Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hipertensi Bikin Mudah Marah atau Marah-marah Picu Hipertensi?

Hipertensi Bikin Mudah Marah atau Marah-marah Picu Hipertensi?
ilustrasi marah-marah (pexels.com/Andrea Piacquadio)
  • Marah dapat menaikkan tekanan darah untuk sementara melalui respons stres tubuh.

  • Pola amarah dan permusuhan yang terus berulang dikaitkan dengan risiko hipertensi, tetapi bukan penyebab tunggal.

  • Hipertensi umumnya tidak menimbulkan gejala dan belum terbukti secara langsung membuat seseorang mudah marah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Suara meninggi, napas menjadi lebih cepat, dan dada terasa berdebar. Saat tekanan darah diperiksa tak lama setelah konflik tertentu, angkanya ternyata melonjak.

Kondisi tersebut kerap memunculkan pertanyaan, apakah tekanan darah naik karena marah, atau hipertensi yang membuat emosi sulit dikendalikan?

  1. Apa yang terjadi pada tubuh saat marah?

    Ketika seseorang marah, tubuh mengaktifkan respons “lawan atau lari”. Hormon stres dilepaskan, jantung berdetak lebih cepat, dan pembuluh darah menyempit. Perubahan tersebut membuat tekanan darah naik sesaat. Setelah emosi mereda, tekanan darah biasanya kembali mendekati kondisi sebelumnya.

    Penelitian dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences menganalisis lebih dari 180.000 laporan emosi dan pengukuran tubuh dari 11.650 orang. Dalam keseharian peserta, emosi negatif berintensitas tinggi, termasuk marah, berkaitan dengan peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.

    Artinya, hasil tensimeter yang tinggi ketika seseorang sedang marah belum otomatis menandakan hipertensi. Diagnosis hipertensi memerlukan pengukuran berulang dalam kondisi yang benar.

  2. Kalau sering marah, apakah bisa menjadi hipertensi?

    Walaupun sering marah tidak langsung menyebabkan hipertensi, tetapi tubuh yang berulang kali mengalami respons stres dapat lebih sering mengalami lonjakan tekanan darah.

    Amarah juga bisa disertai kebiasaan yang ikut meningkatkan risiko, seperti kurang tidur, merokok, minum alkohol berlebihan, atau makan secara tidak teratur.

    Sebuah studi mengikuti 3.308 orang dewasa muda selama hingga 15 tahun. Peserta dengan tingkat permusuhan serta rasa tidak sabar atau terburu-buru yang lebih tinggi memiliki risiko lebih besar mengalami hipertensi. Hubungannya membentuk pola bertingkat, bahwa makin tinggi karakteristik tersebut, makin tinggi pula risikonya.

    Meski demikian, penelitian observasional seperti itu hanya menunjukkan keterkaitan, bukan membuktikan bahwa amarah merupakan penyebab langsung.

    Hipertensi berkembang melalui gabungan banyak faktor, termasuk riwayat keluarga, usia, asupan garam, berat badan, aktivitas fisik, kualitas tidur, penyakit tertentu, dan kondisi lingkungan.

  3. Apakah hipertensi membuat orang mudah marah?

    Seorang perempuan muda berambut panjang mengenakan kaus putih tampak marah sambil berteriak di dalam ruangan.
    ilustrasi marah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

    Hipertensi tanpa komplikasi biasanya tidak memiliki tanda atau gejala. Banyak orang tetap merasa sehat meskipun tekanan darahnya tinggi. Mudah marah juga tidak termasuk gejala yang dapat dipakai untuk mengenali hipertensi.

    Jika seseorang dengan hipertensi menjadi lebih mudah tersinggung, penyebab lain tetap perlu dipertimbangkan, misalnya stres berkepanjangan, gangguan tidur, kecemasan, depresi, konsumsi alkohol, efek obat tertentu, atau beban psikologis setelah menerima diagnosis penyakit.

    Karena itu, perilaku mudah marah tidak boleh langsung dianggap sebagai akibat tekanan darah tinggi. Begitu pula sebaliknya, seseorang yang tenang belum tentu memiliki tekanan darah normal.

  4. Jangan mengukur tekanan darah saat emosi masih memuncak

    Jika ingin memeriksa ulang tekanan darah setelah marah, tunggu sampai kamu merasa lebih tenang.

    Duduk dengan punggung tersangga setidaknya selama 5 menit, letakkan kedua kaki di lantai, jangan berbicara selama pemeriksaan, lalu lakukan sedikitnya dua pengukuran dengan jarak 1 hingga 2 menit.

    Catat hasilnya pada beberapa kesempatan.

    Apabila tekanan darah terus tinggi meski diukur dalam keadaan tenang, konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Mengelola amarah dan stres dapat mendukung kesehatan jantung, tetapi tidak menggantikan pola hidup sehat maupun obat hipertensi yang telah diresepkan.

    Referensi

    American Heart Association, “Managing Stress to Control High Blood Pressure,” diakses September 2026.

    Amie M. Gordon and Wendy Berry Mendes, “A Large-Scale Study of Stress, Emotions, and Blood Pressure in Daily Life Using a Digital Platform,” Proceedings of the National Academy of Sciences 118, no. 31 (2021): e2105573118, https://doi.org/10.1073/pnas.2105573118.

    Lijing L. Yan et al., “Psychosocial Factors and Risk of Hypertension: The Coronary Artery Risk Development in Young Adults (CARDIA) Study,” JAMA 290, no. 16 (2003): 2138–48, https://doi.org/10.1001/jama.290.16.2138.

    Centers for Disease Control and Prevention, “About High Blood Pressure,” diakses September 2026.

    Centers for Disease Control and Prevention, “Measuring Your Blood Pressure,” diakses September 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More