Comscore Tracker

Waspadai Osteopenia, Pengeroposan Tulang yang Rentan Dialami Perempuan

Bila dibiarkan bisa menyebabkan osteoporosis

Bagi sebagian orang, mungkin osteopenia dikira sama dengan osteoporosis karena keduanya merupakan istilah untuk kondisi pengeroposan tulang. Padahal, sebenarnya ada perbedaan antara keduanya.

Sedikit berbeda dengan osteoporosis, osteopenia juga merujuk pada kondisi pengeroposan tulang, hanya saja lebih ringan. Meski demikian, osteopenia juga harus diwaspadai karena bisa berdampak parah apabila tidak ditangani.

Beberapa dampak yang dapat ditimbulkan adalah patah tulang, postur tubuh bungkuk, nyeri, dan penurunan tinggi badan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai osteopenia, simak ulasan lebih lanjut berikut ini.

1. Osteopenia merupakan tahap awal sebelum osteoporosis 

Waspadai Osteopenia, Pengeroposan Tulang yang Rentan Dialami Perempuanilustrasi osteopenia (researchgate.net)

Osteopenia adalah kondisi rendahnya tingkat kepadatan tulang, sehingga tulang menjadi lebih lemah dari kondisi normal. Kondisi ini bisa diketahui dengan mengukur kepadatan mineral dalam tulang atau bone mineral density (BMD) melalui serangkaian pemeriksaan.

Apabila seseorang memiliki BMD yang lebih rendah dari kondisi normal tetapi belum masuk klasifikasi osteoporosis, maka orang tersebut mengalami osteopenia. Rendahnya kepadatan tulang inilah yang menyebabkan orang dengan kondisi osteopenia akan lebih rentan mengalami osteoporosis.

2. Jarang disadari karena tidak menimbulkan gejala 

Waspadai Osteopenia, Pengeroposan Tulang yang Rentan Dialami Perempuanilustrasi sakit pinggang bagian belakang (freepik.com/jcomp)

Pengeroposan tulang adalah kondisi yang umumnya dialami orang berusia lanjut, dan biasanya kondisi ini baru disadari ketika telah mencapai tahap yang lebih parah. Ini karena terjadinya penurunan kepadatan mineral pada tulang memang tidak bergejala.

Satu-satunya cara pasti untuk mengetahui kondisi ini adalah dengan melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis.

Meski demikian, secara alami manusia akan mengalami penurunan tinggi badan hingga 2,5 cm setelah melalui puncak pertumbuhan. Nah, apabila penurunan tinggi badan yang terjadi mencapai lebih dari 2,5 cm, itu bisa menjadi indikasi seseorang mengalami osteopenia. Selain itu, patah tulang juga bisa menunjukkan adanya kelainan, sehingga harus diwaspadai.

Baca Juga: 7 Kebiasaan Berbahaya untuk Tulang Belakang tapi Sering Dientengkan

3. Lebih banyak dialami orang berusia 50 tahun ke atas 

Waspadai Osteopenia, Pengeroposan Tulang yang Rentan Dialami Perempuanilustrasi lansia (pexels.com/Matthias Zomer)

Faktor yang paling umum dialami pengidap osteopenia adalah penuaan. Seiring bertambahnya usia, tulang manusia akan lebih cepat mengalami penurunan kepadatan mineral daripada meningkatkan proses pembentukan tulang baru.

Dilansir Harvard Health Publishing, kondisi osteopenia banyak dialami oleh sekitar setengah penduduk Amerika Serikat (AS) berusia di atas 50 tahun. Akan tetapi, adanya faktor lain juga bisa menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalami kondisi ini, seperti:

  • Memiliki riwayat keturunan dengan BMD yang rendah
  • Tidak mendapat asupan kalsium dan vitamin D yang cukup
  • Merokok dan mengonsumsi alkohol
  • Konsumsi obat yang mengandung kortikosteroid dan antikonvulsan
  • Memiliki kondisi kesehatan tertentu, seperti anoreksia, bulimia, sindrom Cushing, hiperparatiroid, hipertiroidisme, reumatik dan lupus

4. Perempuan lebih rentan

Waspadai Osteopenia, Pengeroposan Tulang yang Rentan Dialami PerempuanPerempuan mengalami ketidaknyamanan di tulang belakang saat bekerja (freepik.com/yanalya)

Selain karena usia dan faktor-faktor di atas, risiko osteopenia juga akan lebih tinggi pada perempuan. Ini karena perempuan memiliki kepadatan tulang yang jauh lebih rendah. Menopause di bawah usia 40 tahun juga bisa meningkatkan risiko ini.

Dilansir Healthline, perempuan Asia dan Kaukasia memiliki risiko tertinggi mengalami osteopenia karena memiliki tulang yang lebih kecil. 

Meski demikian, laki-laki dengan kadar testosteron yang rendah juga memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami osteopenia. Mengutip Harvard Health Publishing, sekitar sepertiga laki-laki kulit putih dan Asia yang berusia di atas 50 tahun mengalami osteopenia. Orang Hispanik dan kulit hitam memiliki risiko lebih rendah, tetapi angkanya pun masih cukup tinggi.

5. Beberapa cara menurunkan risiko osteopenia 

Waspadai Osteopenia, Pengeroposan Tulang yang Rentan Dialami Perempuanilustrasi olahraga (freepik.com/lifeforstock)

Sebenarnya kondisi osteopenia sulit dihindari karena memang secara alami akan terjadi seiring bertambahnya usia. Akan tetapi, berdasarkan laporan  Family Doctor, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko tersebut, di antaranya:

  • Batasi konsumsi alkohol dan minuman berkarbonasi
  • Berhenti merokok
  • Terapkan pola hidup sehat dengan menjalankan diet sehat bergizi seimbang
  • Konsumsi makanan yang mengandung kalsium dan vitamin D
  • Meningkatkan aktivitas fisik

Selain itu, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan tulang agar bisa segera mendapat penanganan yang tepat jika kamu memang mengalami osteopenia.

Itulah fakta seputar osteopenia, kondisi yang dimulai saat kamu kehilangan massa tulang dan tulang semakin lemah. Bila dibiarkan, osteoporosis bisa terjadi. National Osteoporosis Foundation merekomendasikan perempuan usia 65 tahun ke atas, laki-laki usia 70 tahun ke atas, orang yang pernah mengalami patah tulang, serta adanya faktor risiko seperti yang sudah disebutkan di atas tadi untuk melakukan tes kepadatan tulang.

Baca Juga: Perempuan Rentan Terkena Osteoporosis, Saatnya Cegah dengan 3S

Halifa Ghaisani Photo Verified Writer Halifa Ghaisani

Simply human being

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya