- Aktivasi dan penghancuran langsung
Pada DBD, Apa yang Terjadi di Tubuh Saat Trombosit Turun Drastis?

- Trombositopenia pada DBD muncul karena kombinasi aktivasi, apoptosis, dan penghancuran oleh sistem imun.
- Virus dengue dapat menginfeksi trombosit dan sumsum tulang, menekan produksi sekaligus mempercepat konsumsi trombosit.
- Penurunan trombosit mencapai titik terendah umumnya pada hari ke-3 hingga hari ke-7 dan dapat berdampak pada risiko perdarahan.
Demam berdarah (DBD/DB) adalah penyakit yang ditandai dengan demam tinggi yang tiba-tiba dan penurunan jumlah trombosit di dalam darah. Trombosit, atau keping darah, memainkan peran penting dalam menghentikan perdarahan ketika pembuluh darah rusak. Saat angka trombosit turun drastis, tubuh berada dalam fase yang paling rentan dalam perjalanan penyakit ini.
Banyak pasien yang merasakan hari-hari kritis masuk antara hari ke-3 sampai ke-7 setelah demam muncul, dan sering kali trombosit berada pada level yang sangat rendah pada masa ini. Di luar angka yang terlihat pada hasil laboratorium, apa yang terjadi secara biologis di dalam tubuh adalah rangkaian kejadian seluler dan imunologis yang kompleks, yang mencerminkan pertempuran antara virus dengue penyebab DBD dan sistem pertahanan tubuh.
Trombosit punya tanggung jawab besar
Trombosit adalah bagian dari sistem hematologi tubuh yang bertugas membantu menghentikan perdarahan dengan membentuk sumbat atau keropeng ketika pembuluh darah terluka.
Rentang normal trombosit berkisar antara 150.000–450.000 per mikroliter darah, dan ketika angka ini turun di bawah batas normal, kondisi yang disebut trombositopenia terjadi.
Pada DBD, trombositopenia merupakan pertanda bahwa virus dan respons imun tubuh sedang memengaruhi produksi dan nasib trombosit di dalam darah secara langsung.
Saat mengalami DBD, kenapa trombosit bisa turun drastis?

Berikut beberapa alasan kenapa trombosit bisa turun drastis pada orang dengan DBD:
Virus dengue dapat memicu aktivasi trombosit secara abnormal. Saat trombosit “teraktivasi”, mereka berubah bentuk, menempel satu sama lain, dan melekat pada dinding pembuluh darah atau sel imun lain. Ini membuat sejumlah besar trombosit justru ikut dihilangkan dari peredaran darah.
Dalam studi yang menganalisis klinis pasien DBD, virus ditemukan dalam jumlah tinggi di dalam trombosit, yang berkorelasi dengan aktivasi berlebihan, interaksi dengan protein sistem imun seperti C3, dan akhirnya penghancuran melalui fagositosis oleh sel imun seperti monosit.
- Apoptosis dan kerusakan mitokondria
Penelitian lain menunjukkan bahwa trombosit yang diinfeksi dengue dapat mengalami aktivasi jalur apoptosis (kematian sel terprogram), yang juga melibatkan kerusakan fungsi mitokondria—organel penting bagi kehidupan sel. Ini artinya selain dihancurkan karena aktivasi, trombosit juga “mati” karena program internal sel itu sendiri.
- Tekanan pada sumsum tulang
Virus juga dapat memengaruhi produksi trombosit di sumsum tulang. DBD dikaitkan dengan supresi sumsum tulang yang mengurangi kemampuan tubuh untuk memproduksi trombosit baru, sehingga tubuh tidak bisa segera mengganti trombosit yang hilang.
- Konsumsi dalam sistem koagulasi
Selain aktivasi dan apoptosis, trombosit juga dikonsumsi cepat saat tubuh mencoba menjaga integritas pembuluh darah yang mengalami kerusakan dan peradangan akibat infeksi virus. Ini bagian dari respons koagulasi tinggi yang terkadang terjadi pada DBD, terutama pada kasus berat.
Dampak turunnya trombosit pada tubuh
Penurunan jumlah trombosit di bawah normal membuat tubuh lebih rentan terhadap perdarahan. Meski tidak selalu berujung pada gejala perdarahan besar, angka trombosit yang sangat rendah meningkatkan risiko memar, mimisan, pendarahan gusi, dan dalam kasus ekstrem perdarahan internal.
Secara klinis, rendahnya trombosit sering menjadi tanda pemantauan penting untuk memutuskan rawat inap, observasi ketat, atau bahkan transfusi. Namun, penelitian menunjukkan bahwa keputusan yang bijak tidak semata berdasarkan angka trombosit saja, karena kondisi pembuluh darah dan respons imun juga berperan besar dalam manifestasi klinis.
Turunnya trombosit drastis saat DBD bukan hanya soal jumlah yang menurun, tetapi mencerminkan rangkaian proses biologis yang kompleks: aktivasi yang berlebihan, apoptosis, penghambatan produksi di sumsum tulang, dan konsumsi trombosit dalam respon koagulasi. Semua ini adalah bagian dari upaya tubuh untuk menghadapi virus dengue, sekaligus tantangan bagi sistem imun yang mencoba menjaga keseimbangan antara melawan infeksi dan menjaga kestabilan darah.
Referensi
Amrita Ojha et al., “Platelet Activation Determines the Severity of Thrombocytopenia in Dengue Infection,” Scientific Reports 7, no. 1 (January 31, 2017): 41697, https://doi.org/10.1038/srep41697.
E.D. Hottz et al., “Dengue Induces Platelet Activation, Mitochondrial Dysfunction and Cell Death Through Mechanisms That Involve DC-SIGN and Caspases,” Journal of Thrombosis and Haemostasis 11, no. 5 (February 25, 2013): 951–62, https://doi.org/10.1111/jth.12178.
Anna Cecíllia Quirino-Teixeira et al., “Platelets in Dengue Infection: More Than a Numbers Game,” Platelets 33, no. 2 (May 24, 2021): 176–83, https://doi.org/10.1080/09537104.2021.1921722.
Amin Islam et al., “Coagulopathy of Dengue and COVID-19: Clinical Considerations,” Tropical Medicine and Infectious Disease 7, no. 9 (August 25, 2022): 210, https://doi.org/10.3390/tropicalmed7090210.


















