Jacob Gries et al., “Heartburn’s Hidden Impact: A Narrative Review Exploring Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) as a Cardiovascular Disease Risk Factor,” Journal of Clinical Medicine 12, no. 23 (November 29, 2023): 7400, https://doi.org/10.3390/jcm12237400.
“Diagnosis and Management of Noncardiac Chest Pain,” PubMed, October 1, 2024, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39484001/.
"Non-cardiac Chest Pain (NCCP)." American College of Gastroenterology. Diakses Januari 2026.
C H Knowles and Q Aziz, “Visceral Hypersensitivity in Non-erosive Reflux Disease,” Gut 57, no. 5 (December 13, 2007): 674–83, https://doi.org/10.1136/gut.2007.127886.
Jose M. Remes-Troche, “The Hypersensitive Esophagus: Pathophysiology, Evaluation, and Treatment Options,” Current Gastroenterology Reports 12, no. 5 (July 28, 2010): 417–26, https://doi.org/10.1007/s11894-010-0122-3.
Philip O. Katz et al., “ACG Clinical Guideline for the Diagnosis and Management of Gastroesophageal Reflux Disease,” The American Journal of Gastroenterology 117, no. 1 (November 22, 2021): 27–56, https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000001538.
Apakah GERD Bisa Memperparah Gejala Penyakit Jantung?

- GERD tidak menyebabkan penyakit jantung, tetapi bisa memperberat gejalanya.
- Gejala GERD dan penyakit jantung sering tumpang tindih, memicu salah tafsir.
- Pendekatan multidisiplin penting untuk mencegah keterlambatan diagnosis.
Keluhan nyeri dada, rasa tertekan di dada, atau sensasi terbakar yang menjalar ke leher sering langsung diasosiasikan dengan jantung. Namun pada sebagian pasien, keluhan ini justru berasal dari saluran cerna, khususnya gastroesophageal reflux disease (GERD). Masalahnya, ketika GERD hadir bersamaan dengan penyakit jantung, gejala yang muncul tidak berdiri sendiri, bisa saling tumpang tindih dan memperberat persepsi tubuh terhadap rasa tidak nyaman.
Secara medis, GERD tidak menyebabkan penyakit jantung koroner atau serangan jantung. Namun, penelitian menunjukkan bahwa refluks asam dapat memperkuat sensasi nyeri dada, sesak, dan kelelahan pada pasien yang sudah memiliki gangguan jantung. Dalam konteks ini, GERD berperan sebagai amplifier, yang artinya memperbesar gejala yang sudah ada, bukan sebagai pemicu utama penyakit jantung.
Kondisi ini menjelaskan mengapa sebagian pasien jantung tetap merasa tidak nyaman meskipun terapi kardiovaskular sudah optimal. Tanpa mengenali peran GERD, keluhan bisa terus berulang dan menurunkan kualitas hidup pasien.
Gejala yang tumpang tindih
Nyeri dada non jantung merupakan masalah klinis yang umum. Studi menunjukkan bahwa GERD adalah penyebab paling sering nyeri dada non jantung, bahkan pada pasien yang sebelumnya dicurigai mengalami gangguan jantung serius. Sensasi terbakar, nyeri tekan di dada, hingga rasa penuh di ulu hati dapat meniru angina pectoris.
Pada pasien dengan penyakit jantung, refluks asam dapat mengaktifkan saraf vagus dan jalur nyeri viseral, sehingga ambang nyeri menjadi lebih rendah. Akibatnya, aktivitas ringan yang sebelumnya masih bisa ditoleransi kini terasa lebih berat. Sesak napas pun bisa terasa lebih intens, meski fungsi jantung relatif stabil.
Situasi ini berbahaya secara klinis. Gejala GERD yang menyerupai nyeri jantung dapat menyebabkan pasien menunda pertolongan saat terjadi serangan jantung yang sebenarnya, atau sebaliknya, menjalani pemeriksaan jantung berulang padahal sumber keluhan berasal dari saluran cerna.
GERD, sistem saraf, dan persepsi nyeri

Hubungan antara GERD dan jantung tidak hanya bersifat mekanis, tetapi juga melibatkan sistem saraf. Penelitian menunjukkan bahwa pasien GERD sering mengalami hipersensitivitas esofagus, kondisi ketika rangsangan ringan pun dirasakan sebagai nyeri signifikan.
Pada pasien penyakit jantung, kondisi ini dapat memperburuk persepsi nyeri dada dan memicu kecemasan. Stres dan kecemasan sendiri diketahui dapat meningkatkan produksi asam lambung, menciptakan lingkaran setan antara gejala cerna, gejala jantung, dan faktor psikologis.
Tak jarang, pasien dengan kombinasi GERD dan penyakit jantung melaporkan kualitas hidup yang lebih buruk dibanding pasien dengan salah satu kondisi saja. Hal ini menegaskan bahwa penanganan satu sistem tanpa melihat sistem lain sering kali tidak cukup.
Tantangan diagnosis ganda: jantung atau lambung?
Diagnosis menjadi lebih rumit ketika GERD dan penyakit jantung hadir bersamaan. Pedoman medis menekankan bahwa penyakit jantung harus selalu disingkirkan terlebih dahulu pada pasien dengan nyeri dada, sebelum menyimpulkan GERD sebagai penyebab utama.
Namun, setelah penyebab jantung dievaluasi dan ditangani, evaluasi saluran cerna sering terlewat. Padahal, studi menunjukkan bahwa terapi GERD yang tepat, termasuk penghambat pompa proton (PPI) dan modifikasi gaya hidup, dapat mengurangi frekuensi nyeri dada pada pasien dengan nyeri dada non jantung.
Di sinilah pendekatan multidisiplin menjadi krusial. Kolaborasi antara dokter jantung dan dokter penyakit dalam atau gastroenterolog membantu memastikan bahwa kedua kondisi ditangani secara seimbang, tanpa mengabaikan salah satunya.
GERD bukan penyebab penyakit jantung, tetapi perannya sebagai amplifier gejala sering diremehkan. Pada pasien dengan gangguan jantung, refluks asam dapat memperberat nyeri dada, sesak, dan kelelahan, sekaligus mengaburkan batas antara keluhan jantung dan saluran cerna.
Dengan pendekatan komprehensif dan multidisiplin, gejala dapat dikendalikan lebih baik, kecemasan berkurang, dan risiko keterlambatan penanganan kondisi serius bisa diminimalkan.
Referensi


















