Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Risiko Heat Rash atau Biang Keringat saat Haji

Risiko Heat Rash atau Biang Keringat saat Haji
Jemaah haji usai melempar jumrah di Mina (IDN Times/Sunariyah)
Intinya Sih
  • Biang keringat umum dialami jemaah haji akibat cuaca panas ekstrem, aktivitas padat, dan pakaian yang menempel di kulit sehingga memicu ruam kemerahan dan rasa gatal.

  • Kelompok rentan seperti lansia, jemaah yang obesitas, serta jemaah dengan penyakit kronis lebih mudah terkena gangguan kulit karena mekanisme pendinginan tubuh mereka kurang efisien.

  • Pencegahan dilakukan dengan memakai pakaian berbahan katun, menjaga hidrasi, menggunakan pelindung dari sinar matahari, serta rutin membersihkan tubuh dan mengganti pakaian basah oleh keringat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di tengah teriknya matahari Tanah Suci, seorang jemaah haji tampak beberapa kali mengusap leher dan punggungnya yang terasa perih dan gatal. Keringat yang terus mengalir, ditambah pakaian yang menempel di kulit, perlahan memicu munculnya ruam kemerahan yang membuatnya tak nyaman.

Kondisi tersebut merupakan tanda heat rash atau biang keringat, masalah kulit yang kerap dialami jemaah di tengah cuaca panas ekstrem dan aktivitas padat selama ibadah haji. Adanya risiko biang keringat menunjukkan bahwa menjaga kesehatan kulit sama pentingnya dengan menjaga stamina selama melakukan rangkaian ibadah haji.

Table of Content

Apa itu biang keringat?

Apa itu biang keringat?

Biang keringat terjadi ketika saluran kelenjar keringat tersumbat, sehingga keringat terperangkap di bawah kulit dan memicu peradangan. Dalam konteks haji, risiko ini meningkat drastis akibat kombinasi cuaca panas, aktivitas fisik yang intens (seperti tawaf dan sai), serta kerumunan massa yang membatasi sirkulasi udara.

​Beberapa kelompok jemaah lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat panas (heat-related illness), termasuk biang keringat:

  • Lansia dan obesitas: Jemaah dengan berat badan berlebih atau usia lanjut sering kali memiliki mekanisme termoregulasi yang kurang efisien.
  • ​Kondisi kronis: Jemaah dengan penyakit penyerta atau yang mengonsumsi obat-obatan tertentu yang mengganggu produksi keringat.
  • Ritual saat terik: Melakukan prosesi haji di luar ruangan pada siang hari meningkatkan paparan suhu ekstrem secara signifikan.
  • ​Pakaian dan higienitas: Penggunaan kain ihram bagi laki-laki atau pakaian tertutup bagi perempuan, ditambah keringat berlebih tanpa rutin ganti dapat mempercepat penyumbatan pori.

Masalah kulit merupakan salah satu alasan jemaah mencari bantuan medis

Kulit dada dengan ruam merah kecil akibat biang keringat atau miliaria yang tampak merata di area berambut dan sekitarnya.
ilustrasi miliaria atau biang keringat (commons.wikimedia.org/Jurfeld)

Masalah kulit merupakan salah satu alasan utama jemaah haji mencari bantuan medis. Sebuah studi mencatat bahwa eksim dan intertrigo (ruam pada lipatan kulit yang mirip biang keringat) mendominasi kasus dermatologi selama musim haji.

​Meskipun kasus berat dapat ditekan hingga 74 persen melalui strategi mitigasi yang tepat, tetapi risiko tetap ada seiring meningkatnya suhu global. Data longitudinal selama 40 tahun menunjukkan korelasi kuat antara kenaikan suhu wet-bulb dengan insiden kelelahan akibat panas (heat exhaustion), di mana biang keringat sering menjadi gejala klinis penyertanya.

Catatan: suhu wet‑bulb adalah ukuran gabungan suhu dan kelembapan yang menunjukkan seberapa baik tubuh bisa mendinginkan diri lewat keringat. Makin tinggi wet‑bulb, makin sulit keringat menguap, sehingga tubuh susah menurunkan panas dan risiko kelelahan atau serangan panas meningkat.

Langkah yang direkomendasikan

Jemaah disarankan segera mencari tempat teduh jika mengalami gejala berikut ini:

  • ​Bintil-bintil kecil kemerahan pada area lipatan (leher, ketiak, selangkangan, atau bawah payudara).
  • ​Sensasi gatal yang disertai rasa seperti tertusuk jarum.
  • ​Pembengkakan ringan pada area yang terdampak.

​Untuk meminimalkan risiko biang keringat saat menjalankan rukun haji, ini langkah-langkah yang direkomendasikan:

  • Pemilihan bahan pakaian. Gunakan bahan katun yang ringan dan menyerap keringat. Bagi jemaah laki-laki, pastikan area kulit yang tertutup kain ihram tetap terjaga kebersihannya.
  • Jaga hidrasi tubuh. Jangan menunggu haus untuk minum, konsumsilah air putih secara berkala dalam jumlah yang cukup untuk membantu tubuh mendinginkan diri secara alami.
  • ​Manfaatkan alat pelindung. Payung berwarna terang sangat efektif untuk memantulkan sinar matahari langsung.
  • Perhatikan kebersihan kulit. Setelah melakukan aktivitas luar ruangan yang berat, usahakan untuk segera membersihkan tubuh dan mengganti pakaian yang basah oleh keringat. Hindari penggunaan bedak atau krim yang terlalu berminyak di area lipatan kulit, karena produk-produk tersebut justru berisiko menyumbat saluran keringat lebih jauh.

Biang keringat memang tidak berbahaya, tetapi kalau dibiarkan bisa bikin jemaah tidak nyaman selama beribadah dan memicu infeksi kulit sekunder. Dengan menjaga kebersihan tubuh, memilih pakaian yang tepat, serta mengelola paparan panas, risiko biang keringat saat haji dapat diminimalkan.

Referensi

Yezli, Saber. “Risk Factors for Heat-related Illnesses During the Hajj Mass Gathering: An Expert Review.” Reviews on Environmental Health 38, no. 1 (October 29, 2021): 33–43.

Yezli, Saber. “Escalating Climate-related Health Risks for Hajj Pilgrims to Mecca.” Journal of Travel Medicine 31, no. 4 (March 8, 2024).

Fatani, Mohamad Ibrahim, Khalid Abdullah Al‐Afif, and Hameed Hussain. “Pattern of Skin Diseases Among Pilgrims During Hajj Season in Makkah, Saudi Arabia.” International Journal of Dermatology 39, no. 7 (July 1, 2000): 493–96.

"Stay Healthy During Hajj". Johns Hopkins Aramco Healthcare. Diakses Mei 2026.

"Miliaria". National Library of Medicine. Diakses Mei 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Related Articles

See More