bertumbuh.
Kelainan berat dapat menyebabkan kulit atau bibir tampak kebiruan karena kadar oksigen rendah. Bayi juga dapat bernapas cepat, mudah lelah atau berkeringat ketika menyusu, sulit menghabiskan susu, dan tidak mengalami kenaikan berat badan seperti yang diharapkan. Pada anak yang lebih besar, tandanya bisa berupa cepat lelah, sulit mengikuti aktivitas teman sebaya, pingsan, atau sesak saat bergerak.
Meski begitu, tidak semua anak dengan penyakit jantung bawaan tampak sakit. Kelainan ringan dapat tidak menimbulkan keluhan dan baru diketahui ketika dokter mendengar bunyi jantung yang tidak biasa atau melakukan pemeriksaan untuk alasan lain.
Sebagian penyakit jantung bawaan dapat ditemukan melalui pemeriksaan ultrasonografi dan ekokardiografi janin. Setelah lahir, pemeriksaan fisik, pengukuran oksigen dengan pulse oximeter, elektrokardiogram, dan ekokardiografi dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Pulse oximeter membantu mendeteksi sebagian penyakit jantung bawaan kritis dengan mengukur kadar oksigen dalam darah bayi. Namun, hasil normal tidak dapat menyingkirkan kemungkinan seluruh kelainan jantung. Pemeriksaan tersebut tidak menggantikan riwayat kehamilan, pemeriksaan fisik, dan evaluasi dokter.
Pada orang dewasa, gejala bergantung pada jenis penyakitnya. Penyakit arteri koroner dapat menyebabkan rasa tertekan, berat, penuh, atau nyeri di tengah dada. Keluhan dapat menjalar ke lengan, rahang, leher, punggung, atau perut dan disertai sesak, mual, keringat dingin, atau pusing.
Gagal jantung lebih sering menimbulkan sesak saat beraktivitas atau berbaring, kelelahan, serta pembengkakan pada kaki. Gangguan irama jantung dapat terasa sebagai jantung berdebar, denyut tidak teratur, pusing, atau hampir pingsan.
Yang jadi persoalan, penyakit pada pembuluh darah jantung dapat berkembang tanpa gejala. Pada sebagian orang, serangan jantung menjadi tanda pertama bahwa penyakit telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Karena itu, pemeriksaan pada anak lebih banyak bertujuan mengenali kelainan struktur dan aliran darah. Pada orang dewasa, dokter juga perlu menilai faktor risiko seperti tekanan darah, kolesterol, gula darah, kebiasaan merokok, dan riwayat keluarga.
3. Operasi saat kecil bukan selalu akhir perawatan
Pengobatan penyakit jantung bawaan disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahannya. Lubang kecil tertentu dapat menutup sendiri atau hanya perlu pemantauan. Kondisi lainnya butuh obat, prosedur melalui kateter, atau operasi untuk memperbaiki aliran darah.
Perbaikan tersebut dapat memberikan hasil yang sangat baik. Akan tetapi, bekas operasi, perubahan tekanan di dalam jantung, fungsi katup, dan sistem kelistrikan jantung dapat menimbulkan masalah beberapa tahun kemudian.
Sebuah penelitian populasi di Amerika Serikat terhadap orang yang lahir dengan kelainan jantung pada 1980–1997 menemukan sekitar 8 dari 10 orang bertahan hidup hingga usia 35 tahun. Peluang hidup berbeda menurut tingkat keparahan kelainan, berat lahir, dan keberadaan kondisi lain.
Kemajuan pengobatan membuat makin banyak anak dengan penyakit jantung bawaan tumbuh dewasa. Konsekuensinya, mereka membutuhkan perpindahan perawatan yang terencana dari dokter jantung anak menuju layanan penyakit jantung bawaan dewasa.
Pedoman terbaru menekankan pentingnya perawatan seumur hidup dan akses ke dokter atau fasilitas kesehatan yang berpengalaman menangani penyakit jantung bawaan pada orang dewasa. Frekuensi kontrol berbeda-beda. Pasien dengan kelainan ringan mungkin hanya perlu diperiksa dalam interval tertentu, sementara kondisi kompleks butuh pemantauan yang lebih intensif.⁶
Saat anak mulai remaja, keluarga dapat membantu dengan mengajarkannya:
- Nama kelainan jantung yang dimiliki.
- Jenis operasi atau prosedur yang pernah dijalani.
- Obat yang digunakan dan tujuannya.
- Gejala apa yang perlu segera dilaporkan.
- Di mana melanjutkan kontrol ketika memasuki usia dewasa.
Program transisi bertujuan membuat pasien mampu memahami dan mengelola kondisi kesehatannya sendiri tanpa terputus dari layanan medis. Menurut American Heart Association, perpindahan yang terencana penting untuk mempertahankan perawatan seumur hidup serta mendukung keberhasilan medis dan psikososial pasien.
Sementara itu, orang dewasa yang tidak memiliki penyakit jantung bawaan perlu berfokus pada deteksi dan pengendalian faktor risiko. Tekanan darah harus diperiksa rutin karena hipertensi sering tidak bergejala. Pemeriksaan kolesterol dan gula darah dilakukan sesuai usia, riwayat kesehatan, dan tingkat risiko. Berhenti merokok, aktif bergerak, menjaga pola makan, tidur, serta berat badan juga merupakan bagian penting dari pencegahan.
Segera cari pertolongan darurat jika bayi tampak kebiruan, sangat sesak, lemas, atau sulit menyusu. Pada orang dewasa, tekanan atau nyeri dada—terutama jika disertai sesak, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar—juga tidak boleh ditunggu hingga hilang sendiri.
Penyakit jantung bawaan pada anak dan penyakit jantung yang muncul saat dewasa memiliki perjalanan penyakit berbeda. Namun, keduanya tidak selalu terlihat dari luar, dan keberhasilan perawatan sangat bergantung pada deteksi dini, kontrol yang konsisten, serta keputusan yang sesuai dengan kondisi setiap pasien.
Referensi
American Heart Association, “What Is Congenital Heart Disease?,” diakses Juli 2026.
World Health Organization, “Cardiovascular Diseases (CVDs),” diakses Juli 2026.
American Heart Association, “Coronary Artery Disease—Coronary Heart Disease,” diakses Juli 2026.
American Heart Association, “Symptoms and Diagnosis of Congenital Heart Disease,” diakses Juli 2026.
Centers for Disease Control and Prevention, “Clinical Screening and Diagnosis for Critical Congenital Heart Defects,” diakses Juli 2026.
Karrie F. Downing et al., “Survival from Birth until Young Adulthood among Individuals with Congenital Heart Defects: CH STRONG,” Circulation 148, no. 7 (2023): 575–88, https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.123.064400.
Michelle Gurvitz et al., “2025 ACC/AHA/HRS/ISACHD/SCAI Guideline for the Management of Adults with Congenital Heart Disease: A Report of the American College of Cardiology/American Heart Association Joint Committee on Clinical Practice Guidelines,” Journal of the American College of Cardiology 87, no. 7 (2026): 822–976, https://doi.org/10.1016/j.jacc.2025.09.006.
Anitha S. John et al., “Advances in Managing Transition to Adulthood for Adolescents with Congenital Heart Disease: A Practical Approach to Transition Program Design,” Journal of the American Heart Association 11, no. 7 (2022): e025278, https://doi.org/10.1161/JAHA.122.025278.
American Heart Association, “Heart-Health Screenings,” diakses Juli 2026.






















