- Makan lebih cepat dari biasanya.
- Makan sampai terasa sangat kenyang.
- Makan banyak saat tidak merasa lapar secara fisik.
- Makan sendirian karena malu dengan jumlah makanan yang dikonsumsi.
- Merasa jijik terhadap diri sendiri, sedih, atau sangat bersalah setelah makan.
Nafsu Makan Tinggi atau Binge Eating Disorder? Ini Bedanya

Nafsu makan tinggi tidak otomatis berarti binge eating disorder (BED).
BED ditandai episode makan berulang, kehilangan kendali, tekanan emosional, serta gangguan fungsi sehari-hari.
Diagnosis BED menilai bentuk, frekuensi, durasi episode, dan gejala seperti makan cepat, sangat kenyang, tanpa lapar, malu makan sendiri, atau rasa bersalah setelahnya.
Ada hari-hari ketika seseorang merasa lebih lapar dari biasanya, makan lebih banyak saat kumpul-kumpul, atau mencari makanan untuk meredakan stres. Kalau kamu mengalaminya, itu bukan berarti binge-eating disorder (BED). Pembedanya bukan cuma porsi makan, melainkan pola berulang, rasa kehilangan kendali, dan tekanan yang menyertainya.
Psikiater dr. Putri Nugraheni, Sp.KJ, menjelaskan bahwa gangguan mental dapat menimbulkan penderitaan dan mengganggu aktivitas sehari-hari. “Binge eating disorder berbeda dengan nafsu makan tinggi. Karena yang kita sebut disorder atau penyakit mental itu harus punya dua karakteristik: pertama menyebabkan gangguan fungsi sehari-hari, kedua menyebabkan penderitaan bagi dirinya atau orang-orang di sekitarnya.” Hal ini ia katakan dalam diskusi media "Lebih dari Sekadar Angka di Timbangan: Hubungan Obesitas dan Kesehatan Mental" pada Kamis (5/11) di Jakarta.
Tenaga profesional juga menilai bentuk episode makan, frekuensi, durasi, dan gejala lain yang menyertainya untuk mendiagnosis binge eating disorder.
Table of Content
Apa yang membedakan binge eating disorder dari nafsu makan tinggi?
Nafsu makan tinggi menggambarkan dorongan untuk makan yang lebih besar atau lebih sering. Seseorang mungkin makan dalam porsi besar, tetapi belum tentu mengalami episode makan sampai kehilangan kendali. Makan banyak sesekali juga bisa terjadi dalam situasi tertentu dan tidak otomatis menunjukkan gangguan makan.
Pada binge eating disorder, seseorang berulang kali makan jauh lebih banyak daripada kebanyakan orang dalam situasi serupa, dalam waktu terbatas, sambil merasa sulit berhenti atau mengendalikan jumlah makanan. Episode ini biasanya disertai tekanan emosional yang nyata.
Beberapa tanda yang dapat menyertai episode tersebut menurut American Psychiatric Association antara lain:
Untuk diagnosis binge eating disorder menurut kriteria DSM-5-TR, episode makan berlebihan terjadi rata-rata setidaknya sekali seminggu selama tiga bulan, disertai tekanan emosional yang nyata, dan melibatkan setidaknya tiga tanda di atas. Diagnosis tetap harus dilakukan oleh tenaga profesional, bukan cuma berdasarkan satu tanda.
Stress eating tidak selalu berarti binge eating disorder

ilustrasi stress eating, emotional eating (magnific.com/magnific) Sebagian orang makan untuk merespons emosi atau menghadapi hari yang berat. Dokter Putri menjelaskan, “Kesehatan mental yang menurun membuat kita jadi apa? Mencari mekanisme coping cepat. Mekanisme untuk memperbaiki perasaan secara cepat, biasanya paling sering stress eating, sehingga orang dengan kondisi kesehatan mental dapat mengalami obesitas.”
Namun, makan ketika stres tidak dengan sendirinya memenuhi kriteria binge eating disorder. Penilaian tetap melihat apakah ada episode makan berulang dengan rasa kehilangan kendali, tekanan emosional, serta frekuensi dan durasi tertentu.
Jam makan dan jenis makanan juga bukan patokan diagnosis. Berat badan seseorang pun tidak cukup untuk menentukan apakah ia mengalami gangguan makan. Kondisi ini dapat dialami orang dengan berbagai ukuran tubuh.
Kapan sebaiknya mencari bantuan profesional?
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter, psikiater, psikolog, atau tenaga profesional yang menangani gangguan makan apabila episode makan berulang terasa sulit dikendalikan, menimbulkan rasa malu atau bersalah yang berat, atau mengganggu aktivitas dan hubungan sehari-hari. Pemeriksaan membantu membedakan binge eating disorder dari nafsu makan tinggi maupun gangguan makan lainnya.
Binge eating disorder dapat ditangani. Terapi psikologis, termasuk terapi perilaku kognitif, menjadi salah satu pendekatan yang digunakan. Bisa juga dengan program guided self-help berbasis materi kognitif-perilaku untuk orang dewasa, dengan terapi perilaku kognitif khusus gangguan makan sebagai pilihan jika bantuan tersebut tidak sesuai atau tidak efektif.
Stigma dapat membuat seseorang merasa harus menghadapi masalah makan sendirian. “Jadi sebenarnya perkataan-perkataan yang bersifat stigmatis bukannya membuat kita lebih termotivasi, justru counterproductive," dr. Putri mengingatkan. Mendengarkan tanpa menghakimi dapat membantu seseorang merasa lebih aman untuk mencari pertolongan.
Referensi
American Psychiatric Association, “What Are Eating Disorders?,” diakses 5 November 2026.
Katrin E. Giel et al., “Binge Eating Disorder,” Nature Reviews Disease Primers 8, no. 1 (2022): 16, https://doi.org/10.1038/s41572-022-00344-y.
National Institute for Health and Care Excellence, “Eating Disorders: Recognition and Treatment,” guideline NG69, diakses 5 November 2026.






















![[QUIZ] Dari Kebiasaanmu, Waspadai Gangguan Makan Ini](https://image.idntimes.com/post/20230426/jarritos-mexican-soda-idp6ct9jkmk-unsplash-8c6c20e113c0f4bb5d3047a754716f7b.jpg)
