Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Mengapa Penyakit Parkinson Lebih Sering Menyerang Laki-laki?

Mengapa Penyakit Parkinson Lebih Sering Menyerang Laki-laki?
ilustrasi pasien penyakit Parkinson (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Penelitian global menunjukkan laki-laki memiliki risiko 1,5–2 kali lebih tinggi terkena Parkinson dibanding perempuan, dengan gejala sering muncul lebih awal dan lebih berat.
  • Perbedaan hormon estrogen pada perempuan memberi perlindungan alami terhadap kerusakan sel saraf dopamin, sementara faktor genetik dan imun memperkuat risiko pada laki-laki.
  • Laki-laki lebih sering terpapar pestisida, cedera kepala, dan racun lingkungan yang dapat merusak mitokondria sel saraf serta meningkatkan kemungkinan degenerasi otak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Penyakit Parkinson adalah salah satu gangguan saraf degeneratif yang cukup umum terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini memengaruhi sistem saraf yang mengatur gerakan tubuh sehingga penderitanya dapat mengalami tremor, kekakuan otot, hingga gangguan keseimbangan. Menariknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyakit Parkinson lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan. 

Secara global, laki-laki memiliki risiko sekitar 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini. Para ilmuwan pun mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Ternyata, ada beberapa faktor yang diduga berperan, mulai dari perbedaan hormon hingga paparan lingkungan. Berikut beberapa penjelasan ilmiah mengenai mengapa penyakit Parkinson lebih sering menyerang laki-laki.

Table of Content

1. Perbedaan angka kejadian antara laki-laki dan perempuan

1. Perbedaan angka kejadian antara laki-laki dan perempuan

Data epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit Parkinson memang lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Beberapa penelitian bahkan mencatat rasio laki-laki dan perempuan yang cukup berbeda, yaitu sekitar 1,37 hingga 3,7 banding 1.

Sebuah penelitian besar di Prancis yang melibatkan hampir 150.000 kasus menemukan bahwa prevalensi penyakit Parkinson mencapai 2,865 per 1.000 laki-laki, sementara pada perempuan hanya sekitar 1,934 per 1.000 orang. Artinya, jumlah penderita laki-laki hampir 1,5 kali lebih banyak dibandingkan perempuan (Journal of Neurology Neurosurgery & Psychiatry, 2015).

Perbedaan ini juga makin terlihat seiring bertambahnya usia. Selain itu, laki-laki biasanya mengalami gejala penyakit Parkinson sedikit lebih awal dibandingkan perempuan. Sebaliknya, perempuan sering mengalami keterlambatan diagnosis karena gejalanya kadang muncul lebih ringan di tahap awal.

2. Faktor genetik dan sistem imun

Laki-laki dengan penyakit Parkinson memiliki peningkatan besar pada sel imun tertentu yang disebut sel T spesifik PINK1. Sel imun ini menyerang protein PINK1, yaitu protein yang penting untuk menjaga kesehatan mitokondria, yaitu struktur sel yang berfungsi menghasilkan energi.

Pada laki-laki dengan penyakit Parkinson, jumlah sel T yang menyerang PINK1 meningkat hingga enam kali lipat dibandingkan laki-laki sehat. Sementara itu, peningkatan pada perempuan sangat kecil, hanya sekitar 0,7 kali. Serangan sel imun terhadap protein ini diduga dapat mempercepat kerusakan sel saraf di otak.

Selain itu, faktor genetik tertentu juga dapat memperbesar risiko penyakit Parkinson, terutama jika berinteraksi dengan perbedaan sistem imun antara laki-laki dan perempuan.

3. Perlindungan hormon estrogen pada perempuan

Ilustrasi pasien penyakit Parkinson.
ilustrasi pasien penyakit Parkinson (freepik.com/freepik)

Salah satu penjelasan paling kuat mengenai perbedaan risiko penyakit Parkinson adalah pengaruh hormon. Perempuan memiliki hormon estrogen, yang diketahui dapat membantu melindungi sel saraf penghasil dopamin di otak. Sel-sel ini berada di jalur nigrostriatal, yaitu bagian otak yang sangat penting untuk mengatur gerakan tubuh.

Estrogen membantu menjaga kesehatan neuron dopamin sehingga proses degenerasi dapat terjadi lebih lambat. Karena itu, perempuan cenderung memiliki perlindungan alami terhadap penyakit Parkinson selama masa reproduksi.

Namun, setelah menopause, kadar estrogen menurun cukup drastis. Pada fase ini, risiko penyakit Parkinson pada perempuan mulai meningkat dan perlahan mendekati risiko yang dimiliki laki-laki.

4. Paparan lingkungan yang lebih tinggi pada laki-laki

Selain faktor biologis, gaya hidup dan lingkungan juga berperan penting. Paparan pestisida berkaitan dengan sekitar 36 persen kasus penyakit Parkinson. Pekerjaan yang melibatkan bahan kimia tersebut, seperti pertanian atau berkebun intensif, lebih sering dilakukan oleh laki-laki, sehingga meningkatkan risiko mereka.

Selain itu, cedera otak traumatis juga diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit Parkinson. Sekitar 16 persen pasien penyakit Parkinson pernah mengalami cedera kepala sebelumnya. Kondisi ini lebih sering dialami laki-laki karena aktivitas seperti olahraga kontak, pekerjaan fisik berat, atau kecelakaan.

Paparan racun lingkungan juga dapat merusak mitokondria sel saraf. Jika kerusakan ini terjadi terus-menerus, risiko degenerasi saraf bisa meningkat.

5. Perbedaan gejala antara laki-laki dan perempuan

Tidak hanya risiko yang berbeda, penyakit Parkinson juga sering menunjukkan pola gejala yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki biasanya mengalami gejala motorik yang lebih berat, seperti tremor yang lebih jelas, gangguan berjalan, serta masalah keseimbangan. Mereka juga lebih sering mengalami gangguan kognitif yang berkaitan dengan perhatian dan memori.

Selain itu, beberapa gejala lain, seperti air liur berlebihan, gangguan kontrol impuls, perjudian kompulsif, atau perilaku hiperseksual juga lebih sering ditemukan pada laki-laki. Sebaliknya, perempuan sering mengalami gejala non motorik yang lebih menonjol, seperti depresi atau gangguan suasana hati. Mereka juga biasanya mengalami onset penyakit sekitar dua tahun lebih lambat dibandingkan laki-laki.

Memahami perbedaan ini bukan hanya penting bagi dunia medis, tetapi juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang faktor risiko penyakit Parkinson. Dengan penelitian yang terus berkembang, diharapkan ke depan akan muncul strategi pencegahan dan pengobatan yang lebih tepat sasaran bagi laki-laki maupun perempuan.

Referensi

Frédéric Moisan et al., “Parkinson Disease Male-to-female Ratios Increase With Age: French Nationwide Study and Meta-analysis,” Journal of Neurology Neurosurgery & Psychiatry 87, no. 9 (December 23, 2015): 952–57, https://doi.org/10.1136/jnnp-2015-312283.

"Men and Parkinson’s Disease." Parkinson's NSW. Diakses pada April 2026.

"Men Have Higher Risk of Parkinson's, And We May Finally Know Why." Science Alert. Diakses pada April 2026.

"Largest Ever Parkinson’s Study Shows How Symptoms Differ between Men and Women." The Conversation. Diakses pada April 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More