Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Campak Bisa Mematikan? Ini Komplikasi Seriusnya
ilustrasi komplikasi campak yang dapat berakibat fatal (IDN Times/NRF)
  • Campak bisa menyerang organ vital serta menyebabkan komplikasi berat yang berpotensi mematikan, terutama pada anak dengan imun lemah atau tanpa vaksinasi.

  • Pneumonia, ensefalitis, dan SSPE menjadi komplikasi paling serius dari campak; dapat menimbulkan kerusakan paru-paru, otak, hingga sistem saraf yang berujung fatal.

  • Diare berat, dehidrasi, dan kebutaan juga dapat muncul akibat infeksi campak. Vaksinasi adalah langkah pencegahan paling efektif melindungi individu dan komunitas.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sering disepelekan karena gejala umumnya demam, ruam, lalu sembuh, tetapi faktanya virus penyebab campak punya kemampuan untuk menyerang berbagai organ dalam tubuh. Dalam kondisi tertentu, infeksi ini bisa berkembang menjadi komplikasi serius yang mengancam nyawa.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), campak masih menjadi salah satu penyebab utama kematian pada anak di dunia, terutama di negara dengan cakupan vaksinasi rendah.

Risikonya tidak cuma terjadi saat infeksi akut. Beberapa komplikasi bahkan muncul setelah pasien tampak pulih atau sembuh. Inilah yang membuat campak menjadi penyakit yang jauh lebih kompleks dan berbahaya dibanding yang sering dipersepsikan.

Yuk waspadai, inilah komplikasi campak yang bisa berakibat fatal.

1. Pneumonia (radang paru-paru)

Pneumonia adalah komplikasi paling umum dan juga penyebab utama kematian akibat campak. Infeksi virus campak dapat merusak lapisan saluran pernapasan, sehingga memudahkan bakteri masuk dan menyebabkan infeksi sekunder.

Pneumonia menyumbang sebagian besar kematian terkait campak, terutama pada anak-anak usia di bawah 5 tahun.

Kerusakan pada paru-paru membuat pertukaran oksigen terganggu. Anak bisa mengalami:

  • Sesak napas.

  • Napas cepat.

  • Penurunan kadar oksigen.

Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal napas yang fatal.

Selain itu, sistem imun yang melemah akibat campak membuat tubuh sulit melawan infeksi tambahan. Ini menjadikan pneumonia pada pasien campak lebih sulit diobati dibanding pneumonia biasa.

2. Ensefalitis (peradangan otak)

ilustrasi anak dirawat inap di rumah sakit akibat komplikasi campak (freepik.com/rawpixel.com)

Ensefalitis adalah komplikasi serius yang terjadi ketika virus menyerang otak. Kondisi ini bisa muncul selama atau setelah infeksi campak.

Menurut penelitian, sekitar 1 dari 1.000 kasus campak dapat berkembang menjadi ensefalitis.

Gejala awal ensefalitis meliputi:

  • Demam tinggi.

  • Sakit kepala.

  • Penurunan kesadaran.

Dalam kasus yang lebih berat, dapat terjadi:

  • Kejang.

  • Koma.

  • Kerusakan otak permanen.

Ensefalitis tidak hanya berisiko menyebabkan kematian, tetapi juga meninggalkan dampak jangka panjang seperti gangguan kognitif dan motorik. Bahkan pada pasien yang selamat, kualitas hidup bisa sangat terdampak.

3. Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE)

SSPE adalah komplikasi langka, tetapi sangat fatal. Kondisi ini muncul bertahun-tahun setelah infeksi campak, biasanya pada anak yang terinfeksi saat usia dini.

Virus campak yang “tersembunyi” di otak dapat aktif kembali dan menyebabkan kerusakan progresif pada sistem saraf. Menurut studi, risiko SSPE lebih tinggi pada anak yang terkena campak sebelum usia 1 tahun.

Gejalanya berkembang perlahan, yang dapat meliputi:

  • Perubahan perilaku.

  • Penurunan kemampuan belajar.

  • Gangguan gerakan.

Seiring waktu, dapat terjadi kejang, hilangnya fungsi motorik, hingga kematian.

Hingga saat ini, belum ada pengobatan yang benar-benar efektif untuk SSPE. Hampir semua kasus berakhir fatal.

4. Diare berat dan dehidrasi

ilustrasi anak dirawat di rumah sakit akibat komplikasi campak (freepik.com/lifeforstock)

Campak juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem pencernaan. Diare berat adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi, terutama di negara berkembang.

WHO mencatat, diare pada pasien campak dapat menyebabkan dehidrasi berat, yang berkontribusi pada angka kematian.

Diare membuat tubuh kehilangan cairan dan elektrolit penting. Pada anak kecil, kondisi ini bisa berkembang dengan cepat menjadi:

  • Dehidrasi.

  • Syok.

  • Gangguan organ.

Selain itu, kombinasi antara diare dan penurunan nafsu makan membuat tubuh makin lemah dan sulit pulih.

5. Kebutaan

Campak dapat menyebabkan kerusakan mata, terutama pada anak dengan kekurangan vitamin A. Infeksi dapat memicu:

Menurut WHO, campak merupakan salah satu penyebab utama kebutaan pada anak di beberapa wilayah dunia. Ini terjadi karena virus melemahkan sistem imun dan memperburuk defisiensi nutrisi yang sudah ada.

Tanpa penanganan cepat, kerusakan mata bisa menjadi permanen.

Lebih dari ruam dan demam, campak merupakan infeksi virus yang dapat memicu rangkaian komplikasi serius, mulai dari pneumonia hingga kerusakan otak yang fatal. Beberapa komplikasi bahkan muncul lama setelah infeksi awal, membuat dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung.

Pencegahan adalah kunci. Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk melindungi individu dan komunitas dari risiko campak dan komplikasinya.

Referensi

Diane E. Griffin, Wen-Hsuan Lin, and Chien-Hsiung Pan, “Measles Virus, Immune Control, and Persistence,” FEMS Microbiology Reviews 36, no. 3 (February 8, 2012): 649–62, https://doi.org/10.1111/j.1574-6976.2012.00330.x.

Diane E. Griffin, “Measles Virus‐induced Suppression of Immune Responses,” Immunological Reviews 236, no. 1 (June 15, 2010): 176–89, https://doi.org/10.1111/j.1600-065x.2010.00925.x.

William J Moss and Diane E Griffin, “Measles,” The Lancet 379, no. 9811 (October 4, 2011): 153–64, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(10)62352-5.

World Health Organization. “Measles.” Diakses April 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Measles Complications.” Diakses April 2026.

Editorial Team