Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Makanan dan Minuman Karsinogenik, Salah Satunya Mungkin Favoritmu

5 Makanan dan Minuman Karsinogenik, Salah Satunya Mungkin Favoritmu
Olahan brisket dari daging merah. Daging merah diklasifikasikan sebagai "probably carcinogenic to humans". (unsplash.com/shootwithlou)
Intinya Sih
  • IARC mengklasifikasikan beberapa makanan dan minuman sehari-hari seperti daging olahan, alkohol, dan minuman sangat panas sebagai karsinogen yang dapat meningkatkan risiko kanker dalam kondisi tertentu.
  • Daging merah serta makanan yang diasinkan atau diawetkan berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, terutama kolorektal dan lambung, tergantung pada pola konsumsi jangka panjang.
  • Artikel menekankan pentingnya keseimbangan pola makan dan gaya hidup sehat; bukan menghindari total, tetapi membatasi konsumsi berisiko sambil memperbanyak serat, buah, sayur, dan aktivitas fisik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Mendengar istilah “karsinogenik”, beberapa orang langsung takut dan membayangkan akan sakit kanker, sehingga harus menghilangkannya dari pola makan sehari-hari.

Faktanya, sebuah zat diklasifikasikan sebagai karsinogen (pemicu kanker) karena ada bukti ilmiah zat tersebut meningkatkan risiko kanker dalam kondisi tertentu, tetapi bukan berarti setiap paparan pasti menyebabkan kanker.

Melalui International Agency for Research on Cancer (IARC), badan riset kanker milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), para ilmuwan mengevaluasi ribuan zat, aktivitas, dan paparan berdasarkan bukti ilmiah global. Di antara daftar tersebut, beberapa makanan dan minuman sehari-hari ternyata masuk dalam kategori yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker. Namun, harus diingat bahwa risiko ini sangat dipengaruhi oleh pola konsumsi, jumlah, frekuensi, dan faktor gaya hidup lainnya.

Table of Content

Memahami arti karsinogenik

Memahami arti karsinogenik

Sebelum spill daftar makan dan minuman yang dapat memicu kanker, kamu perlu tahu dulu cara kerja klasifikasi IARC. Kelompok ini tidak menilai seberapa “bahaya” sesuatu dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seberapa kuat bukti ilmiah bahwa suatu paparan dapat menyebabkan kanker pada manusia.

IARC membagi klasifikasi menjadi beberapa kelompok.

Grup 1 berarti ada bukti kuat bahwa paparan tersebut bersifat karsinogenik bagi manusia. Namun, ini tidak otomatis berarti semua paparan memiliki tingkat risiko yang sama.

Sebagai contoh, rokok dan daging olahan sama-sama berada di Grup 1, tetapi dampak risiko absolutnya berbeda.

Dalam konteks makanan, klasifikasi ini bertujuan membantu masyarakat memahami pola konsumsi yang berpotensi meningkatkan risiko jangka panjang. Jadi, tujuannya bukan menakut-nakuti kamu ya, tetapi sebagai bentuk edukasi agar kamu bisa membuat keputusan pola makan yang tepat.

1. Daging olahan

Tumpukan sosis ultraproses berwarna merah kecokelatan dan kentang goreng kuning keemasan di atas piring putih dengan latar biru.
ilustrasi sosis ultraproses dan kentang goreng (pexels.com/jean Trinidad)

Daging olahan adalah salah satu makanan "terpopuler" dalam klasifikasi IARC. Produk seperti sosis, ham, bacon, kornet, nuget, dan daging asap (smoked meat) masuk kategori ini karena melalui proses pengawetan, pengasapan, fermentasi, atau penambahan bahan tertentu untuk meningkatkan rasa dan daya simpan.

Pada tahun 2015, IARC mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen Grup 1 berdasarkan bukti kaitan kuat dengan kanker kolorektal. Menurut analisis dari berbagai studi, konsumsi 50 gram daging olahan per hari dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal sekitar 18 persen.

Bagaimana cara makanan ini bisa menyebabkan kanker cukup kompleks. Proses pengolahan dapat menghasilkan senyawa seperti N-nitroso compounds dan polycyclic aromatic hydrocarbons yang diketahui dapat merusak DNA.

Selain itu, kandungan garam tinggi dan proses pemanasan tertentu juga diyakini berkontribusi terhadap peradangan kronis pada saluran cerna.

Namun, konteks tetap penting. Makan sosis sesekali tidak otomatis membuat kamu kena kanker. Risiko meningkat terutama pada pola konsumsi rutin jangka panjang, terlebih jika diiringi rendahnya asupan serat, kurang aktivitas fisik, dan merokok.

2. Alkohol

Minuman beralkohol termasuk dalam daftar karsinogen Grup 1 IARC dengan bukti kuat terkait beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, hati, kolorektal, mulut, tenggorokan, dan esofagus. Bahkan konsumsi dalam jumlah yang dianggap “sedikit” tetap dikaitkan dengan peningkatan risiko tertentu.

Salah satu faktor utama adalah etanol yang dipecah tubuh menjadi asetaldehida, senyawa toksik yang dapat merusak DNA dan mengganggu proses perbaikan sel.

Selain itu, alkohol juga meningkatkan stres oksidatif dan peradangan kronis yang dapat memicu perkembangan kanker.

Tidak ada tingkat konsumsi alkohol yang benar-benar bebas risiko untuk kanker. Ini menjadi tantangan karena alkohol sering dikaitkan dengan budaya sosial dan dianggap “aman” jika sesekali dinikmati.

Meski demikian, risiko tetap bergantung pada jumlah dan frekuensi konsumsi. Makin tinggi konsumsi alkohol, makin besar pula risiko jangka panjangnya. Kombinasi alkohol dan merokok bahkan dapat meningkatkan risiko kanker mulut dan tenggorokan secara signifikan.

3. Minuman yang sangat panas

Seseorang memegang cangkir teh panas di atas meja kayu dengan teko keramik bergambar dan camilan kacang di sampingnya.
ilustrasi minum teh panas (pexels.com/Gốm sứ Cương Duyên)

IARC mengklasifikasikan konsumsi minuman yang sangat panas, yang suhunya di atas sekitar 65 derajat Celcius, sebagai kemungkinan faktor risiko kanker esofagus.

Suhu ekstrem dapat menyebabkan iritasi dan cedera berulang pada jaringan kerongkongan. Dalam jangka panjang, kerusakan kronis ini dapat memicu perubahan sel yang meningkatkan risiko kanker.

Hal ini sering dikaitkan dengan kebiasaan minum teh atau kopi yang terlalu panas. Bukan masalah jenis minumannya, tetapi menyeduh teh atau kopi dengan air mendidih dan langsung meminumnya berulang kali bisa meningkatkan risiko.

IARC menekankan pentingnya membedakan antara “minuman panas” dan “minuman terlalu panas”. Pendinginan beberapa menit sebelum diminum dapat membantu mengurangi risiko paparan suhu tinggi pada jaringan kerongkongan.

4. Daging merah

Daging sapi, kambing, dan babi diklasifikasikan IARC sebagai karsinogen Grup 2A atau “probably carcinogenic to humans”. Itu artinya ada bukti pada manusia, tetapi belum sekuat daging olahan. Namun, ada indikasi hubungan kuat hubungan dengan kanker tertentu, terutama kolorektal.

Salah satu alasan utamanya adalah kandungan heme iron/zat besi heme yang dapat memicu pembentukan senyawa berpotensi merusak sel di saluran pencernaan.

Proses memasak suhu tinggi seperti membakar atau memanggang juga dapat menghasilkan zat seperti heterocyclic amines dan polycyclic aromatic hydrocarbons.

Namun, daging merah juga mengandung protein, zat besi, dan vitamin B12 yang penting bagi tubuh. Karena itu, para ahli sepakat pendekatan paling bijak adalah membatasi konsumsinya dan mengolahnya secara lebih sehat, bukan menghindarinya sama sekali.

Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor utama. Konsumsi daging merah dalam jumlah sedang bersama sayur, buah, dan serat tinggi memiliki profil risiko yang berbeda dibanding pola makan ultraproses dalam jumlah tinggi.

5. Makanan yang diasinkan dan diawetkan secara berlebihan

Beberapa ikan asin berwarna cokelat tergantung dengan tali merah di area luar ruangan dengan latar belakang buram.
ilustrasi ikan asin (pexels.com/cottonbro studio)

Makanan dengan kadar garam tinggi atau pengawetan tradisional tertentu dapat meningkatkan risiko kanker lambung, menurut penelitian. Contohnya ikan asin tradisional (Chinese-style/Cantonese-style), acar dengan kadar garam tinggi, atau makanan yang diawetkan dalam waktu lama.

Garam berlebih dapat merusak lapisan pelindung lambung dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi Helicobacter pylori, salah satu faktor risiko utama kanker lambung. Proses fermentasi atau pengawetan tertentu juga dapat menghasilkan senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogenik.

Risiko ini terutama ditemukan pada populasi dengan konsumsi makanan asin tinggi secara terus-menerus. Faktor lain seperti rendahnya konsumsi buah dan sayur segar juga memperbesar dampaknya.

Karena itu, WHO merekomendasikan pembatasan konsumsi garam harian dan peningkatan pola makan segar sebagai bagian dari strategi pencegahan kanker.

Apakah harus menghindari makanan dan minuman di atas?

Daftar karsinogenik sering disalahartikan sebagai daftar makanan terlarang, padahal fokus utamanya adalah pola konsumsi jangka panjang, bukan satu kali makan.

Risiko kanker berkembang melalui kombinasi banyak faktor, seperti genetik, pola makan, aktivitas fisik, merokok, alkohol, kualitas tidur, hingga paparan lingkungan. Tidak ada satu makanan tunggal yang menjadi penyebab mutlak kanker.

Yang lebih realistis adalah pembatasan secara bijak. Mengurangi konsumsi makanan ultraproses, membatasi alkohol atau tidak minum sama sekali, memperbanyak asupan serat, serta menjaga pola hidup aktif dampaknya jauh lebih besar daripada takut pada satu atau dua jenis makanan tertentu.

Adanya klasifikasi karsinogenik dari IARC membantu kita memahami hubungan antara pola makan dan risiko kanker berdasarkan bukti ilmiah. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tetapi lebih pada memberi konteks tentang bagaimana pola makan yang dilakukan terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.

Langkah terbaik bukan eliminasi ekstrem, tetapi membangun pola makan yang lebih seimbang, mindful, dan beragam, serta didukung dengan kebiasaan sehat lainnya.

Referensi

International Agency for Research on Cancer. “IARC Monographs on the Evaluation of Carcinogenic Risks to Humans.” Diakses Mei 2026.

Véronique Bouvard et al., “Carcinogenicity of Consumption of Red and Processed Meat,” The Lancet Oncology 16, no. 16 (October 30, 2015): 1599–1600, https://doi.org/10.1016/s1470-2045(15)00444-1.

International Agency for Research on Cancer. “Alcohol Consumption and Ethyl Carbamate.” https://monographs.iarc.who.int

World Health Organization. “Alcohol and Cancer.” Diakses Mei 2026.

Harriet Rumgay et al., “Global Burden of Cancer in 2020 Attributable to Alcohol Consumption: A Population-based Study,” The Lancet Oncology 22, no. 8 (July 30, 2021): 1071–80, https://doi.org/10.1016/s1470-2045(21)00279-5.

“Drinking Coffee, Mate, and Very Hot Beverages,” PubMed, 2018, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/31310458/.

Amanda J. Cross et al., “A Large Prospective Study of Meat Consumption and Colorectal Cancer Risk: An Investigation of Potential Mechanisms Underlying This Association,” Cancer Research 70, no. 6 (March 10, 2010): 2406–14, https://doi.org/10.1158/0008-5472.can-09-3929.

World Cancer Research Fund International. “Diet, Nutrition, Physical Activity and Stomach Cancer.” Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nena Zakiah
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Related Articles

See More