Comscore Tracker

Sunat Menurunkan Risiko Infeksi Saluran Kemih

Laki-laki wajib tahu

Dear parents, apakah pernah melihat buah hati bolak-balik kamar mandi untuk buang air kecil? Kalau dihitung, lebih dari tujuh kali dalam sehari? Patut diwaspadai, mungkin itu pertanda infeksi saluran kemih!

Untuk meningkatkan awareness, Thursday Parenting Class kali ini mengangkat tema "Si Kecil Sering Buang Air Kecil? Waspada Infeksi Saluran Kencing" yang disiarkan secara live di Instagram @childlife.id pada Kamis (28/7/2022).

Pembicara yang dihadirkan ialah dr. Ria Yoanita, SpA, dokter spesialis anak. Moms and dads, simak penuturannya, yuk!

1. Frekuensi buang air kecil yang normal adalah 3-7 kali per hari

Menurut dr. Ria, sebagian besar anak telah mencapai kematangan berkemih di usia 3–4 tahun. Pada usia tersebut, mereka rata-rata sudah bisa menahan atau menunda berkemih. Itu pertanda toilet training-nya sukses.

"Nah, frekuensinya berapa sih? Sekitar 3–7 kali per hari. Namun, di bawah usia itu, karena belum bisa mengontrol otot-otot dan sarafnya, maka biasanya anak-anak akan lebih sering pipis atau mengompol. Mungkin, frekuensinya lebih dari tujuh kali," jelasnya.

2. Penyebab anak sering buang air kecil

Sunat Menurunkan Risiko Infeksi Saluran Kemihilustrasi anak minum air (pixabay.com/nickelbabe)

Ada beberapa penjelasan mengapa anak sering buang air kecil, mulai dari yang sepele hingga serius. Dokter Ria menjabarkan satu per satu:

  • Minum dalam jumlah banyak.
  • Diabetes melitus (dengan gejala lain seperti mudah lapar dan sering merasa haus).
  • Stres.
  • Menggunakan obat-obatan diuretik (yang merangsang produksi urine).
  • Infeksi saluran kemih.

3. Infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri atau mikroba

Infeksi saluran kemih disebabkan oleh bakteri atau mikroba yang tumbuh dan berkembang biak di dalam saluran kemih. Menurut dr. Ria, yang paling sering menyebabkan infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli, bakteri yang ditemukan di usus besar.

"Jadi, kumannya sebenarnya berasal dari pencernaan. Kemudian berpindah tempat ke saluran kemih. Yang membuat bakteri ini berpindah tempat adalah cara menceboki anak-anak yang salah," ia menerangkan.

Baca Juga: Kenali Penyakit Urine Sirup Maple, Mengubah Kencing Jadi Berbau Manis!

4. Gejalanya sangat bervariasi

Sunat Menurunkan Risiko Infeksi Saluran Kemihilustrasi anak menahan mual (pexels.com/Victoria Borodinova)

Gejala infeksi saluran kemih pada anak sangat bervariasi, tergantung usia, intensitas atau derajat reaksi peradangannya, serta letak infeksinya. Dokter Ria mengatakan bahwa gejala infeksi saluran kemih bawah lebih ringan daripada yang atas.

"Kalau berdasarkan usia, pada anak-anak usia 1–4 tahun, kebanyakan mengalami gejala saluran cerna seperti muntah, diare, sampai dehidrasi. Juga bisa mengalami demam yang sangat tinggi yang bisa memicu kejang," tuturnya.

Sementara itu, pada anak yang lebih besar mungkin mengalami nyeri kencing, anyang-anyangan, sakit perut, sakit pinggang, serta kencing sedikit tapi sering.

5. Risiko infeksi saluran kemih turun jika melakukan sunat

Sunat, khitan, atau sirkumsisi adalah prosedur pengangkatan kulit (kulup) yang menutupi ujung penis. Dokter Ria mengutip sebuah studi yang mengatakan bahwa risiko terjadinya infeksi saluran kemih pada laki-laki yang tidak disunat meningkat 3–15 kali lipat.

"Ini karena ada penumpukan kuman di ujung penis, sehingga gampang mengalami infeksi. Itu bisa menyebabkan anak lebih sering terkena infeksi saluran kemih berulang. Memang tindakan sirkumsisi pada anak laki-laki terbukti efektif dalam menurunkan insiden atau kejadian infeksi saluran kemih," tutupnya.

Baca Juga: Sering Kencing di Malam Hari? Mungkin Itu Pertanda Nokturia

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya