Bagi pasien dengan GERD yang kondisinya terkontrol, puasa Ramadan tetap dapat dijalani dengan nyaman dengan beberapa langkah ini:
Mulailah dengan makanan ringan seperti air putih, kurma, atau sup hangat sebelum mengonsumsi makanan utama.
Batasi makanan berlemak tinggi, gorengan, makanan sangat pedas, cokelat, minuman berkafein, dan minuman bersoda.
Hindari makan dalam jumlah besar sekaligus karena dapat meningkatkan tekanan dalam lambung.
Berikan jarak sekitar 2–3 jam antara makan malam dan waktu tidur.
Makanan dengan karbohidrat kompleks, protein, dan serat dapat membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.
Bagi pasien yang minum obat seperti proton pump inhibitor (PPI), waktu konsumsi obat dapat disesuaikan dengan waktu sahur atau berbuka sesuai rekomendasi dokter.
Anggapan bahwa orang dengan masalah asam lambung tidak boleh berpuasa tidak sepenuhnya benar. Pada pasien GERD ringan hingga sedang yang kondisinya terkontrol, puasa justru dapat dikaitkan dengan perbaikan gejala pada sebagian kasus.
Namun, keputusan untuk berpuasa tetap perlu mempertimbangkan kondisi klinis masing-masing individu. Dengan pengaturan pola makan yang tepat dan kondisi penyakit yang terkontrol, banyak pasien GERD tetap dapat menjalani puasa Ramadan dengan aman dan nyaman.
Referensi
Mardhiyah R, Radhiyatam, Makmun D, Syam AF, Setiati S. "The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease." Acta Med Indones. 2016;48(3):169–174.
Bohamad AH, Aladhab WA, Alhashem SS, et al. "Impact of Ramadan Fasting on the Severity of Symptoms among a Cohort of Patients with GERD." Cureus. 2023.
Rahimi, Hojjatolah and Najmeh Tavakol. “Effects of Ramadan Fasting on the Symptoms of Gastroesophageal Reflux Disease.” (2018).
Katz PO, Dunbar KB, Schnoll-Sussman FH, et al. “ACG Clinical Guideline: Diagnosis and Management of GERD.“ American Journal of Gastroenterology. 2022.
Gyawali CP, Fass R. “Clinical practice update on the diagnosis and management of GERD.“ American Gastroenterological Association.