“Pendekatan treat-to-target harus menjadi bagian dari praktik klinik, dengan tujuan tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan jangka panjang,” ujarnya yang dikutip dari rilis resmi.
Hadapi Lonjakan Kasus IBD, Indonesia Kini Punya IBD Center

- Kasus IBD meningkat secara global, termasuk di Indonesia.
- RS Abdi Waluyo mendirikan IBD Center sebagai pusat pertama di Indonesia dengan layanan one-stop service berbasis tim multidisiplin dan teknologi diagnostik modern.
- Prevalensi infeksi yang tinggi di Indonesia memerlukan skrining infeksi sebelum terapi, penilaian aktivitas penyakit, dan pemilihan terapi yang terindividualisasi sesuai standar internasional.
Kasus inflammatory bowel disease (IBD) atau penyakit radang usus terus meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Namun, kesadaran dan kewaspadaan klinis masih rendah sehingga banyak pasien baru terdiagnosis pada fase lanjut dengan risiko komplikasi serius.
IBD merupakan penyakit kompleks dan progresif yang memerlukan pendekatan multidisiplin, termasuk skrining infeksi seperti tuberkulosis (TBC) sebelum terapi, penilaian aktivitas penyakit, serta pemilihan terapi yang terindividualisasi sesuai standar internasional (STRIDE II).
RS Abdi Waluyo menegaskan perannya di garda terdepan untuk IBD, termasuk mengembangkan IBD Center sebagai pusat IBD pertama di Indonesia, dengan layanan one-stop service berbasis tim multidisiplin dan teknologi diagnostik modern seperti intestinal ultrasound (IUS) untuk monitoring noninvasif.
Prevalensi infeksi yang tinggi di indonesia
Prof. dr. Marcellus Simadibrata, Ph.D, Sp.PD-KGEH, FACG, FASGE, FINASIM, spesialis penyakit dalam bidang gastroenterologi-hepatologi RS Abdi Waluyo menyoroti bahwa di negara dengan prevalensi infeksi yang masih tinggi seperti Indonesia, skrining infeksi menjadi langkah yang tidak dapat diabaikan dalam tata laksana IBD.
Beberapa infeksi, khususnya TBC dan infeksi saluran cerna tertentu, dapat menyerupai atau memperberat perjalanan IBD. Karena itu, skrining menyeluruh sebelum memulai atau mengeskalasi terapi sangat penting untuk menghindari kesalahan diagnosis dan komplikasi yang tidak diinginkan.
Tata laksana lebih terarah

Prof. Marcel menyebut bahwa setelah diagnosis IBD ditegakkan, tantangan terbesar berikutnya adalah menentukan strategi penanganan yang tepat sejak dini.
Keterlambatan diagnosis maupun inisiasi terapi dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksiusus, fistula, dan peningkatan risiko kanker kolorektal. Oleh karena itu, penilaian aktivitas dan derajat keparahan penyakit menjadi langkah krusial sebelum menentukan terapi yang paling sesuai.
Penanganan IBD tidak dapat dilakukan secara sederhana atau seragam. Setelah diagnosis, pasien perlu melalui evaluasi komprehensif yang mencakup penilaian aktivitas penyakit, eksklusi infeksi tersembunyi serta penentuan target terapi yang jelas.
IBD Center sebagai one-stop service
Terkait kompleksitas, IBD dipandang sebagai penyakit kronis yang memerlukan perhatian khusus dan penanganan komprehensif. Pengembangan IBD Center sebagai one-stop service dengan pendekatan holistik oleh tim multidisiplin spesialis dan subspesialis, yang mengintegrasikan layanan diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang hingga dukungan multidisiplin sesuai kebutuhan pasien.
RS Abdi Waluyo IBD Center merupakan pusat IBD pertama di Indonesia. Juga, telah tersedia layanan IUS sebagai bagian dari pendekatan diagnostik dan monitoring noninvasif, yang perannya penting dalam menilai aktivitas penyakit secara lebih aman dan berulang, serta mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat dalam tata laksana pasien IBD.

















