Segera cari bantuan medis jika setelah terpapar asap muncul sesak, mengi, nyeri dada, pusing berat, batuk parah, bibir kebiruan, sangat lemas, atau serangan asma yang tidak membaik dengan obat biasa.
Anak yang napasnya cepat, tampak sangat lemas, sulit minum, atau tarikan napasnya terlihat berat juga perlu segera diperiksa oleh tenaga medis.
Keluhan ringan seperti mata perih atau tenggorokan gatal bisa membaik setelah menjauh dari asap. Namun, jika paparan berlangsung lama atau berulang, jangan anggap gejala sebagai hal biasa.
Asap dari sampah yang terbakar bisa lebih berbahaya dari asap kayu karena bahan yang terbakar jauh lebih beragam dan sering kali tidak diketahui apa saja yang terkandung di dalamnya.
Kayu saja dapat menghasilkan partikel halus, karbon monoksida, VOC, dan PAH yang berisiko bagi paru serta jantung. Ketika sampah ikut terbakar, terutama plastik, karet, styrofoam, tekstil sintetis, logam, dan bahan kimia rumah tangga, asapnya dapat membawa polutan tambahan seperti dioksin, furan, logam berat, gas iritan, dan residu toksik.
Referensi
World Health Organization. “Open Waste Burning: Sectoral Solutions for Air Pollution and Climate Change.” Diakses Juli 2026.
United States Environmental Protection Agency (EPA). “Wood Smoke and Your Health.” Diakses Juli 2026.
EPA. “Human Health: Backyard Burning.” Diakses Juli 2026.
EPA. “Health and Environmental Effects of Particulate Matter (PM).” Diakses Juli 2026.
Pathak, Gauri, et al. “The Open Burning of Plastic Wastes Is an Urgent Global Health Issue.” Annals of Global Health 90, no. 1 (2024).
Jakhar, R., et al. “A Comprehensive Study of the Impact of Waste Fires on the Environment and Health.” Sustainability 15, no. 19 (2023): 14241.
Centers for Disease Control and Prevention. “Safety Guidelines: Wildfires and Wildfire Smoke.” Diakses Juli 2026.
EPA. “Wildfires and Indoor Air Quality.” EPA, updated April 20, 2026.