Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ciri-ciri TBC di Tenggorokan, Sering Kali Terlewat

Ciri-ciri TBC di Tenggorokan
ilustrasi suara serak (freepik.com/mdjaff)
Intinya sih...
  • TBC laring adalah bentuk TBC yang menyerang laring atau tenggorokan.
  • TBC laring biasanya merupakan hasil lanjutan dari infeksi TBC paru. Kuman M. tuberculosis di paru yang aktif dapat menyebar ke tenggorokan melalui udara atau dahak yang dihirup kembali, kemudian menetap dan berkembang di jaringan laring.
  • TBC laring memiliki beragam gejala yang pada awalnya sering kali tampak ringan, tetapi berkembang seiring waktu. Selain gejala tenggorokan, ada juga gejala umum TBC.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tuberkulosis (TBC/TB) sering diasosiasikan dengan infeksi paru-paru, tetapi bakteri Mycobacterium tuberculosis juga dapat menyerang area lain seperti laring atau tenggorokan. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis laring (laryngeal tuberculosis), yaitu manifestasi TBC yang paling sering terjadi di organ suara selain paru.

Walaupun tergolong langka, sekitar 1 persen dari semua kasus TBC, tetapi ini tetap penting untuk dikenali karena gejalanya bisa mirip dengan penyakit lain seperti laringitis kronis atau bahkan kanker tenggorokan.

Pada masa sebelum obat anti tuberkulosis ditemukan, penyakit ini sering terlihat bersama TBC paru yang berat. Kini, meski secara klinis lebih jarang, tetapi TBC laring tetap menjadi ancaman serius, terutama di negara-negara dengan angka TBC tinggi. Penyakit ini bisa muncul sebagai infeksi sekunder dari TBC paru atau, lebih jarang, sebagai kasus primer tanpa keterlibatan paru.

TBC laring berawal dari infeksi bakteri yang menimbulkan peradangan kronis di jaringan laring. Peradangan ini kemudian berkembang menjadi granuloma, yaitu benjolan peradangan khas TBC yang bisa mengganggu fungsi suara dan menelan. Karena gejalanya sering berkembang perlahan dan tidak spesifik, banyak orang yang telanjur menganggapnya sebagai gangguan suara biasa.

Memahami bagaimana TBC dapat memengaruhi tenggorokan dan sistem pernapasan lebih luas dapat membantu kamu mengenali tanda-tandanya lebih dini sehingga diagnosis dan pengobatan bisa dilakukan lebih cepat.

Table of Content

1. Gejala TBC Laring

1. Gejala TBC Laring

TBC laring memiliki beragam gejala yang pada awalnya sering kali tampak ringan, tetapi berkembang seiring waktu. Gejala utama meliputi:

Gejala pada tenggorokan

  • Suara parau atau suara hilang: ini adalah gejala yang paling umum karena keterlibatan pita suara dalam proses infeksi.
  • Kesulitan menelan (disfagia) dan nyeri saat menelan (odinofagia): peradangan di daerah tenggorokan membuat menelan menjadi tidak nyaman.
  • Batuk kronis yang tidak kunjung sembuh, kadang disertai batuk berdarah.
  • Sensasi seperti ada yang mengganjal di tenggorokan, terutama saat menelan.
  • Sesak napas atau suara napas berubah jika infeksi meluas dan menyebabkan penyempitan jalan napas.

Gejala sistemik TBC lainnya

Selain gejala di tenggorokan, orang dengan TBC laring juga menunjukkan gejala umum TBC, seperti:

  • Demam berkepanjangan, terutama pada malam hari.
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
  • Keringat malam dan kelelahan terus-menerus.
  • Nafsu makan menurun.

Gejala-gejala ini bisa tumpang tindih dengan gejala TBC paru, karena sering kali TBC laring terjadi bersamaan dengan infeksi di paru.

2. Penyebab TBC Laring

Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TBC.
Mycobacterium tuberculosis (unsplash.com/CDC)

TBC laring biasanya merupakan hasil lanjutan dari infeksi TBC paru. Kuman M. tuberculosis di paru yang aktif dapat menyebar ke tenggorokan melalui udara atau dahak yang dihirup kembali, kemudian menetap dan berkembang di jaringan laring.

Faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan mengalami TBC laring antara lain:

  • TBC paru aktif yang tidak diobati atau terlambat ditangani.
  • Sistem imun lemah, seperti orang dengan HIV/AIDS, orang dengan diabetes, atau mereka yang menggunakan obat imunosupresif.
  • Paparan lingkungan dengan kasus TBC tinggi, seperti tinggal serumah dengan pengidap TBC aktif.

Pada kasus yang jarang, TBC laring bisa muncul sebagai infeksi primer tanpa TBC paru. Ini biasanya terjadi pada individu dengan faktor risiko tertentu atau di wilayah dengan prevalensi TBC yang tinggi.

3. Diagnosis TBC Laring

Menegakkan diagnosis TBC laring tidak cukup hanya dari gejala klinis karena mirip dengan kondisi lain (misalnya kanker laring atau laringitis kronis). Proses diagnosis biasanya meliputi:

  1. Pemeriksaan lengkap oleh dokter THT.
  2. Laringoskopi untuk melihat kondisi laring dan pita suara.
  3. Biopsi jaringan laring, yang mana jaringan diambil dan diperiksa untuk melihat granuloma khas TBC serta keberadaan bakteri.
  4. Tes bakteriologis seperti kultur untuk deteksi M. tuberculosis.
  5. Pencitraan seperti X-ray atau CT scan untuk melihat keterlibatan organ lain, terutama paru.

Diagnosis akurat penting karena kondisi ini dapat dengan mudah disalahartikan sebagai kanker atau infeksi lain tanpa pemeriksaan yang tepat.

4. Pengobatan TBC Laring

Ilustrasi obat-obatan.
ilustrasi obat-obatan (IDN Times/Aditya Pratama)

Pengobatan TBC laring adalah dengan terapi antituberkulosis yang terdiri dari kombinasi antibiotik khusus selama periode panjang (umumnya 6 bulan atau lebih).

Regimen pengobatan yang umum termasuk:

  • Fase intensif dengan empat obat utama.
  • Fase lanjutan dengan dua obat utama untuk memastikan bakteri benar-benar tuntas.

Selain terapi antibiotik, pasien mungkin dibantu dengan:

  • Mengistirahatkan suara dan hidrasi membran tenggorokan.
  • Kortikosteroid pada kasus peradangan berat tertentu.
  • Intervensi bedah hanya jika terjadi penyempitan jalan napas atau jaringan parut yang menghambat fungsi suara.

Perbaikan biasanya mulai terlihat dalam beberapa minggu setelah terapi teratur, tetapi suara dan jaringan tenggorokan mungkin butuh waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya.

5. Komplikasi yang bisa terjadi dari TBC Laring

Jika tidak didiagnosis atau diobati tepat waktu, TBC laring dapat menyebabkan komplikasi serius seperti:

  • Obstruksi jalan napas, terutama pada kasus lanjut.
  • Kerusakan pita suara permanen yang memengaruhi suara.
  • Stenosis laring (penyempitan akibat jaringan parut).
  • Penyebaran ke organ lain, termasuk paru dan jaringan sekitarnya.

6. Pencegahan TBC Laring

Vaksinasi.
ilustrasi suntik vaksin (unsplash.com/Mufid Majnun)

Mencegah TBC laring berarti mencegah TBC secara keseluruhan. Langkah-langkah pencegahannya meliputi:

  • Deteksi dini dan pengobatan lengkap TBC paru.
  • Vaksinasi BCG sesuai rekomendasi dokter/otoritas kesehatan setempat.
  • Menghindari kontak dekat jangka panjang dengan pengidap TBC aktif tanpa perlindungan.
  • Menjaga sistem imun, termasuk nutrisi baik dan pengelolaan komorbid.

Langkah-langkah ini dapat membantu menurunkan risiko bakteri menyebar ke tenggorokan atau organ lain.

TBC laring adalah bentuk TBC yang jarang namun tidak boleh diabaikan, terutama jika kamu mengalami suara serak berkepanjangan, batuk terus-menerus, atau kesulitan menelan yang tidak kunjung membaik. Karena gejalanya bisa mirip dengan banyak kondisi lain, langkah pemeriksaan dan diagnosis yang tepat penting untuk memastikan penanganan yang benar.

Referensi

Yencha MW, Linfesty R, Blackmon A. Laryngeal tuberculosis. Am J Otolaryngol. 2000 Mar-Apr;21(2):122-6. doi: 10.1016/s0196-0709(00)85010-3.

Innovative Research Journals, “Laryngeal Tuberculosis Clinical Features, Diagnosis, and Management in the Context of Extra-Pulmonary Tuberculosis - Innovative Research Journals,” Innovative Research Journals, November 3, 2025.

"How to Recognize the Symptoms of Tuberculosis of the Throat." Healthline. Diakses Januari 2026.

Gao M, Cheng L, Wang Q, Yang Q, Wang X, Li Y, Hu R, Xu W. Clinical characteristics and prognosis of laryngeal tuberculosis combined with respiratory tuberculosis. Am J Otolaryngol. 2024 Jan-Feb;45(1):104115. doi: 10.1016/j.amjoto.2023.104115.

Nayana Bhuyan and Anup Das, “Primary Laryngeal Tuberculosis: A Rare Cause of Chronic Laryngitis,” International Journal of Advances in Medicine 1, no. 3 (January 1, 2014): 279, https://doi.org/10.5455/2349-3933.ijam20141113.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
Delvia Y Oktaviani
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

[QUIZ] Kami Bisa Tahu Kualitas Tidurmu dari Kebiasaan Malam

27 Jan 2026, 18:00 WIBHealth