- Deteksi dini penyakit menular dan genetik.
- Perencanaan kehamilan yang lebih aman.
- Perlindungan kesehatan pasangan dan bayi di masa depan.
- Kesempatan mendapatkan imunisasi yang diperlukan sebelum hamil.
8 Jenis Medical Check-Up Pranikah buat Calon Pengantin

- Medical check-up pranikah membantu mendeteksi dini penyakit menular, genetik, dan gangguan kesuburan.
- Pemeriksaan ini direkomendasikan sebagai bagian dari layanan kesehatan reproduksi dan prakonsepsi.
- Idealnya dilakukan minimal 3–6 bulan sebelum pernikahan atau perencanaan kehamilan.
Selain menyatukan dua orang, tetapi juga membangun fondasi kesehatan jangka panjang bagi keluarga yang akan dibentuk. Selain akad dan resepsi, ada satu hal yang tak kalah penting, yaitu kesiapan fisik dan kesehatan reproduksi.
Pemeriksaan kesehatan pranikah semakin banyak direkomendasikan oleh tenaga medis sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif. Kementerian Kesehatan RI memasukkan skrining kesehatan reproduksi dalam layanan calon pengantin di fasilitas kesehatan primer, sejalan dengan pendekatan kesehatan keluarga dan prakonsepsi.
Secara global, World Health Organization (WHO) menekankan pentingnya perawatan prakonsepsi untuk mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko biomedis, perilaku, dan sosial sebelum kehamilan terjadi. Pendekatan ini terbukti meningkatkan luaran kesehatan ibu dan anak.¹
1. Mengenal medical check-up pranikah dan mengapa penting untuk dilakukan
Medical check-up pranikah (pre-marital check up, pre-marital screening, pemeriksaan pranikah) bertujuan mendeteksi kondisi yang berpotensi memengaruhi kesehatan pasangan maupun calon anak. Ini mencakup penyakit menular seksual, gangguan genetik, anemia, hingga penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi.
Intervensi sebelum kehamilan lebih efektif dibandingkan setelah komplikasi terjadi. Identifikasi dini memungkinkan pengobatan, imunisasi, atau konseling genetik dilakukan sebelum risiko meningkat.
Skrining talasemia dan hepatitis B menjadi perhatian khusus karena prevalensinya cukup tinggi pada populasi.
2. Manfaat dan tujuan melakukan cek kesehatan pranikah
Medical check-up pranikah memberikan beberapa manfaat utama:
Studi menunjukkan bahwa intervensi prakonsepsi berkontribusi pada penurunan risiko komplikasi kehamilan dan gangguan pertumbuhan janin.
3. Jenis medical check-up pranikah
Berikut jenis pemeriksaan yang umumnya direkomendasikan, merujuk pada praktik klinis dan pedoman internasional:
- Pemeriksaan darah lengkap: Untuk mendeteksi anemia, infeksi, atau gangguan hematologis lain. Anemia sebelum kehamilan berisiko meningkatkan komplikasi obstetri.
- Golongan darah dan rhesus: Penting untuk mengetahui potensi inkompatibilitas rhesus yang dapat berdampak pada kehamilan.
- Skrining talasemia: Indonesia termasuk negara dengan carrier talasemia cukup tinggi. Skrining membantu mencegah kelahiran anak dengan talasemia mayor melalui konseling genetik.
- Tes penyakit menular seksual (HIV, sifilis, hepatitis B): WHO merekomendasikan skrining HIV dan sifilis dalam layanan kesehatan reproduksi. Deteksi dini memungkinkan terapi yang mencegah penularan ke pasangan atau bayi.
- Pemeriksaan hepatitis B (HBsAg): Infeksi hepatitis B dapat ditularkan dari ibu ke bayi. Imunisasi dan tata laksana yang tepat dapat mencegah penularan.
- Pemeriksaan gula darah dan tekanan darah: Skrining diabetes dan hipertensi penting untuk mengurangi risiko komplikasi saat hamil.
- Tes kesuburan (jika diperlukan): Dilakukan jika ada riwayat gangguan menstruasi, infeksi reproduksi, atau faktor risiko infertilitas.
- Imunisasi prakonsepsi: Termasuk vaksin rubella (MMR) dan tetanus. WHO menekankan pentingnya kekebalan terhadap rubela untuk mencegah congenital rubella syndrome.
4. Siapa saja yang butuh medical check-up pranikah?

Pada dasarnya, semua calon pengantin dianjurkan menjalani pemeriksaan ini, terutama:
- Pasangan dengan riwayat penyakit genetik dalam keluarga.
- Individu dengan penyakit kronis.
- Pasangan yang berencana segera hamil.
- Mereka yang belum pernah menjalani skrining penyakit menular.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip skrining universal dalam kesehatan reproduksi.
5. Kapan tes kesehatan pranikah perlu dilakukan?
Idealnya 3–6 bulan sebelum pernikahan atau sebelum merencanakan kehamilan. Rentang waktu ini memberi kesempatan untuk vaksinasi, terapi, atau intervensi medis bila ditemukan kondisi tertentu.
Perawatan prakonsepsi paling efektif bila dilakukan sebelum konsepsi terjadi.
Medical check-up pranikah bukan formalitas administratif, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri, pasangan, dan generasi berikutnya. Pemeriksaan ini membantu pasangan memasuki pernikahan dengan kesiapan kesehatan yang lebih baik.
Langkah kecil sebelum akad atau pemberkatan bisa berdampak besar pada kualitas hidup keluarga di masa depan. Dengan skrining yang tepat dan berbasis bukti, pasangan tidak hanya merencanakan pesta, tetapi juga merencanakan kesehatan jangka panjang.
Referensi
"Preconception care: Maximizing the gains for maternal and child health - Policy brief." World Health Organization (WHO). Diakses Februari 2026.
"WHO recommendations on maternal health: guidelines approved by the WHO Guidelines Review Committee, 2nd ed." WHO. Diakses Februari 2026.
"Rubella vaccines: WHO position paper - July 2020." WHO. Diakses Februari 2026.
"Guidelines on HIV, viral hepatitis and sexually transmitted infections." WHO. Diakses Februari 2026.
Sohni V Dean et al., “Preconception Care: Closing the Gap in the Continuum of Care to Accelerate Improvements in Maternal, Newborn and Child Health,” Reproductive Health 11, no. S3 (September 26, 2014): S1, https://doi.org/10.1186/1742-4755-11-s3-s1.



















