Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi pasien obesitas menggunakan obat injeksi (IDN Times/Novaya Siantita)
  • Obat antiobesitas dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada orang dewasa dengan IMT ≥30, atau IMT ≥25 disertai komorbid.

  • Resep dan pemantauan dokter membantu memastikan indikasi, mengevaluasi manfaat dan efek samping, serta menyesuaikan rencana perawatan.

  • Obat dapat menjadi bagian dari perawatan jangka panjang; pola makan, aktivitas fisik, dan dukungan tenaga kesehatan tetap punya peran penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tidak ada jalan pintas atau solusi cepat untuk mengatasi obesitas. Pemilihan obat obesitas pun butuh pertimbangan yang terukur. Bagi sebagian orang, obat dapat menjadi salah satu bagian dari perawatan medis, bersama perubahan pola makan, aktivitas fisik, dan dukungan tenaga kesehatan. Apakah obat sesuai, dan jenis apa yang tepat, perlu dinilai berdasarkan kondisi masing-masing orang.

Obat berbasis GLP-1 meniru hormon yang membantu mengatur nafsu makan dan gula darah. Obat ini dapat membantu sebagian orang merasa kenyang lebih lama dan mengurangi asupan makanan. Namun, obat bukan pengganti perawatan lain, dan tidak setiap obat GLP-1 memiliki indikasi yang sama untuk pengelolaan berat badan.

Siapa yang mungkin memerlukan obat?

Dalam Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa, Kementerian Kesehatan menempatkan obat sebagai terapi tambahan. Farmakoterapi dapat dipertimbangkan pada orang dewasa dengan indeks massa tubuh (IMT) 30 kg/m² atau lebih, atau IMT 25 kg/m² atau lebih disertai setidaknya satu penyakit penyerta. Pedoman tersebut mencantumkan liraglutide dan semaglutide sebagai pilihan obat, dengan pemilihan berdasarkan kondisi pasien.

Angka IMT membantu dokter menilai kondisi, tetapi tidak menjelaskan seluruh gambaran kesehatan seseorang. Dokter juga akan mempertimbangkan penyakit penyerta, riwayat berat badan dan upaya sebelumnya, obat lain yang sedang digunakan, serta faktor seperti pola tidur dan kebiasaan makan.

Dalam diskusi media "Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental" pada Kamis (5/11) di Jakarta, Associate Director, Medical & Regulatory, Novo Indonesia, dr. Riyanny M. Tarliman mengingatkan bahwa kondisi pasien itu berbeda-beda. Ia menekankan pentingnya berkonsultasi untuk mengetahui komorbid dan menentukan intervensi yang sesuai.

"Jadi sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengenali kondisi masing-masing, apakah ada komorbid atau tidak, lalu apa intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien," kata dr. Riyanny.

Penilaian individual ini membantu memastikan tujuan terapi tidak hanya mengejar angka timbangan.

Mengapa obat GLP-1 perlu resep dan pemantauan dokter?

ilustrasi obat obesitas (IDN Times/NRF)

Obat GLP-1 tidak cocok untuk semua orang. Dokter perlu menilai riwayat kesehatan, obat yang sedang dikonsumsi, indikasi obat yang tersedia, dan kemungkinan risiko atau efek samping. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat mual, muntah, diare, dan konstipasi sebagai efek samping yang umum. Rekomendasi WHO juga menyebut obat ini perlu diresepkan tenaga medis setelah mempertimbangkan riwayat kesehatan dan indikasi klinis.

Pemantauan membantu dokter menilai apakah obat memberi manfaat, apakah efek samping dapat ditangani, dan apakah rencana terapi perlu disesuaikan. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Kemenkes, misalnya, menganjurkan evaluasi respons terhadap obat obesitas; apabila setelah tiga bulan penurunan berat badan belum mencapai 5 persen, dokter perlu mempertimbangkan terapi lain. Rencana evaluasi dapat berbeda menurut obat dan kondisi pasien.

Obat yang diperoleh dari sumber tidak terverifikasi atau digunakan tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan risiko. Mutu dan kandungan produk dari jalur yang tidak resmi mungkin tidak dapat dipastikan. Karena itu, pasien sebaiknya membicarakan pilihan obat dengan dokter dan tidak mengubah dosis atau menghentikannya sendiri.

Obesitas adalah penyakit kronis, dikatakan oleh dr. Riyanny, yang berarti perlu ada perubahan perilaku dan itu membutuhkan konsultasi. Itulah sebabnya banyak sekali obat-obatan yang memang harus digunakan dengan pengawasan dokter demi keamanan dan supaya hasilnya optimal.

"Bukan menurunkan berat hanya sebatas air atau kemudian malah justru kehilangan otot, tapi bagaimana memastikan yang hilang dari tubuh adalah lemak dan menjaga organ-organ baik itu jantung, ginjal, dan lain sebagainya. Kita nggak mau badan jadi kurus tapi nantinya ginjalnya tiba-tiba rusak," dr. Riyanny mengingatkan.

Perawatan obesitas bisa berlangsung jangka panjang

Obesitas merupakan penyakit kronis yang bisa kambuh. Dalam panduan global WHO, terapi GLP-1 dapat digunakan sebagai pilihan jangka panjang bagi orang dewasa dengan obesitas, sebagai bagian dari perawatan menyeluruh yang mencakup pola makan sehat, aktivitas fisik, dan dukungan tenaga kesehatan. Rekomendasi itu sifatnya kondisional karena masih ada keterbatasan bukti mengenai keamanan dan manfaat jangka panjang, serta dampak setelah obat dihentikan.

Hasil penelitian membantu menjelaskan mengapa rencana terapi perlu memikirkan keberlanjutan. Dalam sebuah uji klinis, peserta yang menggunakan tirzepatide selama 36 minggu lalu dialihkan ke plasebo mengalami kenaikan berat badan rata-rata 14 persen dalam 52 minggu berikutnya. Peserta yang meneruskan obat justru mengalami penurunan tambahan rata-rata 5,5 persen.

Karena itu, target perawatan tidak berhenti pada penurunan berat badan. Disampaikan oleh dr. Christopher Andrian, M.Gizi, Sp.GK, dalam kesempatan yang sama, “Penurunan berat badan itu harus bisa dipertahankan untuk jangka panjang,” dengan pola makan yang bisa diterapkan “buat jangka panjang, nggak cuma short term.”

Lamanya penggunaan obat sebaiknya diputuskan bersama dokter berdasarkan manfaat, efek samping, kondisi kesehatan, dan respons pasien.

Referensi

World Health Organization, “Obesity: GLP-1 Therapies,” Questions and answers, diakses 5 November 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/509/2025 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Obesitas Dewasa (Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2025), 52–56, diakses 5 November 2026.

World Health Organization, “Statement from the Joint Meeting of the Advisory Committee on Safety of Medicinal Products (ACSoMP) and the Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVS) on the Safe and Appropriate Use of GLP-1 Receptor Agonists,” 30 Juli 2026, diakses 5 November 2026.

World Health Organization, “WHO Issues Global Guideline on the Use of GLP-1 Medicines in Treating Obesity,” diakses 5 November 2026.

Louis J. Aronne, Naveed Sattar, David B. Horn, et al., “Continued Treatment With Tirzepatide for Maintenance of Weight Reduction in Adults With Obesity: The SURMOUNT-4 Randomized Clinical Trial,” JAMA 331, no. 1 (2024): 38–48, https://doi.org/10.1001/jama.2023.24945.

Curated For You

Editorial Team

Related Article