Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Orang yang Kesepian Lebih Rentan Kena Serangan Jantung?

Apakah Orang yang Kesepian Lebih Rentan Kena Serangan Jantung?
ilustrasi kesepian (pexels.com/Andras Stefuca)
Intinya Sih
  • Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kesepian dan isolasi sosial berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, stroke, dan kematian dini.

  • Dampaknya tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga melibatkan perubahan biologis seperti peningkatan hormon stres, peradangan, dan tekanan darah.

  • Menjaga hubungan sosial yang bermakna dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Kesehatan jantung biasanya dikaitkan dengan pola makan, olahraga, kolesterol, tekanan darah, atau kebiasaan merokok. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan makin menyadari bahwa faktor sosial pengaruhnya juga tak kalah penting. Satu hal yang kini disoroti adalah kesepian.

Kesepian bukan sekadar kondisi seseorang hidup sendiri atau cuma punya sedikit teman. Seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa kesepian. Sebaliknya, ada pula orang yang hidup sendiri namun tidak merasa kesepian sama sekali.

Dalam dunia kesehatan, kesepian didefinisikan sebagai perasaan subjektif ketika hubungan sosial yang dimiliki tidak sesuai dengan yang diharapkan atau dibutuhkan.

Pertanyaannya, apakah perasaan kesepian benar-benar dapat memengaruhi kesehatan jantung? Makin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa jawabannya adalah... ya.

Table of Content

Kesepian dan kesehatan jantung, apa kata penelitian?

Kesepian dan kesehatan jantung, apa kata penelitian?

Sebuah metaanalisis besar menganalisis data dari lebih dari 180.000 orang dan menemukan bahwa kesepian serta isolasi sosial berkaitan dengan peningkatan sekitar 29 persen risiko penyakit jantung koroner dan 32 persen risiko stroke. Risiko ini tetap terlihat bahkan setelah memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi kesehatan, seperti usia dan kondisi medis tertentu.

Penelitian lainnya menemukan bahwa individu dengan tingkat kesepian yang lebih tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami berbagai penyakit kardiovaskular dibanding mereka yang merasa memiliki hubungan sosial yang baik.

Dari temuan-temuan yang ada, kesepian dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit kardiovaskular.

Mengapa kesepian bisa memengaruhi jantung?

Kesepian dan serangan jantung hubungannya tidak terjadi secara langsung. Para peneliti meyakini bahwa ada beberapa jalur biologis dan perilaku yang menjembatani keduanya.

1. Meningkatkan hormon stres

Ketika seseorang mengalami kesepian kronis, tubuh dapat menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk ancaman. Akibatnya, sistem respons stres menjadi lebih aktif.

Menurut studi, kesepian dikaitkan dengan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis dan hormon stres seperti kortisol. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kadar hormon stres yang tinggi dapat:

  • Meningkatkan tekanan darah.
  • Mempercepat denyut jantung.
  • Memperberat kerja sistem kardiovaskular.

Semua faktor di atas diketahui berkontribusi terhadap risiko penyakit jantung.

2. Memicu peradangan kronis

Peradangan merupakan salah satu mekanisme utama yang terlibat dalam pembentukan plak di pembuluh darah.

Penelitian menunjukkan orang yang mengalami kesepian cenderung memiliki kadar penanda inflamasi yang lebih tinggi dibanding mereka yang memiliki hubungan sosial yang kuat.

Peradangan kronis diketahui berperan dalam perkembangan aterosklerosis, yaitu penumpukan plak pada arteri yang dapat memicu serangan jantung dan stroke.

3. Meningkatkan tekanan darah

Beberapa studi menunjukkan kesepian berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dari waktu ke waktu. Salah satu temuannya, individu yang merasa kesepian mengalami kenaikan tekanan darah sistolik yang lebih besar selama periode pengamatan dibanding mereka yang tidak kesepian.

Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung.

4. Memengaruhi kualitas tidur

Kesepian juga dapat memengaruhi pola tidur. Orang yang merasa kesepian lebih sering mengalami tidur yang tidak nyenyak, sering terbangun pada malam hari, dan kualitas tidur yang buruk.

Kurang tidur telah dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung.

Kesepian juga dapat memengaruhi perilaku sehari-hari, berdampak pada pilihan gaya hidup

Seorang perempuan duduk di sofa dengan ekspresi sedih dan melamun, mengenakan sweter abu-abu dan celana jeans di ruangan terang.
ilustrasi seorang perempuan duduk sendiri, merasa kesepian (magnific.com/jcomp)

Selain perubahan dalam tubuh, kesepian juga dapat memengaruhi perilaku sehari-hari. Individu yang mengalami isolasi sosial atau kesepian lebih mungkin:

  • Mager atau kurang aktif secara fisik.
  • Pola makannya kurang sehat.
  • Merokok dan/atau mengonsumsi alkohol berlebihan.
  • Tidak atau menunda pemeriksaan kesehatan.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Apakah hidup sendiri berarti lebih berisiko?

Kesepian beda dengan hidup sendiri.

Orang yang tinggal sendiri tetapi memiliki hubungan sosial yang baik dan merasa puas dengan kehidupannya belum tentu mengalami kesepian. Sebaliknya, orang yang hidup bersama pasangan atau keluarga tetap bisa merasa terisolasi secara emosional.

Karena itu, yang tampaknya paling berpengaruh terhadap kesehatan bukan cuma jumlah orang di sekitar kita, melainkan kualitas hubungan sosial yang dimiliki.

Para ahli menekankan bahwa hubungan sosial yang bermakna merupakan salah satu faktor penting dalam kesehatan dan kesejahteraan sepanjang hidup.

Apakah kesepian bisa menyebabkan serangan jantung secara langsung?

Kesepian bukan penyebab tunggal serangan jantung.

Faktor-faktor seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, dan riwayat keluarga tetap menjadi faktor risiko utama. Namun, kesepian dapat memperburuk berbagai faktor tersebut dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit jantung dalam jangka panjang.

Itulah kenapa banyak ahli sekarang mulai memandang hubungan sosial sebagai salah satu komponen kesehatan yang perlu diperhatikan, sama seperti pola makan dan aktivitas fisik.

Apa yang bisa dilakukan?

Empat sahabat duduk di tepi bukit hijau sambil tertawa bersama menikmati pemandangan alam yang indah di kejauhan.
ilustrasi menghabiskan waktu berkualitas bersama sahabat (pexels.com/Matheus Ferrero)

Solusi dari kesepian bukan berarti harus punya banyak teman. Penelitian menyebut, kualitas hubungan lebih penting daripada jumlah hubungan.

Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:

  • Pertahankan hubungan yang bermakna. Kontak rutin dengan keluarga, sahabat, atau komunitas dapat membantu mengurangi perasaan terisolasi.
  • Bergabung dengan aktivitas sosial. Kelompok olahraga, komunitas hobi, kegiatan sukarela, atau organisasi sosial dapat membantu memperluas interaksi sosial.
  • Jaga kesehatan mental. Jika kesepian berlangsung lama dan memengaruhi kehidupan sehari-hari, bantuan profesional dari psikolog atau psikiater dapat membantu.
  • Tetap aktif secara fisik. Aktivitas fisik tidak hanya baik untuk jantung, tetapi juga terbukti membantu memperbaiki suasana hati dan meningkatkan interaksi sosial.

Kesepian memang tidak memiliki tanda yang bisa diukur seperti tekanan darah atau tingkat kolesterol. Akan tetapi, makin banyak penelitian menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan kardiovaskular tidak bisa dianggap remeh.

Orang yang mengalami kesepian kronis cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung, stroke, dan kematian dini. Hubungan ini diduga terjadi melalui berbagai mekanisme, mulai dari peningkatan hormon stres dan peradangan hingga perubahan perilaku yang kurang sehat.

Jadi, selain pola makan dan rutin berolahraga, memiliki hubungan sosial yang bermakna dan terhubung dengan orang lain juga merupakan bagian penting dari jantung sehat sekaligus kesehatan secara menyeluruh.

Referensi

Nicole K Valtorta et al., “Loneliness and Social Isolation as Risk Factors for Coronary Heart Disease and Stroke: Systematic Review and Meta-analysis of Longitudinal Observational Studies,” Heart 102, no. 13 (April 18, 2016): 1009–16, https://doi.org/10.1136/heartjnl-2015-308790.

Laura Alejandra Rico-Uribe et al., “Association of Loneliness With All-cause Mortality: A Meta-analysis,” PLoS ONE 13, no. 1 (January 4, 2018): e0190033, https://doi.org/10.1371/journal.pone.0190033.

John T. Cacioppo and Louise C. Hawkley, “Perceived Social Isolation and Cognition,” Trends in Cognitive Sciences 13, no. 10 (September 1, 2009): 447–54, https://doi.org/10.1016/j.tics.2009.06.005.

John T. Cacioppo et al., “Loneliness and Health: Potential Mechanisms,” Psychosomatic Medicine 64, no. 3 (May 1, 2002): 407–17, https://doi.org/10.1097/00006842-200205000-00005.

Louise C. Hawkley et al., “Loneliness Predicts Increased Blood Pressure: 5-year Cross-lagged Analyses in Middle-aged and Older Adults.,” Psychology and Aging 25, no. 1 (March 1, 2010): 132–41, https://doi.org/10.1037/a0017805.

American Heart Association. “Inflammation and Heart Disease.” Diakses Juni 2026.

World Health Organization. "Social Connection as a Public Health Priority. Diakses Juni 2026.

Julianne Holt-Lunstad, “Social Connection as a Public Health Issue: The Evidence and a Systemic Framework for Prioritizing the ‘Social’ in Social Determinants of Health,” Annual Review of Public Health 43, no. 1 (January 12, 2022): 193–213, https://doi.org/10.1146/annurev-publhealth-052020-110732.

Liaoyao Wang et al., “Association of Social Isolation, Loneliness and Risk of Cardiovascular Diseases: Meta-analysis of Cohort Studies,” BMC Public Health 25, no. 1 (September 24, 2025): 3082, https://doi.org/10.1186/s12889-025-24300-z.

National Heart, Lung, and Blood Institute. “Heart Disease Risk Factors.” Diakses Juni 2026.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More