Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Hubungan GERD dan Kebiasaan Duduk Lama?

ilustrasi GERD
ilustrasi GERD (pexels.com/Sora Shimazaki)
Intinya sih...
  • Posisi duduk lama meningkatkan tekanan pada lambung
  • Duduk lama membuat isi lambung lebih lama bertahan
  • Otot penyangga lambung melemah akibat kurang bergerak
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

GERD tidak selalu dipicu makanan pedas, stres atau telat makan, karena kebiasaan duduk lama juga punya peran besar dalam memicu naiknya asam lambung. Banyak orang merasakan keluhan seperti dada panas atau rasa asam di tenggorokan justru setelah duduk berjam-jam, bukan setelah makan berat. Aktivitas duduk yang tampak sepele ternyata memengaruhi posisi organ pencernaan secara langsung.

Ketika tubuh terlalu lama berada dalam posisi tertentu, kerja lambung dan katup kerongkongan ikut berubah. Kondisi ini sering tidak disadari karena duduk dianggap aktivitas aman bagi tubuh. Berikut penjelasan mengenai kaitan GERD dan kebiasaan duduk lama.

1. Posisi duduk lama meningkatkan tekanan pada lambung

ilustrasi duduk lama
ilustrasi duduk lama (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

Duduk terlalu lama, terutama dengan posisi condong ke depan, membuat tekanan di area perut bagian atas meningkat. Tekanan ini mendorong lambung ke arah atas dan memberi beban tambahan pada katup kerongkongan bawah. Ketika katup tersebut tidak mampu menutup dengan rapat, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Keluhan ini bisa muncul meskipun perut tidak terasa lapar atau terlalu kenyang.

Tekanan yang terjadi bersifat mekanis dan berlangsung perlahan. Karena tidak menimbulkan nyeri langsung, banyak orang tidak mengaitkannya dengan GERD. Inilah alasan mengapa duduk lama bisa memperparah gejala meskipun pola makan sudah cukup terkontrol.

2. Duduk lama membuat isi lambung lebih lama bertahan

ilustrasi duduk lama
ilustrasi duduk lama (pexels.com//fauxels)

Lambung membutuhkan gerakan tubuh untuk membantu mendorong makanan ke usus secara bertahap. Saat tubuh terlalu lama duduk diam, proses pengosongan lambung berjalan lebih lambat. Isi lambung yang bertahan lebih lama meningkatkan tekanan dari dalam. Kondisi ini memperbesar peluang asam lambung terdorong ke atas.

Situasi ini sering terjadi pada orang yang langsung duduk lama setelah makan. Tanpa disadari, lambung bekerja dalam kondisi penuh lebih lama dari seharusnya. Pada penderita GERD, hal ini membuat keluhan muncul meski porsi makan tidak berlebihan. Faktor ini menjelaskan mengapa gejala bisa muncul beberapa jam setelah makan.

3. Otot penyangga lambung melemah akibat kurang bergerak

ilustrasi GERD
ilustrasi GERD (pexels.com/Kindel Media)

Kebiasaan duduk lama membuat otot perut dan diafragma jarang aktif. Padahal, otot-otot ini berfungsi membantu menjaga posisi lambung tetap stabil. Ketika kekuatannya menurun, posisi lambung lebih mudah terdorong ke atas. Kondisi ini mempermudah asam lambung naik ke kerongkongan.

Penurunan fungsi otot terjadi perlahan dan sering tidak disadari. Tidak ada rasa pegal yang langsung terasa sebagai peringatan. Namun, efeknya tampak pada meningkatnya frekuensi keluhan GERD. Faktor ini menunjukkan bahwa GERD tidak hanya soal asam, tetapi juga soal dukungan otot tubuh.

4. Duduk lama setelah makan melemahkan efek gravitasi

ilustrasi makan
ilustrasi makan (pexels.com/Fatih Doğrul)

Gravitasi membantu menjaga asam lambung tetap berada di lambung. Saat duduk terlalu lama setelah makan, terutama dengan posisi membungkuk, efek gravitasi tidak bekerja optimal. Asam lambung lebih mudah bergerak ke atas, meskipun katup kerongkongan masih berfungsi.

Kondisi ini sering dialami pekerja yang harus kembali duduk segera setelah makan. Tanpa aktivitas ringan, tekanan di lambung meningkat secara perlahan. Keluhan pun muncul dalam bentuk rasa panas atau tidak nyaman di dada. Faktor ini menjelaskan mengapa waktu dan posisi setelah makan sama pentingnya dengan jenis makanan.

5. Aliran darah ke sistem pencernaan ikut terpengaruh

ilustrasi pencernaan
ilustrasi pencernaan (pexels.com/Polina Zimmerman)

Duduk terlalu lama dapat mengurangi kelancaran aliran darah ke area pencernaan. Lambung membutuhkan suplai darah yang baik untuk bekerja optimal. Ketika aliran darah kurang lancar, fungsi pencernaan melambat. Kondisi ini membuat lambung lebih rentan terhadap penumpukan asam.

Pada penderita GERD, situasi ini memperpanjang waktu paparan asam pada kerongkongan. Jaringan menjadi lebih sensitif dan mudah teriritasi. Akibatnya, keluhan terasa lebih sering meskipun pemicunya tidak jelas. Faktor sirkulasi ini jarang dibahas, padahal perannya cukup signifikan.

GERD dan kebiasaan duduk lama berkaitan melalui perubahan tekanan, posisi organ, serta kerja lambung yang melambat. Mengurangi durasi duduk dan memberi jeda gerak sederhana bisa membantu menurunkan risiko keluhan tanpa bergantung penuh pada obat. Jika duduk lama sulit dihindari, sudahkah tubuh diberi kesempatan bergerak agar lambung tidak terus bekerja dalam posisi tertekan?

Referensi:

"Association between sitting-time at work and incidence of erosive esophagitis diagnosed by esophagogastroduodenoscopy: a Korean cohort study" AOEM. Diakses pada Februari 2026

"Why Your GERD Gets Worse When You Go Back to Sitting All Day" Bay Gastro. Diakses pada Februari 2026

"Assessment of gastroesophageal reflux disease, musculoskeletal symptoms and quality of life in dentists" International Journal of Industrial Ergonomics. Diakses pada Februari 2026

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Health

See More

Apa Hubungan GERD dan Kebiasaan Duduk Lama?

15 Feb 2026, 12:21 WIBHealth