Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sembelit saat Haji Bisa Ganggu Ibadah, Ini Solusinya

Sembelit saat Haji Bisa Ganggu Ibadah, Ini Solusinya
ilustrasi tinja keras karena sembelit (vecteezy.com/bestyy38105321)
Intinya Sih
  • Sembelit sering dialami jemaah haji akibat perubahan pola makan, kurang cairan, stres fisik, dan kebiasaan menahan buang air besar selama aktivitas ibadah yang padat.
  • Lansia dan penderita penyakit tertentu seperti diabetes lebih rentan mengalami sembelit karena faktor usia, obat-obatan, serta gangguan saraf yang memengaruhi gerakan usus.
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga hidrasi, konsumsi makanan tinggi serat, tidak menunda buang air besar, tetap aktif bergerak ringan, dan konsultasi medis bila gejala memburuk.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Selama menjalani ibadah haji, ritme tubuh banyak berubah. Mulai dari perubahan jam makan, kurang istirahat, aktivitas fisik meningkat drastis, dan tubuh terus terpapar cuaca panas dalam waktu lama. Selain bikin cepat lelah, perubahan ini juga bisa berdampak pada pencernaan.

Setelah beberapa hari di Arab Saudi, tak sedikit jemaah yang akhirnya mengalami susah buang air besar. Awalnya mungkin perut rasanya penuh atau buang air besar tidak selancara biasanya. Beberapa hari kemudian, tinja mulai mengeras, perut begah, nafsu makan turun, bahkan ada yang sampai harus mengejan setiap buang air besar.

Pada sebagian lansia, bahkan sembelit juga bisa membuat tubuh terasa makin lemas dan tidak nyaman saat beribadah.

Sembelit ditandai dengan frekuensi buang air besar yang lebih jarang, tinja keras, atau rasa tidak tuntas setelah buang air besar. Dalam situasi haji, kondisi ini sering dipicu oleh kombinasi beberapa faktor.

Table of Content

1. Kenapa sembelit sering terjadi saat haji?

1. Kenapa sembelit sering terjadi saat haji?

Salah satu penyebab tersering sembelit adalah dehidrasi. Cuaca di Arab Saudi bisa sangat panas, dengan suhu yang pada siang hari dapat melebihi 40 derajat Celsius. Tubuh kehilangan banyak cairan lewat keringat, tetapi tidak semua jemaah mengganti cairan tersebut dengan cukup.

Sebagian orang sengaja mengurangi minum agar tidak terlalu sering ke toilet, terutama saat perjalanan panjang atau berada di keramaian. Padahal, kekurangan cairan membuat usus menyerap lebih banyak air dari tinja sehingga tinja menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan. Kurang cairan merupakan salah satu pemicu sembelit yang paling umum karena memengaruhi konsistensi tinja dan pergerakan usus.

Selain dehidrasi, pola makan selama haji juga sering berubah. Banyak jemaah mengonsumsi makanan praktis yang lebih rendah serat dibanding pola makan sehari-hari di rumah. Asupan buah, sayur, dan biji-bijian utuh sering berkurang, sementara makanan tinggi karbohidrat sederhana dan protein justru meningkat.

Serat sebenarnya penting untuk membantu menarik air ke dalam usus dan membuat tinja lebih mudah bergerak. Tanpa cukup serat, pergerakan usus menjadi lebih lambat.

Faktor lain yang sering tidak disadari adalah kebiasaan menahan buang air besar. Jadwal ibadah yang padat, antrean toilet panjang, dan keterbatasan akses kamar mandi membuat sebagian jemaah menunda keinginan buang air besar. Jika kebiasaan ini terus berulang, refleks alami tubuh untuk buang air besar bisa terganggu.

Kurang tidur, stres fisik, dan kelelahan juga ikut memengaruhi sistem pencernaan. Usus sebenarnya sangat sensitif terhadap perubahan ritme tubuh. Ketika tubuh mengalami tekanan fisik dan perubahan rutinitas besar, gerakan usus bisa melambat.

Penelitian menunjukkan perubahan pola hidup, stres perjalanan, dan gangguan hidrasi dapat meningkatkan risiko sembelit, terutama pada lansia dan individu dengan aktivitas fisik berat.

2. Siapa yang lebih rentan mengalami sembelit saat haji?

Sejumlah jemaah haji mengenakan pakaian ihram duduk dan berbincang di ruang tunggu hotel sebelum melaksanakan umrah.
Jemaah haji saat hendak melakukan umrah (Media Center Haji/Rochmanudin)

Tidak semua jemaah mengalami risiko yang sama. Lansia termasuk kelompok paling rentan karena gerakan usus secara alami memang cenderung lebih lambat seiring bertambahnya usia.

Selain itu, banyak jemaah lanjut usia juga mengonsumsi obat-obatan tertentu yang dapat memicu sembelit, seperti suplemen zat besi, obat tekanan darah tertentu, antasida yang mengandung kalsium atau aluminium, serta beberapa obat nyeri.

Penderita diabetes juga lebih berisiko mengalami gangguan pencernaan karena kadar gula darah tinggi dalam jangka panjang dapat memengaruhi saraf yang mengatur gerakan usus.

Kurangnya aktivitas fisik yang teratur sebelum keberangkatan juga dapat membuat tubuh lebih sulit beradaptasi dengan perubahan aktivitas selama haji. Meski jemaah berjalan cukup jauh saat ibadah, kelelahan berat justru kadang membuat tubuh mengalami stres fisik yang memengaruhi sistem cerna.

Jika sembelit dibiarkan terlalu lama, kondisi ini bisa berkembang menjadi komplikasi seperti wasir, fisura ani (luka pada anus), hingga impaksi feses, yaitu tinja yang mengeras dan sulit keluar tanpa bantuan medis.

3. Cara mengatasi dan mencegah sembelit saat haji

Mencegah sembelit saat haji bisa dimulai dari kebiasaan sederhana:

  • Jaga hidrasi. Jemaah harus rutin minum air walaupun tidak merasa haus, terutama saat cuaca panas dan aktivitas padat.
  • Asupan serat juga perlu diperhatikan. Buah, sayur, oatmeal, kacang-kacangan, dan makanan tinggi serat lainnya membantu menjaga tekstur tinja tetap lunak dan mudah dikeluarkan.
  • Jangan menunda buang air besar saat dorongan muncul. Makin sering jemaah mengabaikannya, makin lemah refleks alami usus untuk mengosongkan diri.
  • Aktivitas fisik ringan juga membantu merangsang gerakan usus. Meski tubuh lelah, tetap bergerak ringan dan tidak hanya duduk atau berbaring sepanjang waktu dapat membantu pencernaan tetap aktif.

Jika sembelit mulai muncul, jangan langsung menggunakan obat pencahar sembarangan tanpa konsultasi medis, terutama pada lansia atau orang dengan penyakit tertentu. Penggunaan laksatif yang tidak tepat justru dapat menyebabkan dehidrasi tambahan atau gangguan elektrolit.

Segera cari bantuan medis bila sembelit disertai nyeri perut berat, muntah, tidak bisa kentut, buang air besar berdarah, atau tidak buang air besar sama sekali selama beberapa hari karena ini bisa menandakan gangguan yang lebih serius.

Referensi

American College of Gastroenterology. "Constipation and Defecation Problems." Diakses Mei 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). "Constipation." Diakses Mei 2026.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC). "Hajj and Umrah Health Information." Diakses Mei 2026.

Adil E. Bharucha, John H. Pemberton, and G. Richard Locke, “American Gastroenterological Association Technical Review on Constipation,” Gastroenterology 144, no. 1 (December 19, 2012): 218–38, https://doi.org/10.1053/j.gastro.2012.10.028.

Suzanne M. Mugie, Marc A. Benninga, and Carlo Di Lorenzo, “Epidemiology of Constipation in Children and Adults: A Systematic Review,” Best Practice & Research Clinical Gastroenterology 25, no. 1 (February 1, 2011): 3–18, https://doi.org/10.1016/j.bpg.2010.12.010.

Nicole C Suares and Alexander C Ford, “Prevalence of, and Risk Factors for, Chronic Idiopathic Constipation in the Community: Systematic Review and Meta-analysis,” The American Journal of Gastroenterology 106, no. 9 (May 24, 2011): 1582–91, https://doi.org/10.1038/ajg.2011.164.

Stefan A. Muller-Lissner et al., “Myths and Misconceptions About Chronic Constipation,” The American Journal of Gastroenterology 100, no. 1 (January 1, 2005): 232–42, https://doi.org/10.1111/j.1572-0241.2005.40885.x.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More