Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dua Minggu Absen Nge-Gym, Seberapa Besar Dampaknya?

Dua Minggu Absen Nge-Gym, Seberapa Besar Dampaknya?
ilustrasi olahraga memakai dumbbell (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Penurunan kebugaran (kardio) bisa mulai terjadi dalam 10–14 hari tanpa latihan.

  • Kekuatan otot relatif lebih bertahan, tetapi mulai menurun jika tidak digunakan.

  • Perubahan metabolisme dan sensitivitas insulin bisa terjadi dalam waktu singkat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Absen olahraga satu hari, dua hari, hingga seminggu biasanya tidak ada masalah berarti. Namun, bagaimana jika tidak berolahraga sampai dua minggu?

Banyak orang merasa bahwa membangun kekuatan, otot, atau performa olahraga butuh waktu lama, tetapi di sisi lain progres atau pencapaian yang sudah didapat akan cepat hilang jika berhenti. Ketika latihan terhenti, entah karena liburan, sakit, kelelahan, atau alasan apa pun, banyak orang khawatir semua progres akan hilang.

Kenyataannya, tubuh tidak bekerja seperti itu, kok. Ada proses yang terjadi secara bertahap, dan tidak semua aspek kebugaran hilang dalam waktu singkat. Namun, dua minggu tanpa latihan bukan waktu yang sepele. Periode ini sudah cukup untuk memicu perubahan yang bisa diukur, baik pada sistem kardiovaskular, otot, maupun metabolisme.

Inilah beberapa hal yang terjadi pada tubuh jika tidak latihan selama dua minggu.

Table of Content

1. Penurunan kebugaran kardiovaskular

1. Penurunan kebugaran kardiovaskular

Salah satu perubahan paling cepat terjadi pada kapasitas aerobik. Penelitian menunjukkan bahwa VO₂ max (indikator utama kebugaran jantung dan paru) dapat mulai menurun dalam 10–14 hari tanpa latihan.

Beberapa dampaknya antara lain:

  • Kamu lebih cepat ngos-ngosan.
  • Detak jantung lebih tinggi saat aktivitas ringan.
  • Performa endurance menurun.

2. Kekuatan otot mulai menurun (tapi tidak drastis)

Latihan dumbbell lateral raise.
ilustrasi dumbbell lateral raise (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Kabar baiknya, dua minggu gak nge-gym kekuatan otot tidak langsung hilang. Penurunan kekuatan biasanya lebih lambat dibandingkan kebugaran kardio.

Namun, setelah dua minggu:

  • Aktivasi otot mulai menurun.
  • Koordinasi neuromuskular sedikit berkurang.
  • Otot terasa kurang responsif.

Artinya, yang hilang lebih dulu adalah performa, bukan massa otot secara signifikan.

3. Perubahan metabolisme

Tubuh yang terbiasa aktif akan merespons cepat saat aktivitas berkurang. Menurut penelitian, penurunan aktivitas fisik dalam waktu singkat dapat menurunkan sensitivitas insulin.

Efeknya bisa berupa:

  • Tubuh kurang efisien mengelola gula darah.
  • Risiko penyimpanan lemak meningkat.
  • Energi terasa lebih "datar".

4. Penurunan volume plasma darah

Latihan dengan dumbbell.
ilustrasi latihan dengan dumbbell (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Salah satu perubahan yang jarang disadari adalah penurunan volume plasma darah. Ini bisa berdampak pada:

  • Sirkulasi oksigen.
  • Daya tahan tubuh saat aktivitas.
  • Perasaan cepat lelah.

5. Mood dan energi bisa ikut terdampak

Olahraga berperan dalam regulasi hormon seperti endorfin dan serotonin. Aktivitas fisik berhubungan erat dengan kesehatan mental. Saat berhenti melakukannya, kamu bisa merasakan ini:

  • Suasana hati bisa lebih mudah turun.
  • Energi harian terasa berkurang.
  • Motivasi ikut menurun.

Apakah semua progres akan hilang?

Ilustrasi strength training.
ilustrasi strength training (pexels.com/Jonathan Borba)

Jawabannya, tidak.

Tubuh memiliki muscle memory, yaitu kemampuan untuk kembali beradaptasi lebih cepat setelah jeda latihan.

Penelitian menunjukkan bahwa otot yang pernah dilatih lebih cepat kembali kuat dan adaptasi sebelumnya tidak hilang sepenuhnya. Ini berarti, dua minggu absen bukan berarti progres terhenti, tetapi hanya jeda sementara.

Kapan harus mulai khawatir?

Dua minggu adalah fase awal. Dampak yang lebih signifikan biasanya terjadi jika kamu tidak latihan selama lebih dari 3–4 minggu, disertai pola makan tidak seimbang, serta tingkat aktivitas harian rendah.

Dengan kondisi di atas, makin lama jeda, makin besar penurunan yang terjadi.

Absen latihan di gym selama dua minggu dapat membawa perubahan, tetapi tidak seburuk yang sering dibayangkan. Tubuh mulai beradaptasi ke arah yang lebih “hemat energi”, yang berdampak pada penurunan performa. Tenang, progres tidak hilang sepenuhnya, kok, karena tubuh punya muscle memory. Kembali bergerak, bahkan secara bertahap, akan membantu memulihkan kondisi lebih cepat daripada memulai dari nol.

Referensi

American College of Sports Medicine. “Resistance Training Guidelines.” Diakses Maret 2026.

Harvard Medical School. “Exercise and mental health.” Diakses Maret 2026.

Rikke Krogh-Madsen et al., “A 2-wk Reduction of Ambulatory Activity Attenuates Peripheral Insulin Sensitivity,” Journal of Applied Physiology 108, no. 5 (January 1, 2010): 1034–40, https://doi.org/10.1152/japplphysiol.00977.2009.

Iñigo Mujika and Sabino Padilla, “Detraining: Loss of Training-Induced Physiological and Performance Adaptations. Part I,” Sports Medicine 30, no. 2 (January 1, 2000): 79–87, https://doi.org/10.2165/00007256-200030020-00002.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More