Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Benarkah Makan Daging Kambing Picu Hipertensi? Ini Faktanya

Benarkah Makan Daging Kambing Picu Hipertensi? Ini Faktanya
ilustrasi makan sate daging kambing (magnific.com/stockking)
Intinya Sih
  • Daging kambing tidak otomatis menyebabkan hipertensi. Tekanan darah lebih dipengaruhi oleh konsumsi garam, lemak, dan pola makan jangka panjang.

  • Kandungan lemak daging kambing bisa lebih rendah dari sapi, namun cara pengolahan seperti penggunaan santan atau pembakaran berlebihan memengaruhi dampaknya bagi kesehatan.

  • Bagi orang dengan hipertensi, kunci utamanya adalah mengatur porsi, membatasi garam serta lemak, dan menjaga keseimbangan pola makan serta gaya hidup secara keseluruhan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Daging adalah sumber protein yang sangat baik. Selain mengandung protein, daging juga memiliki kandungan zat besi yang penting untuk pembentukan hemoglobin pada sel darah merah. 

Di Indonesia, ada berbagai menu olahan daging baik yang berasal dari daging sapi maupun daging kambing. Namun, menu makanan berbahan daging kambing kerap dihindari oleh beberapa orang karena dianggap dapat meningkatkan tekanan darah. Benarkah makan daging kambing memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi?

Jangan percaya mitos, cek penjelasannya di bawah ini!

1. Daging kambing tidak secara langsung menaikkan tekanan darah

Tidak ada bukti ilmiah bahwa makan daging kambing otomatis menyebabkan lonjakan tekanan darah mendadak pada semua orang.

Hipertensi adalah kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh konsumsi garam, berat badan, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, stres, kualitas tidur, faktor genetik, hingga pola makan jangka panjang.

Masalahnya, daging kambing sering dikonsumsi dalam bentuk makanan yang tinggi natrium dan lemak, seperti sate dengan banyak kecap, gulai santan, atau olahan yang sangat asin. Kombinasi inilah yang lebih berpotensi memengaruhi tekanan darah dibanding daging kambingnya.

Selain itu, banyak orang makan olahan daging kambing dalam jumlah banyak, terutama saat Idul Adha. Tubuh akhirnya lemak, garam, dan kalori yang tinggi dalam waktu singkat.

2. Kandungan lemak daging kambing ternyata tidak selalu lebih tinggi

Tangan seseorang sedang memotong daging kambing segar di atas talenan kayu menggunakan pisau tajam untuk persiapan memasak.
ilustrasi seseorang memotong daging kambing, siap mengolahnya (unsplash.com/Usman Yousaf)

Anggapan bahwa daging kambing lebih "jahat" dibanding daging lain rasanya tak pernah hilang. Padahal, menurut beberapa penelitian, kandungan lemak daging kambing bisa lebih rendah dibanding beberapa jenis daging merah lain, tergantung potongan dan cara pengolahannya.

Daging kambing relatif lebih rendah total lemak dibanding beberapa potongan daging sapi. Daging kambing juga mengandung protein, zat besi, vitamin B12, zink, dan asam amino penting. Namun, cara memasaknya tetap sangat menentukan dampaknya bagi kesehatan.

Daging yang dibakar terlalu gosong, dimasak dengan banyak santan, atau dikonsumsi bersama makanan ultraproses tinggi natrium tetap dapat meningkatkan risiko pada kesehatan kardiovaskular.

3. Garam dan lemak menjadi faktor yang lebih berpengaruh

Konsumsi natrium berlebihan memiliki hubungan kuat dengan peningkatan tekanan darah.

Daging kambing sering kali diolah dengan tambahan banyak garam, kecap, penyedap, dan lemak.

Pada orang yang sensitif terhadap natrium, tekanan darah bisa naik setelah makan makanan yang sangat asin, apa pun jenis dagingnya.

Lemak jenuh juga berperan dalam kesehatan pembuluh darah jangka panjang. Jika dikonsumsi terus-terusan dikonsumsi, pola makan tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung, stroke, dan gangguan metabolik.

Penelitian menunjukkan pola makan tinggi daging merah olahan dan natrium berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.

4. Kenapa ada orang yang merasa tekanan darahnya langsung naik setelah makan daging kambing?

Semangkuk gulai kambing khas dengan kuah santan berwarna kuning kemerahan, potongan daging dan tulang kambing, serta taburan bawang goreng.
ilustrasi gulai kambing (pexels.com/fey wardhani)

Beberapa orang merasa wajah memerah, tengkuk berat, atau pusing setelah makan sate kambing, dan ini sering langsung dianggap sebagai darah tinggi, padahal tidak juga.

Beberapa faktor lain juga bisa memicu keluhan serupa, seperti:

  • Makan terlalu banyak.
  • Makanan sangat asin.
  • Kurang minum.
  • Konsumsi alkohol.
  • Efek panas dari rempah dan metabolisme tubuh setelah makan berat.

Satu-satunya cara memastikan tekanan darah benar-benar naik adalah dengan penggunaan tensimeter.

Menariknya, penelitian menunjukkan banyak orang tidak menyadari dirinya memang sudah memiliki hipertensi sebelumnya. Akibatnya, daging kambing sering dijadikan tersangka utama, padahal tekanan darah memang sudah tinggii

5. Apakah orang dengan hipertensi masih bisa makan daging kambing?

Bukan harus sepenuhnya pantang, tetapi bagi orang dengan hipertensi yang penting adalah lebih bijak dalam mengatur porsi dan cara makan.

Beberapa hal yang dapat membantu:

  • Pilih potongan daging lebih rendah lemak.
  • Batasi kuah santan pekat.
  • Kurangi tambahan garam dan kecap.
  • Perbanyak sayur dan serat.
  • Hindari makan berlebihan sekaligus.
  • Cukup minum air.

Metode memasak juga penting. Memanggang ringan, merebus, atau menggunakan bumbu alami cenderung lebih baik dibanding menggoreng atau membakar hingga gosong. Selain itu, keseimbangan pola makan secara keseluruhan jauh lebih penting dibanding satu jenis makanan saja.

6. Tubuh tidak hanya "mengingat" satu kali makan

Seorang perempuan menerima kopi dan wafel dengan buah segar dari penjual di kios makanan jalanan yang dipenuhi berbagai bahan dan saus.
ilustrasi membeli makanan favorit (pexels.com/MART PRODUCTION)

Perlu diingat bahwa hipertensi adalah tekanan darah lebih dipengaruhi kebiasaan jangka panjang dibanding satu kali makan. Masalah muncul ketika pola makan kamu sehari-harinya tinggi garam, lemak jenuh, gula, dan rendah serat terjadi terus-menerus.

Kurang tidur, stres kronis, obesitas, dan minim aktivitas fisik juga sangat berperan dalam perkembangan hipertensi. Jadi, tidak bisa cuma menyalahkan daging kambing.

Yang perlu kamu waspadai adalah pola makan. Idul Adha sering membuat pola makan berubah drastis. Kalau kamu biasanya menu makannya seimbang lalu mendadak banyak makan daging, makanan tinggi lemak, minum sayur, dan porsinya besar atau sering, ini bisa membuat tubuh terasa lebih berat, haus, kembung, atau tidak nyaman.

Bagi orang dengan hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, atau penyakit jantung, perubahan pola makan mendadak seperti ini memang bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Karena itu, fokus utamanya bukan menghindari daging kambing, tetapi lebih memahami bagaimana tubuh merespons keseluruhan pola makan dan gaya hidup.

Referensi

United States Department of Agriculture (USDA). “Goat, Raw, Cooked Nutrient Profile.” Diakses Mei 2026.

Paul K. Whelton et al., “Sodium, Blood Pressure, and Cardiovascular Disease,” Circulation 126, no. 24 (November 3, 2012): 2880–89, https://doi.org/10.1161/cir.0b013e318279acbf.

Wei Li et al., “Thymidine Phosphorylase Participates in Platelet Signaling and Promotes Thrombosis,” Bristol Research (University of Bristol), March 3, 2015, https://doi.org/10.1161/circresaha.

Lawrence J. Appel et al., “A Clinical Trial of the Effects of Dietary Patterns on Blood Pressure,” New England Journal of Medicine 336, no. 16 (April 17, 1997): 1117–24, https://doi.org/10.1056/nejm199704173361601.

Daniel a Quintana Pacheco et al., “Red Meat Consumption and Risk of Cardiovascular Diseases—is Increased Iron Load a Possible Link?,” American Journal of Clinical Nutrition 107, no. 1 (January 1, 2018): 113–19, https://doi.org/10.1093/ajcn/nqx014.

World Health Organization. “Hypertension.” Diakses Mei 2026.

Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Red Meat and Health.” Diakses Mei 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More