Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Masker Bisa Terasa Pengap saat Dipakai Lama?

4 min read
Kenapa Masker Bisa Terasa Pengap saat Dipakai Lama?
ilustrasi menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah (pexels.com/Charles Parker)

  • Rasa pengap saat memakai masker lama umumnya dipicu udara hangat dan lembap, keringat, serta tekanan pada wajah, bukan karena tubuh kekurangan oksigen.
  • Masker menambah sedikit hambatan aliran napas, terutama N95 atau FFP2, tetapi pada orang sehat biasanya tidak menurunkan oksigen darah atau menyebabkan penumpukan karbon dioksida berbahaya.
  • Masker basah, kotor, terlalu ketat, atau tidak pas dapat memperparah ketidaknyamanan; cari bantuan medis bila sesak berat disertai nyeri dada, pingsan, kebingungan, bibir membiru, atau mengi menetap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Masker yang dipakai dalam waktu lama memang bisa terasa lebih hangat, lembap, dan pengap, terutama saat cuaca panas, berkeringat, atau banyak berbicara. Namun, rasa pengap ini tidak selalu berarti tubuh kekurangan oksigen.

Pada orang sehat, masker kain maupun masker bedah umumnya tidak menyebabkan penurunan kadar oksigen atau penumpukan karbon dioksida yang berbahaya. Sensasi pengap lebih sering disebabkan oleh udara yang hangat dan lembap di balik masker, sedikit hambatan aliran napas, serta tekanan masker pada wajah. Berikut ini penjelasannya lebih lanjut.

  1. 1. Udara hangat dan lembap terperangkap di dalam masker

    Setiap kali bernapas, sebagian panas dan uap air dari napas tertahan di balik masker. Seiring waktu, ini membuat area di sekitar hidung dan mulut menjadi lebih hangat dan lembap, sehingga masker terasa makin gerah.

    Kelembapan, keringat, dan minyak alami kulit juga dapat membuat masker terasa lebih menempel, terutama saat cuaca panas atau ketika beraktivitas fisik. Karena itu, rasa pengap saat memakai masker sering kali lebih berkaitan dengan peningkatan suhu dan kelembapan di sekitar wajah, bukan karena udara di dalam masker habis.

  2. 2. Masker memang bisa membuat napas sedikit lebih berat

    Masker memang menambah hambatan kecil pada aliran udara, terutama pada respirator seperti N95 atau FFP2 yang lebih rapat di wajah. Akibatnya, beberapa orang merasa bernapas sedikit lebih berat, terutama saat beraktivitas, berbicara lama, atau berolahraga.

    Namun, rasa tidak nyaman ini biasanya disebabkan oleh kombinasi hambatan aliran udara, peningkatan suhu dan kelembapan di balik masker, serta tekanan masker pada wajah. Sensasi sesak atau napas terasa berat tidak otomatis berarti kadar oksigen dalam darah menurun.

  3. 3. Apakah masker membuat kadar karbon dioksida menumpuk?

    Ilustrasi seseorang memakai masker sebagai perlindungan saluran pernapasan saat beraktivitas sehari-hari.
    ilustrasi seseorang memakai masker (magnific.com/jcomp)

    Banyak orang khawatir masker membuat pemakainya menghirup kembali karbon dioksida dalam jumlah berbahaya. Padahal, karbon dioksida tetap bisa keluar melalui bahan masker dan celah di sekitarnya.

    Memang, sebagian kecil udara yang diembuskan dapat sementara tertahan di ruang antara wajah dan masker, terutama pada masker yang lebih rapat. Kondisi ini dapat membuat udara di balik masker terasa lebih hangat dan lembap sehingga menimbulkan sensasi kurang nyaman atau seperti kekurangan udara.

    Namun, pada orang sehat, penggunaan masker umumnya tidak menyebabkan penumpukan karbon dioksida atau gangguan pertukaran gas yang bermakna secara klinis.

  4. 4. Kondisi masker juga memengaruhi sensasi pengap

    Jenis dan kondisi masker dapat memengaruhi kenyamanan. Masker yang terlalu ketat dapat menekan wajah, sedangkan masker yang tidak pas mudah bergeser saat digunakan.

    Masker yang lembap karena keringat atau uap napas juga biasanya terasa lebih pengap dan kurang nyaman. Karena itu, masker sekali pakai sebaiknya diganti jika sudah basah atau kotor, sedangkan masker kain perlu dicuci secara teratur. Memilih masker yang ukurannya pas dapat membantu mengurangi rasa pengap tanpa mengurangi fungsinya.

  5. 5. Kapan rasa pengap perlu diwaspadai?

    Pada kebanyakan orang sehat, rasa panas, lembap, atau pengap saat memakai masker biasanya hanya sementara dan akan membaik setelah masker dilepas di tempat yang aman. Namun, orang dengan asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) mungkin lebih mudah merasa tidak nyaman dan dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memilih masker yang sesuai.

    Segera cari pertolongan medis jika sesak napas terasa berat atau disertai nyeri dada, pingsan, kebingungan, bibir membiru, atau mengi yang tidak membaik.

    Kesimpulannya, rasa pengap saat memakai masker lebih sering disebabkan oleh panas, kelembapan, tekanan pada wajah, dan sedikit hambatan aliran udara, bukan karena tubuh kekurangan oksigen.

    Referensi

    Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada September 2026. "Science Brief: Community Use of Masks to Control the Spread of SARS-CoV-2."

    Discover Magazine. Diakses pada September 2026. "Why It Feels Like You Can't Breathe Inside Your Face Mask — and What to Do About It."

    Health Desk Center. Diakses pada September 2026. "Does Exhaled Carbon Dioxide in a Mask Cause Any Side Effects?"

    Pharmacy Times. Diakses pada September 2026. "Study: Wearing N95 Mask Over Long Period Can Cause Cardiopulmonary Stress."

    Quay Health. Diakses pada September 2026. "Why it’s Hard to Breathe with a Mask on?"

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More