ilustrasi obat obesitas (IDN Times/NRF)
Obat GLP-1 tidak cocok untuk semua orang. Dokter perlu menilai riwayat kesehatan, obat yang sedang dikonsumsi, indikasi obat yang tersedia, dan kemungkinan risiko atau efek samping. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat mual, muntah, diare, dan konstipasi sebagai efek samping yang umum. Rekomendasi WHO juga menyebut obat ini perlu diresepkan tenaga medis setelah mempertimbangkan riwayat kesehatan dan indikasi klinis.
Pemantauan membantu dokter menilai apakah obat memberi manfaat, apakah efek samping dapat ditangani, dan apakah rencana terapi perlu disesuaikan. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Kemenkes, misalnya, menganjurkan evaluasi respons terhadap obat obesitas; apabila setelah tiga bulan penurunan berat badan belum mencapai 5 persen, dokter perlu mempertimbangkan terapi lain. Rencana evaluasi dapat berbeda menurut obat dan kondisi pasien.
Obat yang diperoleh dari sumber tidak terverifikasi atau digunakan tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan risiko. Mutu dan kandungan produk dari jalur yang tidak resmi mungkin tidak dapat dipastikan. Karena itu, pasien sebaiknya membicarakan pilihan obat dengan dokter dan tidak mengubah dosis atau menghentikannya sendiri.
Obesitas adalah penyakit kronis, dikatakan oleh dr. Riyanny, yang berarti perlu ada perubahan perilaku dan itu membutuhkan konsultasi. Itulah sebabnya banyak sekali obat-obatan yang memang harus digunakan dengan pengawasan dokter demi keamanan dan supaya hasilnya optimal.
"Bukan menurunkan berat hanya sebatas air atau kemudian malah justru kehilangan otot, tapi bagaimana memastikan yang hilang dari tubuh adalah lemak dan menjaga organ-organ baik itu jantung, ginjal, dan lain sebagainya. Kita nggak mau badan jadi kurus tapi nantinya ginjalnya tiba-tiba rusak," dr. Riyanny mengingatkan.