Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi remaja yang sedang mengerjakan tugas sekolah (pexels.com/kaboompics.com)
  • Kolesterol tinggi sering tidak menimbulkan gejala. Pemeriksaan darah diperlukan untuk mengetahuinya.

  • Pola makan tinggi lemak jenuh, terlalu sering minum manis, kurang bergerak, dan merokok dapat memperburuk profil lemak darah.

  • Faktor keturunan dan kondisi kesehatan tertentu juga berperan. Remaja dengan gaya hidup sehat tetap bisa memiliki kolesterol tinggi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kolesterol tinggi biasanya dianggap sebagai masalah kesehatan orang dewasa. Padahal, profil lemak darah yang tidak sehat juga bisa ditemukan pada anak dan remaja. Kondisi ini biasanya tidak menimbulkan gejala, sehingga seseorang bisa merasa sehat tanpa tahu bahwa kadar kolesterolnya bermasalah.

Sebagai gambaran, data pada periode 2021–2023 di Amerika Serikat (AS) menunjukkan, 16,5 persen anak dan remaja usia 6–19 tahun memiliki setidaknya satu ukuran kolesterol yang tidak normal.

Kebiasaan sehari-hari bisa ikut memengaruhi risiko, tetapi bukan satu-satunya penyebab. Riwayat keluarga, obesitas, diabetes, gangguan ginjal, dan masalah tiroid juga bisa berperan. Berikut empat kebiasaan yang bisa memicu kolesterol tinggi pada remaja yang patut diperhatikan.

1. Sering memilih makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans

Daging berlemak, beberapa makanan cepat saji, kue kering, dan camilan kemasan tertentu dapat mengandung lemak jenuh atau lemak trans dalam jumlah tinggi. Jika terlalu sering dikonsumsi, pola makan seperti ini dapat berkontribusi pada kenaikan kolesterol, terutama LDL alias kolesterol jahat, yaitu jenis kolesterol yang dapat menumpuk di dinding pembuluh darah.

Bukan berarti harus menghindari semua lemak. Tubuh tetap memerlukannya untuk tumbuh dan berfungsi. Yang terpenting adalah membatasi makanan tinggi lemak jenuh dan memilih sumber lemak tak jenuh, seperti ikan, kacang-kacangan, atau minyak nabati, sebagai bagian dari pola makan seimbang.

2. Keseringan minum minuman manis

ilustrasi remaja menikmati milk tea (magnific.com/topntp26)

Minuman bersoda, teh kemasan, minuman berenergi, dan minuman manis lainnya mudah dikonsumsi saat belajar atau kumpul-kumpul. Asupan gula berlebih dapat berkaitan dengan kadar trigliserida yang tinggi. Trigliserida adalah jenis lemak lain yang diukur dalam pemeriksaan profil lemak darah.

Sebuah tinjauan terhadap 13 penelitian pada anak dan remaja menemukan hubungan antara konsumsi minuman berpemanis yang tinggi dengan LDL yang sedikit lebih tinggi dan HDL yang lebih rendah.

3. Jarang bergerak dan terlalu lama duduk

Waktu belajar, bermain gim, atau menonton bisa membuat remaja duduk berjam-jam. Jika aktivitas fisik jarang dilakukan, berat badan dapat lebih mudah bertambah. Berat badan berlebih berkaitan dengan kadar trigliserida dan LDL yang lebih tinggi serta HDL yang lebih rendah.

Menyelingi waktu duduk dengan bergerak dan rutin melakukan aktivitas fisik dapat menjadi langkah awal. Pilih kegiatan yang disukai—misalnya berjalan cepat, bersepeda, atau berolahraga bersama teman—agar lebih mudah dijalankan secara rutin.

4. Merokok

ilustrasi vape (unsplash.com/Vaporesso)

Merokok dapat merusak pembuluh darah dan menurunkan HDL alias kolesterol baik. Dampaknya tidak selalu berupa kenaikan LDL, tetapi merokok dapat membuat risiko gangguan jantung dan pembuluh darah menjadi lebih besar.

Karena itu, menjaga kesehatan kolesterol juga berarti menghindari rokok. Remaja yang sudah merokok dapat mencari bantuan tenaga kesehatan atau orang dewasa tepercaya untuk mulai berhenti.

Kolesterol tinggi tidak selalu disebabkan kebiasaan

Beberapa remaja mewarisi hiperkolesterolemia familial, kondisi genetik yang dapat menyebabkan LDL sangat tinggi sejak usia muda. Pada kondisi ini, perubahan pola makan dan aktivitas fisik mungkin belum cukup untuk mengendalikan kolesterol. Riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi atau serangan jantung pada usia relatif muda layak dibicarakan dengan dokter.

Karena kolesterol tinggi sering tidak terasa, pemeriksaan darah menjadi cara untuk mengetahuinya. Jika ada riwayat keluarga atau kondisi medis tertentu, orang tua dan remaja dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai perlu atau tidaknya pemeriksaan.

Perubahan pola makan untuk remaja sebaiknya tetap mendukung pertumbuhan, bukan berupa diet ketat. Pilihan sederhana seperti lebih sering minum air putih, menambah sayur, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, serta lebih aktif bergerak dapat membantu membangun kebiasaan yang baik bagi kesehatan jantung.

Referensi

National Library of Medicine, “High Cholesterol in Children and Teens,” MedlinePlus, diakses 3 November 2026.

Adi Noiman, Jeffery P. Hughes, Jacqueline Leachman, dan Duong Nguyen, “Abnormal Cholesterol in Children and Adolescents: United States, August 2021–August 2023,” NCHS Data Brief, no. 552 (Maret 2026), https://www.cdc.gov/nchs/products/databriefs/db552.htm.

Centers for Disease Control and Prevention, “Risk Factors for High Cholesterol,” diakses 3 November 2026.

National Heart, Lung, and Blood Institute, “Integrated Guidelines for Cardiovascular Health and Risk Reduction in Children and Adolescents: Full Report,” diakses 3 November 2026.

Leila Nikniaz, Mahdieh Abbasalizad-Farhangi, Mahdi Vajdi, dan Zeinab Nikniaz, “The Association between Sugars Sweetened Beverages (SSBs) and Lipid Profile among Children and Youth: A Systematic Review and Dose-Response Meta-Analysis of Cross-Sectional Studies,” Pediatric Obesity 16, no. 8 (2021): e12782, https://doi.org/10.1111/ijpo.12782.

Bernadeta Patro-Golab et al., “Current Guidelines on Screening, Diagnosis and Management of Dyslipidaemia in Childhood: A Systematic Review,” Pediatric Research 99 (2026): 1288–1295, https://doi.org/10.1038/s41390-025-04572-2.

Curated For You

Editorial Team

Related Article